ceritanetsitus karya tulis, edisi 167 selasa 081120 

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

novel Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

Bersama pemabuk
Sebagai anak muda yang biasa-biasa saja, aku sebenarnya ingin bergaul dengan siapa saja, walau Mbah Hudi selalu mewanti-wanti  agar aku berhati-hati dalam pergaulan. Desa Ganjar Agung, seperti kata Mbah Hudi, sama saja dengan desa-desa lain; ada setan dan ada malaikat. Dan banyak anak-anak yang menginjak remaja sepertiku mulai mengenal alkohol atau mencuri, entah itu sandal yang sekedar iseng atau sepeda maupun barang-barang yang bisa dijual untuk beli minuman keras.

“Kadang-kadang mereka terkapar di pinggir jalan sampai pagi. Makanya kamu harus pintar-pintar memilih teman," Mbah Hudi menasehatiku.

Tetapi aku tak bisa menghindar dari mereka, dan memang tidak terlalu bertekad untuk menghindar total, apalagi gardu tempat mangkal anak-anak muda yang mabuk itu selalu menjadi perlintasan jalan menuju masjid. Jadi aku selalu bertemu mereka setiap habis Isyak. Kkenal dengan mereka bukan hal yang membahayakan, yakinku, selagi aku bisa membawa diri. Di kelompok itu ada juga Rendy, salah seorang teman sekolah.

“Assalamu’alikum Ustadz!” suara itu berasal dari segerombolan anak muda yang nongkrong di gardu. Baru kali pertama aku di panggil ustadz. 'Ustadz?' aku menjadi tertawa sendiri. Kok di panggil ustadz? Mungkin karena aku mengajar mengaji, atau mungkin mereka sudah pada mabuk. .
“Wa’alaikumussalaam! numpang lewat ya,” sambutku.

Begitulah biasanya mereka selalu menegur, dan begitu pula aku menjawab setiap kali.

Di suatu malam Minggu, ketika yang nongkrong lebih banyak dari biasanya, dan aku pulang lebih malam karena ada kajian fiqh dari Ustadz Zakaria, ada sapaan yang berbeda.

“Ustadz, mampir dulu. Kami mau tanya soal agama,” diikuti tawa kecil mengejek dari sebagian mereka.
Ajakan sebenarnya bukan yang kali pertama, tapi “ingin tanya soal agama” baru terdengar malam itu. Aku lihat Rendy, teman sekelasku juga sedang ikut nongkrong.

“Lif, mampir dulu. Gabung sama kita-kita,” Rendy mengajakku.

Ini godaan atau cobaan? Tetapi selama aku bisa membawa diri, kenapa harus menjauh dari mereka. Toh mereka anak desa ini, dan sebagian mereka juga muslim. Tak semestinya aku menjauhi mereka. Setelah adu suara setan dan malaikan di kepalaku, aku putuskan untuk bergabung dengan mereka --dan aku tidak tahu pasti suara yang mana yang sebenarnya menang.

Ikutlah aku ngobrol, dan tak jauh beda dengan obrolan ketika sedang istirahat sekolh. Bedanya ada aroma tajam di udara, aku tak biasa dengan aroma itu dan juga tak suka.

“Ustadz, coba minum dulu ini. Pasti akan terasa nikmat,” salah seorang menyorongkan botol minuman ke arahku.           “Terima kasih, aku tidak biasa minum.” Dan seorang lagi menyodorkan gelas berisi setengah ke arahku. Kuterima dan kuletakkan lagi mendekat ke orang yang memberinya tadi. Penolakanku cukup jelas.

“Nanti lama-lama juga kebiasaan, ustadz,” desak seorang lagi yang duduk di sampingku. Mulutnya bau, bola matanya sudah agak memerah.
“Terima kasih. Aku kira kalian jangan berlebihan dengan memanggil aku ustadz. Aku belum pantas mendapat panggilan itu. Lagi pula aku malu kalau di panggil ustadz,” kataku meminta mereka untuk bersikap biasa. Seketika ucapanku menjadi bahan tertawaan. Kutahan emosi, kucoba untuk tidak meluapkan amarah yang bisa saja seketika meledak. Kusadarkan diriku; mereka sedang mabuk dan terlihat salah seorang di bagian agak belakang sudah terkapar di lantai gardu. Rendy sendiri mulai nggeloyor, cekikikannya terdengar aneh.

