ceritanetsitus karya tulis, edisi 169 senin 090105

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

novel Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

4. Dukungan Genesiss

Kasus Sintong berbuntut panjang, seperti yang kuduga. Malam itu Sintong masuk rumah sakit, keluarganya menuntut Mbah Hudi dan tensi darah Mbah Hudi mendadak naik. Untung tidak stroke. Mbah Hudi seperti terhempas dari tungku peradaban. Ia benar-benar terpukul. Mbah Maryuni, istri Mbah Hudi menangis. Ia menyesalkan peristiwa itu.

“Oalah Lif, gara-gara ulahmu, Mbahmu jadi darah tinggi. Sekarang Mbah kena tuntut,” Mbah Maryuni dalam isak tangisnya.

Entah harus beberapa kali aku mengehela napas. Ada seuntai penyesalan yang menelusup, tapi apalah artinya sebuah penyesalan. Ini harus kuhadapi, apapun risikonya! Aku meneguhkan sikap. Sebagian orang Desa Ganjar Agung tumplek di rumah Mbah Hudi malam itu. Aku benar-benar malu.

Esok harinya aku dijemput polisi. Tanganku diborgol. Keharuan tampak dari seribu wajah, yang tidak tahu latar belakang persitiwanya. Ada butiran embun yang menggelembung di sebagian pelupuk mata sebagian murid mengaji yang menyaksikan peristiwa pagi itu. Aku ingin menjelaskan pada mereka, tapi aku dibawa menjauh dengan tangan diborgol.

“Kuatkan hatimu 'nak. Saya akan tetap mendungkungmu,” Pak Santo memberi dorongan moral. Bu Wandi yang begitu acuh terhadapku malah seperti ibu yang akan kehilangan anaknya. Ia harus beberapa kali menyeka air matanya.

“Pak Ustadz, cepat kembali ya,” katanya dalam isak tangisnya yang terputus-putus.
“Yakinlah, tidak akan terjadi apa-apa. Semua ini ujian buat semua. Doakan saya, Bu.”

Kulirik Sintong di seberang jalan. Kepalanyaa masih dibalut perban. Sebuah pertunjukan hebat bagi mereka, pikirku. Sintong dan beberapa kawannya tersenyum puas ketika polisi menggelandangku ke mobil patroli dengan bak terbuka. Kusapu barisan kawan-kawannya; mencari mencari Rendy. Pagi itu dia tak terlihat.

Keluarga Sintong terlalu kuat untuk dilawan. Ayahnya orang penting di DPRD Tkt II, dan ada juga di pemerintahan propinsi. Wajar saja, dalam putaran waktu 24 jam saja langsung dilakukan penangkapan. Ayah Sintong sudah cukup kuat untuk mendesak polisi memproses kasus anaknya. Dan tak sampai sehari setelah kejadian, peristiwa ini tercium oleh wartawan yang nongkrong di DPRD. Komplit sudah desakan untuk menjeratku dengan pasal tindak kekerasan dan penganiayaan.

Sehari dalam terali tak pula aku rasakan sebagai penjara. Kucoba nikmati suasana tembok dingin Polsek Ganjar Agung. Aku ingat, orang-orang besar mengalami pengasingan. Bung Karno sempat diasingkan di Bengkulu. Bung Hatta, Buya Hamka. Bahkan tokoh agamawan sekelas Buya Hamka sempat menyelesaikan Tafsir Al-Azhar 30 Juz di dalam penjara. Memang kasus mereka bukan kasus kriminal, tapi paling tidak ketahanan batin dan mental mereka sedikit banyak memberikan inspirasi sekaligus memberi kekuatan batin.

“Kau jangan anggap urusan ini selesai sampai disini,” ucap Sintong saat menjenguk ke penjara. Seorang polisi memanggil dan meminta aku mengikut dia ke salah satu ruangan kantor dan di sana Sintong beserta 3 kawannya duduk menungguku. Dia masih menyimpan dendam dan tanpa ragu-ragu mengungkapkan secara terang-terangan, sambil pamer pengaruh di kantor polisi.

Aku diam. Kutatap matanya dengan tajam. Selagi darah masih mengalir, dan selama untuk kebenaran aku akan lakukan apapun, demi menjaga nilai-nilai kebenaran dan keadilan, batinku berjanji.

Tiga hari aku mendekam di penjara. Kabar yang kudengar dari temen-teman Genesiss, aku dibebaskan karena negosiasi ayah Kholis, salah seorang teman anak Genesiss. Ayahnya, Sekda Provinsi Lampung, berkenan juga menelepon ayah Sintong dan Kapolsel. Untuk sementara urusanku beres walau sebenarnya aku tak berharap upaya lain diluar prosedur hukum. Tapi teman-teman Genesiss tidak ingin aku terkurung di penjara.

