ceritanetsitus karya tulis, edisi 169 senin 090105

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

cerpen Monolog Sudut Hening
Gendhotwukir
: Buat Theresia Novita Hapsari

Aku tidak tahu bagaimana aku harus menyebutmu? Teman, kenalan, famili, sahabat, kekasih, kakak atau seorang yang sungguh-sungguh asing. Aku memang mengenalmu dan mengetahui dirimu sejak pertemuan itu. Pertemuan yang terus mengalami pemaknaan. Pertemuan yang tidak harus menyejajarkan muka. Pertemuan itu mengabadikan kenangan yang tak seorang pun akan bisa mudah melupakannya. Kita begitu terperanjat dalam derak kata-kata yang mengalir begitu saja. Sepertinya kita ini berdiri di atas bukit dan berlari menuruninya. Kita berlari dan mengungkapkan setiap geliat luka dari waktu purba. Waktu purba yang tak seorang pun mau mengalaminya lagi.

Tentang kamu, aku hanya memahami kadang engkau selalu tidak bisa diam pada tengah malam dan lalu terjaga. Terjaga untuk segera memporak-porandakan catatan harianmu. Melepaskan setiap kepenatan, kejenuhan, kekecewaan, dan keresahan di deretan kata-kata yang dirangkai dari tanda tanya, tanda seru dan deretan titik-titik.

Tentang kamu, aku hanya tahu bahwa kesepian itu melandamu saat-saat engkau seorang diri. Seorang diri yang lantas hanya bisa bicara dengan catatan harianmu. Engkau suka menyudut di kata-kata yang berputar dan melintaskan pelangi suram dari selatan sehabis hujan.

Tentang kamu, aku hanya tahu bahwa engkau begitu jauh namun entah kenapa begitu dekat juga. Jauh dalam bentangan samudra atau bahkan benua, tetapi begitu dekat dalam setiap pengalaman yang kita jajarkan dan deretkan di antara rak-rak buku.

Tentang kamu, aku hanya tahu bahwa kejujuran itu termaknai tatkala ingin memulai sesuatu yang baru. Sesuatu yang tak seorang pun akan mengerti mengapa harus segera dimulai. Bukan kesadaran yang tertunda yang menyebabkan setiap kenangan itu terlambat datang, tetapi karena kadang gerak rasa yang begitu telah membatu dan menghitam untuk menerima sesuatu yang baru.
***

Tak ada yang istimewa ketika kita sama-sama sibuk menggauli waktu purba. Waktu purba begitu riuh dan memar dalam bilur-bilur pucatnya. Kita menjadi kelut di antara jejak-jejak maut mericoki lumpur-lumpur hitam. Merucut. Tak ada yang istimewa karena setiap perjalanan baru setidaknya berawal dari cara menapaki dan menggenggam kekurangan-kekurangan yang ada yang bertebaran di antara kita. Kita ini kawanan yang tidak akan pernah mampu membangun menara babel abadi, justru karena kita tidak terbuat dari baja dan batu-batu hitam. Kita hanyalah debu dan tanah rapuh. Kembali ke kerapuhan.

Tentang kamu yang menyimpan setiap kecemasan di keningmu, tebarkanlah segera di antara persemaian. Lesapkan ke dasar bumi. Samadi. Membumi dan mengunci setiap laskar bumi yang siap menjanji. Sudah saatnya sejenak berhenti. Menghentikan setiap kelana kesana-kemari. Mencuci diri dan mengunci lemari, panci hingga laci-laci di pematang yang kian remah berkanji.

Sungguh, tak pernah kumengerti ketika kau begitu ricuh dengan badai dan riuh dengan waktu yang menjeratmu. Waktu sepertinya menjelma menjadi hidup dan hidup itu adalah waktu. Waktu yang terus kau telan habis-habis hingga larut malam. Sibuk. Sesibuk jejalan kaki-kaki di trotoar di kotamu. Kota penghuni waktu. Kota yang telah tergadai pada waktu. Terpenjara dalam waktu.

Tengoklah jam dinding di kamarmu atau liriklah juga jam di lenganmu. Kau meringkuk di sana. Waktu yang terus bergulirdan kau begitu sembab di dalamnya ketika mengikuti setiap aliran detik, menit dan jam. Waktu yang sepertinya ingin kau lumatkan dalam goresan tangan dan langkah-langkah kakimu. Nafas tidak akan pernah panjang, tak usah berlari kencang.

