ceritanetsitus karya tulis, edisi 168 kamis 081204

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

cerpen Obsesi Punggung
Nisa Ayu Amalia

Beberapa hari ini aku selalu berbicara bahasa punggung. Kataku, punggung adalah anugrah dikala sepi, kemudian mencoba membelakangi kita. Entah setan apa yang merasukiku, menyelipkan beberapa kata-kata punggung dalam kosa kataku, dan menjejalkannya di ujung bibir.

Mulanya aku hanya mengingat-ngingat kata punggung dalam otak, membatin punggung dalam hati, meletakkannya di langit-langit mulut, mengucapkannya dengan bisik paling lirih, kemudian volumenya meningkat, dan meningkat, dan meningkat lagi, kemudian lagi, seterusnya, sekerasnya. Hingga ini menjadi suatu sistematika yang secara otomatis kuulang, mengulang dan terus berulang.

Aku bukan hanya mengingat secara skematisasi apa yang ada di otakku, di hatiku, atau di mulutku. Seringkali tanganku menghapalnya, bila aku memegang sesuatu, seperti bolpen, pensil atau semacamnya aku akan memakai tangan kananku, menggerak-gerakkan pergelangan tanganku, memutar-mutarnya, dan jemariku mulai mengguratkan secara periodik satu persatu huruf-huruf.

Huruf-huruf itu akan disusun dan ditulis tegak bersambung, begitulah sebutan guru-guru SD ku untuk jenis tulisan itu. Huruf-huruf dalam tulisan itu adalah Pe-U-eN-Ge-Ge (lagi)-U-eN-Ge (yang terakhir).

Gerakan tanganku tidak hanya aku lakukan saat aku memegang sesuatu, namun juga saat tidak memegang sesuatu. Kata karibku seperti mengibas angin. Mengibas angin? Benarkah? Ah iya... angin akan selalu berarak di sisian punggung, layaknya harapan. Entah itu hanya pemikiranku, lebih tepatnya perasaanku. Mungkin.

Punggung telah memasuki ceruk-ceruk paling dalam alam pikirku, untuk saat ini hati dan bahkan merambah ke hidupku. Mulai kapan itu terjadi? Mulai kapan... ya.. mulai kapan... itu terjadi ketika aku tanpa sengaja mengintip dari balik jendela kamarku, sekelebat punggung elok tampak melewati lorong rumah sebelah. Punggung itu dan aku hanya terpisah oleh dua bilah kaca, dan taman ilalang. Punggung itu berwarna abu-abu. Teringat, abu-abu adalah warna kesukaan seseorang yang kusuka. Inilah inisiasi awal antara punggung, abu-abu, kemudian Irish. Sebuah inisiasi yang memiliki rantai panjang, hingga mencapai pusat tertentu, dan pusat itu adalah Irish.

Ini seperti perpaduan mata rantai inisiasi Pavlov* yang mengaitkan daging, bel dan saliva anjing. Hmmmm... mata rantai yang unik, Irish, abu-abu, kemudian punggung. Hanya gara-gara aku melihat punggung abu-abu, dan Irish. Aku mempunyai perilaku otomatis terkondisi, macam anjing Pavlov yang mengeluarkan air liur ketika mendengar suara bel. Dari teknik belajar Pavlov, inisiasi punggung kemudian digeneralisasi ke punggung-punggung lainnya seperti konsep belajar Bandura**.

Perilaku yang ingin tahu punggung abu-abu, menggeneralisasi ke perilaku-perilaku lain, tidak hanya puas melihat punggung abu-abu. Aku mempunyai hasrat yang tak tertahan melihat punggung jingga, punggung merah muda, punggung biru, punggung hijau... tidak hanya melihat, aku juga mulai membatin dalam hati, memimpikan dalam tidur bahkan mengigau, menulis-nulis huruf punggung sampai mengasosiasi segala hal dengan punggung. Rupanya aku benar-benar terobsesi dengan punggung.

