ceritanetsitus karya tulis, edisi 169 senin 090105

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

sajak Embun Bandung
Rama Yunalis Oktavia

sejenak
dari ritme kerja yang mendesak seluruh otot dan otak
menghirup
setiap tarikan nafas
d
ari kesejukan
w
alau dingin menggigit tulang belulangku

dingin malam
dan tanah basah sisa hujan

terduduk
di
itemani temaram lampu yang meneduhkan mata

asap hangat dan sup pangsit
tawa dan obrolan masa lalu
penghangat malam
manis seakan gula
t
ak ingin rasanya malam beranjak

semakin malam
mata dan badan menahan dingin
hidangan tak bersisa
detik beranjak

 

Tanah Merah

pagi ini kupesan crysant ungu
dan mawar putih bersih, harum dan suci
kuselipkan lily kuning keceriaan

dan pita warna emas bersinar

aku sayang kau

sore ini kupilih gaun hitam
dan kacamata gelap pengusir silau

kubawa air sejuk
dan sebungkah rindu

kulihat bungaku
di atas tanah merah pusara

aku rindu kau
***

Monolog Sudut Hening, Gendhotwukir

Badai Anak Nelayan, Bambang Saswanda

Maling dan Ustadz, Imron Supriyadi

ceritanet©listonpsiregar2000