Tidak adakah saat untuk membiarkan waktu itu mengalir begitu saja. Setiap kita perlu diam atau bahkan bergerak di luar kemauan waktu yang terus memburu. Janganlah membiarkan setiap kesempatan yang tak pernah datang dua kali itu. Bukan kesempatan memenuhi waktu, melainkan kesempatan melahirkan rindu.
***

Udara begitu gigil. Menggigilkan jajaran buku-buku di rak kamarku. Kamar yang tak menyisakan saat untukku mendengkur. Membuka mata berarti menanam judul-judul buku di kelopak mataku. Judul-judul bermata ganda dalam pengertiannya. Buku-buku bukan dalam bahasa ibuku. Aku ingin menyentuhnya dan membacakannya untukmu.

“Ada masa dimana hidup perlu sekali perubahan. Pergantian. Seperti musim. Musim semi kita sangat menyenangkan, tapi musim panas sudah berlalu. Kita tidak menikmati musim gugur, kini tiba-tiba udara begitu dingin. Begitu dingin hingga semuanya beku. Begitu dingin. Cinta kita terlena dan salju mengejutkannya. Tapi jika kau terlena di atas salju, kau tak akan sadar kematian,” (Paris, Je t´aime).

Aku begitu terperanjat saat engkau hanya bisa diam dan mengubah wajahmu menjadi bunga layu atau tiba-tiba menjadi seekor harimau yang garang. Diam yang memendam amarah dari masa lalu. Selama engkau tidak bisa memaafkan dirimu sendiri, engkau tidak akan bisa memaafkan orang lain.

Oh, is there any difference! How can we be concerned with the past and not with the future? Or not with the future and not with the past? What I am telling you is very important. You must let me explain, and then you can talk. I don´t know why, but just this evening I fell an overwhelming need for explanation – but perhaps I only dream that I am talking and shall wake to find that I have been silent or talked to the stone deaf: and the others seem to hear something else than I am saying. But if you want to talk, at least you can tell me something useful,” (Harry, In: T.S. Eliot, The Family Reunion).

Kita berguguran saat kata-kata menjadi diam dan tak menyiratkan makna. Betapa susahnya kita menanamkan kepercayaan. Dengan gampang kita mengatakan ya tapi justru tidak yang terjadi. Kita menjadi kelu saat-saat orang bermain kata-kata di ujung bibirnya. Lidah manusia bercabang seperti lidah ular. Apakah tidak lebih baik berkata tidak untuk sesuatu yang tidak pasti. Entah kenapa juga aku begitu peduli, mungkin karena kita telah melibatkan rasa dalam setiap kata-kata yang kita lemparkan dari ujung negaramu dan negaraku.

Vor allen Göttern in des Jahres Reihn. So stumm, so staunend lernten wir zu beten – nun sind wir in den dritten Kreis getreten, Das Jahr ist reif, di Blätter wurden Wein, und was nicht reifte, schläft in kahlen Beeten des alten Sommers unter Schleiern ein – sie könnten von den blinden Fäden sein, die eben deinem Schrift vorbei verwehten. Ein neu Gesicht hat sic zu uns gesellt. Aus finstren Schatten lacht es braun und bunt, dies ist Autumnus, der den Apfel hält. Rot wirbelts um ihn, gelber er di welt. Die Traube schwillt um seinen schweren Mund (Raudolf Borchardt, 1913 In: Autumnus)
***

Mungkin kadang kita harus bertanya mengapa setiap kali kita berjalan kearah tertentu dan entah mengapa juga tujuan keseluruhan tak pernah ditanyakan. Kita hanya tahu saat semua berakhir di sebuah kamar sepi dan mendadak menjelma menjadi sebuah perkotaan yang ramai. Penat dan sesak. Kita menjerit. Melelehkan bulir-bulir penyesalan di ujung mata kita seiring hujan yang lebat di luar sana. Terbaring. Telungkup. Menghempaskan setiap gelora pada guling kusam.

Kita begitu riuh dengan geriap. Kita tak pernah tahu saat mana kita tersesat. Kita tak pernah tahu saat mana kita terjerumus. Kita tidak pernah sadar saat mana kita membelah. Kita tidak tahu saat mana kita menelan racun. Saat mana kita tidak tahu saat mana.