Kkeluar dari penjara, aku kemudian memilih keluar dari keluarga Mbah Hudi. Aku tidak ingin beban Mbah Hudi bertambah-tambah. Sekaligus pula aku harus meninggalkan murid-murid mengaji di Desa Ganjar Agung. Dengan berbagai penjelasan, akhirnya Mbah Hudi merestui juga. Aku tidak tahu bagaimana kelak sikap ayah dan ibuku, jika mereka mengetahui kasus ini. Tetapi sebelum diborgol aku sudah berpesan pada Mbah Hudi agar tidak usah memberi tahu ayah dan ibuku. Aku tidak rela mereka terbebani dengan persoalan ini.

Sehari setelah bebas, teman-teman Genesiss berkumpul di kantin Mak Unah di belakang sekolah. Mereka kuaatir akan ada tindakan dari sekolah akibat aku terlibat kasus kriminal. Sukijan sebagai Pradana Pramuka di Al-Mizan berjanji akan mencoba membantu.

“Alif kan anggota Sispala dan Pramuka. Kita akan coba nego sama guru BP dan kepala sekolah, agar ada keringanan sanksi terhadap Alif.” Sukijan menjelaskan.
“Atau kalau bisa juga minta dukungan dari anak-anak ISMA—Ikatan Siswa Muslim Al-Mizan-- untuk ikut tanda tangan. Sebab kasus Alif ini kan bukan karena mencuri,” usul Rahmad.

Aku diam. Kegundahan, kegelisahan dan kekuatiran seketika muncul. Aku tidak ingin pihak sekolah melibatkan keluarga. Ayah dan ibuku tak perlu terlibat. Ini semua akibat perbuatanku, dan aku yang harus menerima segala akibatnya.

Esko harinya,anak-anak Genesiss kembali berkumpul di kantin Mak Unah selepas jam sekolah. Sukijan dan teman-teman dari Sispala dan ISMA kut hadir. Malah beberapa pentolan organisasi intra sekolah, seperti Palang Merah Remaja (PMR), dari para aktifis Karya Ilmiah Remaja (KIR) dan anak-anak Teater Al-Mizan datang. Ada sekitar 50 orang berkumpul di kantin.

Semua sepakat untuk membuat pernyataan sikap bersama, yang isinya agar pihak sekolah bisa memberikan keputusan yang bijak terhadap kasus yang menimpaku. Surat itu akan diantar langsung ke Kepala Sekolah dan ditembuskan ke Guru BP serta Wali Kekas. Usai penandatanganan sikap besama, anak-anak Genesiss tetap tinggal semetnara Rahmad dan Sukijan langsung meluncur ke sekolah. Surat akan diserahkan langsung Dengan harapan Kepala Sekolah, Pak Muhtar, masih di kantornya. Sselain menjadi Kepala Sekolah, Pak Muhtar juga menjadi salah satu dosen Universitas Al-Mizan Metro. Tapi di ruangan sekolah tidak ada. Di ruang dosen juga tidak ada.

“Kayaknya tadi saya lihat Pak Muhtar masih di dalam masjid,” ujar Pak Sembiring, satpam sekolah.

Tanpa buang waktu, Sukijan dan Rahmad meluncur ke Masjid Al-Hanief, yang dibangun atas bantuan mantan presiden Soeharto. Tepat, Pak Muhtar masih di dalam masjid. Sukijan dan Rahmad harus menunggu Pak Muhtar berdzikir dengan khusyuk.

“Ada apa?" Bagi Pak Muhtar, Sukijan dan Rahmad bukan orang asing karena Sukijan adalah pimpinan Pramuka dan Rahmad pimpinan Sispala. Ketiganya duduk melingkar.

“Bapak tentu sudah mendengar tentang Alif,” Sukijan mengawali pembicaraan.
“O, iya, gimana kabar Alif?”
“Dia baik, Pak. Hanya sedikit shock mungkin. Tapi tidak apa-apa, Pak. Alif bersama kami,” jelas Rahmad.

Sukijan dan Rahmad saling pandang. Keduanya saling desak agar segera mengajukan surat pernyataan dari beberapa organisasi intra sebagai bentuk dukungan terhadapku.

“Jadi apa mau kalian?”
“Kami sebagai teman Alif mengusulkan  kalau seandainya sekolah akan memberi sanksi kepada Alif, mohon kiranya dapat diperingan. Ini bentuk dukungan kami. Harapan kami berkas ini bisa menjadi bahan pertimbangan sekolah,” kata Sukijan sangat berhati-hati.

Pernyataan bersama memang harus diserahkan secepatnya. Sebab sekolah tidak akan mentolerir murid yang terlibat kriminal. Dalam setahun saja sudah tiga siswa yang harus dikeluarkan karena terlibat kasus narkoba dan pengeroyokan sopir taksi dalam aksi demo anti kenaikan ongkos anak  sekolah.
***

Monolog Sudut Hening, Gendhotwukir

Badai Anak Nelayan, Bambang Saswanda

Embun Bandung, Rama Yunalis Oktavia

ceritanet©listonpsiregar2000