ceritanetsitus karya tulis, edisi 169 senin 090105 

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

Aku tidak tahu bagaimana aku harus menyebutmu? Teman, kenalan, famili, sahabat, kekasih, kakak atau seorang yang sungguh-sungguh asing. Aku memang mengenalmu dan mengetahui dirimu sejak pertemuan itu. Pertemuan yang terus mengalami pemaknaan. Pertemuan yang tidak harus menyejajarkan muka. Pertemuan itu mengabadikan kenangan yang tak seorang pun akan bisa mudah melupakannya.Monolog Sudut Hening, Gendhotwukir

pecahan kaca dalam air mata - menitikan racun dalam gamang - menyibakan luka-luka seperti terbawa ombak -
kepedihan yang teramat menganiaya sudah singgah dalam senja
Badai Anak Nelayan, Bambang Saswanda

sejenak
dari ritme kerja yang mendesak seluruh otot dan otak
menghirup setiap tarikan nafas
dari kesejukan
walau dingin menggigit tulang belulangku

Embun Bandung, Rama Yunalis Oktavia

Kasus Sintong berbuntut panjang, seperti yang kuduga. Malam itu Sintong masuk rumah sakit, keluarganya menuntut Mbah Hudi dan tensi darah Mbah Hudi mendadak naik. Untung tidak stroke. Mbah Hudi seperti terhempas dari tungku peradaban. Ia benar-benar terpukul. Mbah Maryuni, istri Mbah Hudi menangis. Ia menyesalkan peristiwa itu. Maling dan Ustadz, Imron Supriyadi

ceritanet©listonpsiregar2000