Aku putuskan untuk pulang. Sudah larut, aku juga harus menjaga nama keluarga besar Mbah Hudi. Kalau ada salah satu warga yang melihatku duduk bersama para pemabuk, pastilah aku akan disemprot habis-habisan oleh Mbah Hudi. Masih sulit rasanya membayangkan Mbah Hudi dan warga Desa Ganjar Agung menempatkanorang dalam posisi abu-abu, masih sekedar hitam putih. Kuhirup angin malam menenangkan diri, dari tertawaan beberapa orang mabuk di belakang dan juga dari kecemasan ketemu Mbah Hudi.

Jantungku berdegup kencang saat di depan rumah; Mbah Hudi masih menunggu.

“Assalamu’alaikum, Mbah!” sapaku menetralkan hati yang gundah.
“Wa’alaikumussalaam!”

Hening dan aku berjalan masuk.
“Kalau masih mau nongkrong dengan anak-anak mabuk, kamu berhenti saja mengaji!” Mbah Hudi langsung menembak sasaran.

Pasti ada yang melapor, pikirku. Aku tak boleh berburuk sangka, tapi ketika ikut nongkrong tadi di gardu, Pak Warsiman --tukang kayu di rumah Mbah Hudi-- sempat menegurku. Tapi apa mungkin Pak Warsiman secerewet itu? Aku tak boleh menuduh, dan kalaupun dilaporkan, kenyataannya aku memang duduk bersama mereka.

“Maafkan aku Mbah,” jawabku pendek dan terus masuk ke kamar.

Aku tidak tahu lagi Mbah Hudi setelah itu. Aku masih keluar sebentar ke kamar mandi berwudlu dan shalat dua rakaat. Aku mohon ampun pada Allah, kalau-kalau saja apa yang telah kulakukan tadi tergolong dalam kesalahan. Tetapi, bukankah Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang paling menghormati semua orang? Bukan saja pada teman umat se-aqidah, terhadap kaum kafir quraisy dan yahudi sekalipun, Rasul memberi hormat.

Seperti kisah ketika para sahabat dan Rasul pulang dari masjid, tTiba-tiba Rasul memerintahkan para sahabat untuk berhenti sejenak karena rombongan umat Yahudi menggotong jenazah. Setelah pengangkut jenazah berlalu, salah seorang sahabat bertanya;
“Ya Rasul, bukankah yang meninggal tadi orang Yahudi?”
“Yahudi manusia juga seperti kita,” jawab Rasul sembari bersabda; Bila seseorang dari kamu melihat iringan jenazah pengantar jenazah, padahal ia bukan termasuk orang yang berjalan mengiringiringinya, maka hendaklah ia berdiri hingga ia sendiri yang meinggalkannya, atau jenazah itu yang meninggalkannya, atau hingga jenazah itu diletakkan (dalam kubur) sekipun belum melewatinya. (HR. Bukhori & Muslim).            

Saat iu para sahabat sedang diberi pelajaran bagaimana sebaiknya menghormati sesama manusia. Para sahabat spontan saja tersadar bagaimana mereka juga harus menghormati siapapun. Jangankan orang yang hidup, dengan yang mati sekalipun juga diperintahkan untuk menghormati, terlepas suku, bangsa dan agama. Masalah menjalin hubungan antar manusia, tidak mesti melihat golongan. Tetapi kalau soal aqidah, harus kemballi kepada lakum diinukum waliyadiin. (bagimu agamamu bagiku agamaku). Renungan itu membuat aku lebih tenang.

Jelas tidak secara langsung aku ingin menjiplak bulat-bulat perilaku Rasul, tetapi malam itu minimal aku sedang belajar meniru bagaimana Rasul dengan ajaran Islamnya selalu kompromis dengan siapa saja, selama tidak berhubungan dengan keyakinan. Orang bisa saja tetap berhubungan dengan siapapun dengan baik. Bagiku, ajaran Islam memang sangat kompromis dalam segala hal, apalagi yang menyangkut hubungan antara manusia satu dan lainnya. Selama tidak keluar dari jalur agama, Islam benar-benar toleran.

