ceritanetsitus karya tulis, edisi 168 kamis 081204

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

cerpen Terimakasih ke Mama
Juliana Wen

2008
Srett... Bam!

Mobil suamiku tabrakan dengan truk besar di simpang jalan.

"Akkhhhh!," jeritku dan tersentak dari mimpi buruk dengan sekujur tubuh berkeringat.

“Ada apa, Ma?” tanya Happy, putriku yang berusia 8 tahun. Dia tertidur tepat di sampingku.
“ Tidak apa-apa, sayang,” kataku lembut menenangkannya dan dia tidur kembali, juga aku.

Namaku Rene, perempuan miskin yang berpacaran dengan putra tunggal keluarga konglomerat. Dialah suamiku; Rinaldy.

Pagi tiba dan kringgg...

Aku sedang masak di dapur menyiapkan bekal untuk Happy. Segera kuangkat telepon; "Halo."

Ternyata telepon dari kantor polisi. "Ya. Rinaldy suami saya."

Aku terdiam dan terperangah. Otakku kosong, mataku nanar tak bisa melihat yang ada di depanku. Telepon itu memberitahu suamiku meninggal dalam kecelakaan. Mimpiku menjadi kenyataan.

Kutarik Happy menemui keluarga suamiku.

“Kumohon, ijinkan aku mengantar kepergian suamiku untuk terakhir kalinya…” pintaku sambil menangis terisak-isak memohon pengertian ibunya Rinaldy.
“Kamu pikir kamu itu siapa?” kata mertuaku sinis lalu menghempaskan genggaman tanganku dan berjalan menjauh. "Gara-gara dia menikahimu, hidupnya jadi berantakan dan sekarang semuanya hancur. Ini tidak akan terjadi kalau dia tidak bertemu denganmu.”
“Ma…” panggil Happy dan berjalan ke arahku, memelukku.
“Tapi bu, ini anak Rinaldy dan dia juga ingin bertemu dengan papanya," mohonku masih dengan berlinang air mata.
“Bawa pergi anak haram itu dan jangan pernah menginjakkan kaki ke rumah ini lagi,” hardik Monica, kakak Rinaldy dari belakng. .
“Aku bukan anak haram!” teriak Happy. Aku kaget dan bangga. Anak sekecil itu sudah memberontak pada penghinaan besar. Kupeluk Happy erat sekali, kucium ujung kepalanya dan kukirimkan seluruh sisa cintaku.

Aku hanya anak perempuan miskin, dan Happy anaknya anak perempuan miskin. Kami diusir dengan kasar dan tidak berhasil mengantar kepergian Rinaldy untuk terakhir kalinya.

Sampai di rumah, aku duduk di kursi dengan mata membengkak. Happy menatapku dengan wajah cemas.

“Ma, jangan ke rumah nenek lagi ya, mereka semuanya orang jahat,” pintanya.

Aku sangat sedih dan memeluk buah hatiku itu sambil menangis lebih terisak. Sungguh sangat merasa bersalah tidak bisa melakukan sesuatu untuk Happy.
***

Hari-hariku berjalan dengan kesepian tanpa suami.

Suatu hari yang panas aku menjemput Happy dari sekolah seperti biasa. Dari kejauhan aku lihat dia sedang berkelahi dengan teman-temannya. Kutahan bara marahku dalam perjalanan pulang.

Plak! Aku memukul bokong Happy dengan rotan panjang begitu sampai rumah.

“Ah!” jerit Happy kesakitan. Sebenarnya aku juga sedih dan sakit tapi Happy tak boleh berkelahi dan aku memukulnya lagi.
“Kenapa berkelahi? Memangnya Mama suruh kamu berkelahi?”
“Ampun, Ma” pinta Happy sambil menangis dengan keras.
“Sia-sia Mama menyekolahkanmu, kamu pikir untuk apa, Untuk berkelahi, hah?” kulepas marahku sambil meneteskan air mata dan tanganku seperti tak terkendali lagi terus memukulnya.
“Mereka bilang aku anak janda.” teriak Happy sambil terus menangis.

Kuhentikan pukulanku, dan kutarik dia, kupeluk sekuat mungkin tak mau melepaskannya.

