ceritanetsitus karya tulis, edisi 168 kamis 081204 

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

Beberapa hari ini aku selalu berbicara bahasa punggung. Kataku, punggung adalah anugrah dikala sepi, kemudian mencoba membelakangi kita. Entah setan apa yang merasukiku, menyelipkan beberapa kata-kata punggung dalam kosa kataku, dan menjejalkannya di ujung bibir. Mulanya aku hanya mengingat-ngingat kata punggung dalam otak, membatin punggung dalam hati, meletakkannya di langit-langit mulut, mengucapkannya dengan bisik paling lirih, kemudian volumenya meningkat, dan meningkat, dan meningkat lagi, kemudian lagi, seterusnya, sekerasnya. Obsesi Punggung, Nisa Ayu Amalia

Mobil suamiku tabrakan dengan truk besar di simpang jalan. "Akkhhhh!," jeritku dan tersentak dari mimpi buruk dengan sekujur tubuh berkeringat. “Ada apa, Ma?” tanya Happy, putriku yang berusia 8 tahun. Dia tertidur tepat di sampingku.
“ Tidak apa-apa, sayang,” kataku lembut menenangkannya dan dia tidur kembali, juga aku. Namaku Rene, perempuan miskin yang berpacaran dengan putra tunggal keluarga konglomerat. Dialah suamiku; Rinaldy. Pagi tiba dan kringgg... Aku sedang masak di dapur menyiapkan bekal untuk Happy. Segera kuangkat telepon; "Halo." Ternyata telepon dari kantor polisi. "Ya. Rinaldy suami saya." Terimakasih ke Mama, Juliana Wen

Di Desa Ganjar Agung yang dihuni oleh berbagai paham dan golongan agama, aku harus bisa masuk dari berbagai pintu guna bergaul dengan mereka. Sejak awal, aku tidak pernah mempersoalkan hal-hal yang akan menjadi perdebatan panjang, tapi lebih memilih pada pendekatan sosial. Aku suka mengingat yang dikatakan Amien Rais tentang Tauhid Sosial. Menurut Amin, seharusnya umat Islam bukan memperdebatkan persoalan-persoalan khilafiyah yang tidak akan ada habisnya sampai hari kiamat, tetapi unsur kemanusiaan yang harus dikedepankan. Maling dan Ustadz, Imron Supriyadi

ceritanet©listonpsiregar2000