Hal itu juga terlihat dalam peristiwa Fathu Makkah. Ketika Rasul bersama rombongan dari Madinah datang kembali ke  Makkah, Rasul secara terbuka memberikan kebebasan kepada kafir quraisy untuk mengikuti keyinannya masing-masing dengan tanpa saling ganggu. Tetapi bagi umat muslim diwajibkan menaati segala aturan main yang telah digariskan agama. Rasul bersama rombongan dari Madinah datang membawa kedamaian, walau mereka harus hidup dengan berbeda-beda keyakinan.

Kalau Rasul sudah memberikan pelajaran seperti itu, kenapa Mbah Hudi harus marah? Apakah dia tidak membaca sejarah itu? Atau? Ada banyak hal yang menjadi bahan renungan dan tanda tanya malam itu. Lepas tengah malam, susana perasaanku masih tidak enak tapi lebih karena ada sejumlah pertanyaan yang mengganggu sedang kecemasanku sudah lama sirna. Aku harus tanyakan pada Mbah Hudi, dan aku jatuh tertidur.

Tubuhku sudah otomatis tersentak saat subuh, entah hanya tertidur beberapa jam sekalipun. Dan aku sembahyang subuh dengan lebih tenang, Hari Minggu dan aku akan bisa leluasa menanyakan kegelisahanku tadi malam. Saat sarapan pagi sembari minum kopi di ruang tengah, kubuka pembicaraan.

“Tadi malam, seharusnya saya tidak pulang lambat. Tapi karena dipanggil teman-teman yang nongkrong di gardu, saya tidak bisa menolak. Apalagi saya kenal dengan mereka.”
“Kenal, bukan berarti harus ikut duduk bersama mereka. Untung yang melihat hanya satu orang, kalau sebagian warga desa ini tahu, apa yang akan terjadi. Kamu, aku, dan keluarga besar kita akan dicemooh karena kamu seolah-olah ikut  andil dalam mabuk-mabukan itu,” ujat Mbah Hudi ,tidak dengan nada marah lagi.
“Tapi Mbah, apa menghormati antar sesama seperti yang saya lakukan tadi malam salah. Apalagi, sebagian mereka juga satu aqidah dengan kita,” aku memancing perdebatan.
“Menghormati antar sesama manusia sudah menjadi kewajiban. Selama bukan keyakinan kita yang diganggu. Tetapi sekarang aku tanya, apa bedanya antara yang minum minuman keras dengan kamu yang ikut duduk bersama mereka?”
Aku terdiam.

Mbah Hudi kemudian merujuk ke sebuah hadits Rasul untuk memberi teguran terhadap caraku bergaul dengan anak-anak pemabuk. “Kerjakanlah kebajikan dan jauhilah kemunkaran. Pikirkanlah dahulu hal yang akibatnya disukai oleh pendengaran telingamu, agar kelak kaum tidak mengataimu bila engkau tiada dari mereka, bila telah engkau pikirkan akibatnya yang baik, maka kerjakanlah hal itu. Dan pikirkanlah dahulu hal yang akibatnya tidak disukai oleh pendegaran telingamu, bila akibat buruk maka tinggalkanlah agr kelak kaummu tidak mengataimu jika engkau tinggalkan mereka. (HR. Jamaah)

“Kamu sebelumnya sudah pernah mengenyam pendidikan pesantren. Jadi kamu sudah bisa memilah, mana yang seharusnya kamu lakukan, dan mana yang seharusnya kamu tinggalkan,” Mbah Hudi secara bijaksana mengingatkan.

Tetapi sering pula Mbah Hudi bersikap ekstrim. Seperti dalam masalah niat 'ushalli' dalam shalat, tahlilan, yasinan, dan makan-makan di rumah orang mati. Dia dengan keras melarangnya Dan aku paham pandangan itu karena Mbah Hudi lahir dan dibesarkan dari keluarga besar Muhammadiyah di Borobudur. Bahkan menurut ayah, Mbah Hudi jauh sebelum merantau ke Lampung, sempat berguru di Yogyakarta dengan almarhum Kiai Haji AR. Fahrudin, pimpinan pusat Muhammadiyah ketika itu.
***
bersambung

3 Menit Menjadi Cinta
Multama Nazri HSB

Tukang Cukur
Presiden Hayat

ceritanet©listonpsiregar2000