“Aku mau ikut pentas drama hari ibu, tapi mereka bilang aku tidak boleh. Aku anak janda, jadi tidak boleh ikut,” suaranya terhambat pelukanku. Air mataku menetes ke kepalanya.
“Memang apa bagusnya ikut drama? Hah? Coba bilang!” teriakku marah dan membanting rotan panjang ke lantai.
“Karena Happy tidak punya uang beli kado untuk mama, jadi mau ikut drama... hadiah hari ibu untuk mama,” kata Happy sambil terisak-isak.

Aku menjadi tambah sedih dan tangisku makin keras.

“Ma, janji akan jadi anak baik. Aku...aku... tidak akan berkelahi lagi. Jangan pukul lagi ya Ma. Sa..sakittt,” pintanya.

Kulonggarkan pelukanku dan kulihat pantat dan kaki bagian atas Happy memerah. Cepat-cepat kupeluk lagi dia, kuat, kuat sekali. Aku tak mau melepaskan pelukanku, aku tak mau kehilangan Happy. Tinggal dia yang kupunya.
***

Hari ibu tiba dan Happy boleh juga ikut drama. Segala sesuatu berjalan dengan baik. Aku ingin segera menyelesaikan pekerjaan rumah dan melihat drama itu.

Kringg!! Kutatap dingin telepon itu. Entah kenapa perasaan itu muncul lagi, perasaan ketika mendengar kabar tentang Rinaldy. "Halo."

Perasaanku benar; dari klinik tempat aku pap smear 3 hari lalu; aku diserang kanker rahim dan sudah stadium akhir. Aku pergi ke klinik bertemu dengan dokter, bukan menonton drama Happy. Dokter memvonis hidupku tinggal 3 bulan lagi.

Otakku kembali kosong, mataku kembali nanar tak bisa melihat yang ada di depanku. Hanya wajah Happy yang memenuhi semua horison pandangan. Happy, Happy, dan Happy. Bagaimana dengan Happy? Siapa yang menjaga Happy? Bagaimana dengan Happy selanjutnya? Aku langsung ke rumah mertuaku, melanggar janji bersama Happy bertemu dengan Monica, kakak Rinaldy.

“Bagaimanapun Happy darah daging Rinaldy, keponakan kandungmu. Kalian hanya membenciku jadi tidak masalah kalau Happy kuserahkan pada kalian.”
“Tapi melihat dia hanya akan membuat kami teringat padamu.” Monica bersikeras menentang..
“Kumohon, Happy anak yang baik dia pintar. Dia selalu juara kelas. Dia juga pandai menyanyi dan ikut paduan suara sekolah. Walau masih 8 tahun, tapi dia sudah banyak koleksi piala di rumah..”
“Sudah, sudah, kamu ini terus mempromosikanya,. Kalau bukan karena sebentar lagi akan mati, apa kamu mau menyerahkan dia?” marah Monica .”Tapi baik, aku akan membesarkannya, dengan 1 syarat.”
“Apa?”
“Jangan muncul di hadapannya, walaupun sedetik. Jika kau tidak jadi mati atau hidupmu lebih lama jangan pernah berpikir untuk muncul kembali.”

Kutatap sorot mata Monica, wajahnya persis seperti iblis dalam cerita-cerita kuno. Iblis yang rela mengorbankan ibunya sendiri demi sepercik berlian. Tapi kembali mataku nanar dan hanya Happy yang terlihat. Happy, Happy, dan Happy.

Aku bergegas ke sekolah dan drama sudah hampir selesai. Hatiku masih berantakan dan kuminta pada gurunya supaya aku berdiam di belakang panggung saja. Melihatnya tanpa harus dilihatnya.

“Maafkan Mama, nak. Mama juga terpaksa. Mama harus lebih kejam supaya kamu mau ikut dengan nenek.”
***

“Ma, aku pulang” kata Happy,

Aku pura-pura duduk menonton TV walaupun mataku nanar tak melihat apapun di layar TV.

“Tadi kenapa tidak menjemputku. Aku menunggu sangat lama.?” tanyanya lagi. Melihat aku tak menjawab, “Mama sibuk ya? Tadi guru bilang tidak sempat kasih bunga di sana juga boleh di rumah,” kata Happy dengan wajah berseri-seri. Dia mengeluarkan setangkai mawar dari tasnya; “Selamat Hari Ibu,” dan menyerahkan padaku.

Aku melihat bunga itu lalu menatap Happy. Tidak, dia tidak boleh terlalu menyayangiku. Aku sudah mau meninggalkannya. Aku lalu mencampakkan bunga itu ke lantai.