Seorang temanku, dokter di rumah sakit kota kami, mengatakan punggung adalah bagian tubuh yang vital ke dua setelah otak, di bagian punggung ada jaringan-jaringan halus yang dinamakan sumsum tulang belakang. Sekali berbuat macam-macam dengan jaringan ini, maka kelumpuhan taruhannya. Punggung yang mengingatkanku padamu ini, mempunyai korelasi yang kuat seperti layaknya sumsum tulang belakang dan kelumpuhan. Mengapa? Karena ingatanku akan punggung seperti layaknya suatu nafas kehidupan bagiku. 

Ingatan dan segala sesuatu tentang punggung posisi nya seperti saling menggantikan, bisa mensubstitusi Irish. Oleh sebab itu bila ingatan tentang punggung tercerabut, maka dapat dipastikan jiwaku akan menderita. Lumpuh. Dan bila itu semua tejadi, maka kehidupanku pun segera saja mati dengan mudah.

Aku mengingat setiap detail punggung itu seperti halnya aku mengingat detail warna abu-abu, dan tentu saja ketika aku mengingat Irish. Keterkaitan antara abu-abu dan Irish adalah saat Irish mengatakan bahwa di dunia ini tidak ada warna yang mutlak hitam ataupun mutlak putih. Dan Irish pun menyebut, warna yang ada adalah gradasi warna abu-abu. Sebuah percampuran antara hitam dan putih.

Irish, abu-abu dan punggung adalah ikatan Pavlov, mungkin begitu penjelasannya. Irish selalu mengatakan bahwa dunia berwarna abu-abu, sama seperti suatu pemasangan stimulus yang tidak terkondisi dengan respon yang tidak terkondisi lainnya. Suatu rantai pemasangan awal. Tapi kemudian sumber eksternal, orang menyebut dengan Tuhan, Allah, Tuhan Bapa, Hyang Widhi atau apapun itu sebutannya mencoba mengusik pasangan itu. Dia menambahkan satu pasangan mata rantai lain dengan menggabungkan abu-abu, yang notabene warna yang selalu Irish sebut-sebut, dengan punggung. Anehnya bukan punggung milik Irish, tapi punggung milik orang lain.

Kembali pada punggung abu-abu yang kulihat, ternyata itu adalah milik seorang pemuda, yang di hari-hari khusus akan melakukan aktivitas kegemaranku. Memakai kaus abu-abu, berjalan sekelebat di lorong sebelah, kemudian menampakkan diri di belakang jendela rumahnya, yang dengan suatu metode tertentu dari Tuhan, diposisikannya jendela rumahnya dengan jendela rumahku di sebuah jalur vertikal dibatasi kebun ilalang yang tidak terlalu tinggi posisinya.

Biasanya di hari-hari, Selasa, Kamis dan Minggu sore, menjelang Maghrib, bayangan itu akan berkelebat, kurang lebih jam empat kurang seperempat. Setelah kuhitung, kelebat punggung abu-abu kurag lebih berlangsung selama delapan sampai sepuluh detik. Selama itu aku tidak pernah tahu wajah si pemilik punggung.

Ah.. tapi entah, mungkin karena proses pembiasaanku yang terlanjur meng-inisiasi antara punggung, abu-abu dan Irish, aku menjadi merunut-runut sendiri wajah-wajah punggung yang aku temui. Dan perbendaharaan wajahku seketika itu hanya berisi tentang Irish. Sebenarnya aku sama sekali tidak merindui punggung Irish. Aku hanya merindui pandangan-pandangannya tentang hidup, tentang penggeneralisasian logika-logikanya.

Oh... Irish...
Shadow of  you like a special dish
Maybe it’s a little miss
Please don’t be tease***

Setelah bait sajak itu, aku hentikan pena, dan ah... apakah sudah sebegitu parahnya aku merindui Irish? Dan abu-abu? Bahkan punggung juga?
***

Sby, 111108

*. Pavlov : Ivan Pavlov tokoh Psikologi yang memperkenalkan Teori Belajar dengan aliran Classical Conditioning.
**. Bandura : Albert Bandura tokoh Psikologi yang memperkenalkan Teori Belajar dengan aliran Operant Conditioning.
***. Terjemahan : Oh Irish, bayanganmu bagaikan santapan yang menggiurkan, mungkin ini hanya sebagian kecil dari rindu, tolong jangan berbohong.***

Terimakasih ke Mama
Juliana Wen

Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

ceritanet©listonpsiregar2000