Kita berjalan ke utara. Berbelok ke kanan lalu melalui jembatan. Sampailah kita di sebuah pertigaan. Jalan sempit. Dan akhirnya sampai di perempatan yang sembab dengan lampu-lampu lalu lintas di sebelah kanan dan kiri. Hari yang diperlombakan untuk terus berlari.

Setiap kita menuju sesuatu yang ideal. Tapi bukan berarti menjadi perfectionist. Betapa suramnya dunia jika demikian. Dari ribuan kalimat yang beterbangan di kamar ini, aku hanya menangkap sebuah kejujuran betapa kalutnya makna itu. Menempatkan standar tinggi pada diri sendiri, dan sering pada orang lain, menginginkan segala-galanya pada urutan yang semestinya sepanjang waktu. Sepanjang waktu, ya sepanjang waktu. Ngeri bukan jika kita demikian!

Dan aku kira ada yang tersesat dalam benak pikiranmu dalam mengurai setiap ziarah hidupku. Mencari yang ideal dalam hidup merupakan tujuan yang positif, tapi satu hal yang kuingat bahwa kita tidak akan menemukan orang yang sempurna. Jika aku lupa ingatkanlah, “Tidak segala-galanya dalam kehidupan bisa sempurna, jadi santai saja!”

Tahukah kamu mengapa setiap aku hendak menutup pintu rumahku di dunia maya, engkau merasa kehilangan? Kamu ingin tahu itu? Segeralah berlari ke kamarmu yang sepi dan tanyakan pada dirimu karena aku tidak akan pernah memberikan setiap jawab yang tak mungkin kutemukan di kamar batinku. Jangan tanya pada google atau buku-buku di kamarmu, tapi tanyakah pada pustaka rasa di hati nuranimu. Aku hanya ingin mengatakan kembali satu kalimat pengantar langkah-langkahmu berjalan ke utara dari seseorang yang berbunyi demikian, “Rasa kehilangan hanya akan ada, jika seseorang pernah merasa memilikinya.”
***

Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi denganmu. Setiap kata yang kukirimkan kepadamu terkulai di perempatan. Perempatan yang menandakan lampu merah dan diderai hujan desember yang kian lebat saja. Waktu sepertinya terus bisu dan tidak menggerakkan setiap jejalan harap dan keluh kesah di keningmu. Waktu ini pula yang sebenarnya telah menelantarakan kita pada diam semusim ini. Diam yang menggeliat setiap kita berbicara tentang harapan dan kecemasan.

Diam begini menelantarkanku pada baying-bayang tubuhmu yang terkulai seorang diri tak ditemani. Seorang diri menatap dinding dan langit-langit ruang berbau obat-obatan. Tidakkah engkau berjanji tidak akam pernah mengunjungi ruangan itu lagi? Ruang yang membiarkanmu selalu mengurai setiap pertanyaan tentang hidup ke depan, bahkan hidup setelah kematian.

Aku diam dan sesekali melemparkan senyum. Engkau diam saja. Tidakkah kau mengerti arti sebuah penantian? Penantian adalah rajutan debar. Debar yang terkungkung dalam dinding sepi dan tak seorang pun akan menangkap resonansi. Aku adalah setiap kecemasan yang tumbuh setelah kau biarkan berkelana dalam kegundahan. Dimanakah setiap kecemasan seharusnya berlabuh? Berlabuh di sudut ruangmu yang kosong itu ataukah di temaram kata-kata yang berjejalan di setiap baris buku-buku baru?

Setiap kita telah menebar debar. Debar pada pertemuan. Petemuan sunyi yang akan kita abdikan pada reruntuhan kota dari masa lalu. Membangun puing-puing menjadi sebuah ornamen pagi dengan pelangi di ujungnya. Dan jikalau kau begitu sulit memaknainya, biarkan aku mengejakan sebuah kalimat untukmu. Kalimat suci: Aku menunggumu di teras bandara atau di ujung terminal yang berpelangi. Kita bertemu!
***
Komunitas Merapi, Desember 2008

Badai Anak Nelayan, Bambang Saswanda

Embun Bandung, Rama Yunalis Oktavia

Maling dan Ustadz, Imron Supriyadi

ceritanet©listonpsiregar2000