“Kenapa dibuang?”tanya Happy memelas.
“Karena mama tidak suka,” teriakku sambil menahan air mata. Dadaku terasa sesak. “Dan lagi besok nenek akan membawamu pergi. Jadi siap-siaplah,” kataku berdiri bergegas ke kamar.
"Aku tidak mau... Nenek jahat... Aku tidak mau... Aku mau Mama” teriak Happy histeris.
“Jangan teriak," teriakku lebih keras. “Mama sudah tidak sayang lagi sama kamu, jadi sekarang kamu ikut nenek saja,” sambungku dengan nada membentak.
“Aku tidak mau….” Happy histeris dan berlari ke kamarnya.
***

Jam 10 malam dan aku masih menangis di dalam kamar sambil memandangi foto suamiku.

“Ma” panggil Happy pelan dari luar kamar, dia juga belum tidur.
“Apa?” tanyaku dengan nada ketus. Dadaku terasa sesak.
“Maaf Ma, apa aku nakal lagi. Aku janji tidak akan nakal. Mama jangan membuangku ke nenek. Aku akan jadi anak baik.”

Air mataku mulai mengalir deras seolah tidak akan pernah berhenti lagi, tapi kutahan isakku agar tak terdengar oleh Happy.

“Aku akan jadi anak penurut, tidak akan berteriak lagi, tidak akan berkelahi lagi. Mama jangan membenciku ya… Aku mau mama.” Happy menangis dan memukul-mukul pintu kamar dari luar. Tapi aku tidak membuka pintu. Kututup mataku. kupelukk uat foto suamiku.

Pagi hari tiba, dan aku tidak tidur semalaman. Kuintip dari lubang kunci; Happy tertidur di depan pintu. Aku kembali berbaring di tempat tidur, menatap kosong ke langit-langit kamar, foto suamiku kudekap di dadaku.

Tak berapa lama tedengar pintu diketuk. Aku keluar kamar dan dan Happy sudah berlutut di depan pintu. Tak kuperdulikan dan berjalan dingin membuka pintu.

“Ma,” panggilku menyapa mertuaku. Dibelakangnya ada Monica. Ratu iblis dan dayangnya, kupikir. Pingin kuludahi muka mereka berdua, tapi kutahan. Mereka tidak memperdulikanku dan masuk ke dalam rumah. Begitu melihat neneknya masuk, Happy segera bangun dan berlari ke arahku, memelukku.

“Ma, aku tidak mau... Aku mau mama saja...” Happy kembali histeris menarik-narik daster.
“Ikut Nenek!” perintahku tegas sambil menunjuk mertuaku.

Monica lalu menarik tangan Happy, tapi Happy terus merangkulku, “Ayo,”kata Monica.
“TIdak Mau!!!!”
“Happy!” teriakku lebih keras lagi. “Bukankah kamu mau dengar kata Mama. Mama bilang pergi dengan Nenek, kenapa tidak menurut?”
“Mama, aku mau Mama,” suaranya melemah, kalah.

Ratu iblis dan dayangnya mencuri Happy. Aku masih terus mendengar suara Happy. "Tidak mau...Tidak mau...Tidak mau...." Seperti suara gema yang mengecil, mengecil, terus mengecil dan hilang.
***

2025
Happy membawa sekuntum mawar merah dan meletakkannya di atas makam ibunya, Rene.

“Ma…selamat Hari ibu!” kata Happy. Air matanya menetes.

”Akhirnya hari ini aku berhasil mengucapkannya langsung dihadapan Mama dan memberi bunga ini. Tiap tahun aku selalu meletakkan sekuntum mawar di depan pintu tapi tidak pernah bertemu Mama. Akhirnya aku tahu yang sebenarnya, Bibi Monica kasihan juga melihat aku yang sangat merindukan Mama dan memberitahu semuanya.”

Happy menangis dan terus menangis.

“Ma…kenapa mama tidak bilang? Kenapa mama harus menderita sendirian. Aku janji Ma, akan jadi anak yang baik. Akan baik-baik belajar agar aku tidak mengecewakan Mama. Terima kasih Ma. Terima kasih sudah melahirkan aku, Terima kasih sudah menjagaku, Terima kasih sudah mencintaiku, Terima kasih. Terima kasih.”
***

Obsesi Punggung
Nisa Ayu Amalia

Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

ceritanet©listonpsiregar2000