ceritanetsitus karya tulis, edisi 167 selasa 081120

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

cerpen Tukang Cukur
Presiden Hayat

"Bupati, Kapolres, dan pejabat-pejabat sini melanggani tukang cukur ini lho pak,“ temanku menyakinkan. Mungkin melihat mukaku yang masih berkerenyit-kerenyit dan ragu-ragu melihat tempatnya yang sangat sederhana. Terjepit di sudut segi tiga akibat belokan patah jalan raya, rumah cukur itu --setengah tembok, seperempat papan, dan sekitar seperempat lagi kaca-- punya dua pintu; sebelah kiri dan kanan. Tak jelas apakah ada aturan masuk dari kiri dan keluar dari kanan, atau sebaliknya atau sesuka-sukanya.

Tapi yang membuat aku ragu adalah jendela kaca di bagian atas yang memanjang dari kiri, ke tengah, sampai ke ujung kanan, dengan lebar sekitar 1 meter. Artinya, siapapun yang lewat di jalan sebelah kiri atau kanan pasti bisa menyaksikan tontonan orang yang sedang dicukur, dan itulah yang kusaksikan setelah beberapa kali lewat. Maka ketika aku tanya tukang cukur, temanku langsung menunjuk ke situ "yang sering kita lewati kalau mau ke kantor," katanya.

Setiap hari dia menjemputku dari hotel, dan sudah 5 hari --artinya 10 kali, karena pergi pulang-- aku menonton berbagai orang di rumah cukur itu. Pernah ada seorang anak, dan ibunya berdiri persis di samping kursi, entah karena anaknya takut lihat perlatan tajam bolak balik di atas kepala --seperti ketika aku masih kecil dulu-- atau memberi rincian instruksi karena tak yakin sama tukang cukurnya. Tak terlintas warung cukur itu ketika aku bertanya pada temanku; selain tukang cukur yang lebih murah dari di hotel; bisa seratus ribu perak.

“Sudah pernah dimuat dan diulas di koran juga,“ lanjutnya.

Penjelasannya malah membuatku jadi tambah bimbang. Bupati, Kapolres, dan para pejabat negara memang maunya ditontoni orang terus. Lagian potongan rambut meerka biasanya kan model crew cut atau model cincang 231. Dicincang rambutnya hingga hanya tersisa 2 cm di depan, 3 cm di tengah dan 1 cm di belakang. Kkalau harus di pangkas dengan 'SOP' ekstrim (231), ya jangan. Aku membayangkan habis digarap 231 dan berdiri, mengarah keluar yang sekaligus menghadap ke jalan raya seperti mempertontonkan cincangan 231 dan orang-orang yang menonton nyelutuk di dalam hati 'kasihan amat orang itu.' Lain kali mungkin boleh, tidak ditonton orang biarpun aku memang sedang ingin model rambut yang pendek, tapi agak-agak funky lah.  

“OK, kita tengok juga yang lain dulu untuk mendapatkan tempat dan tukang cukur yang terbaik“ jawabku bergaya. Sekali-kali bergaya bolehlah. Di minggu siang yang dikerubuti awan ini, kami bergegas berburu salon dan barber shop.
***

Sudah dua salon kami masuki dan dua-duanya tidak punya stylish yang bisa merapikan jambang dan kumisku. Memang tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan, tapi tak berarti orang langsung menyerah begitu saja. Jambang dan kumisku yang sudah menyulapku mirip Tom Hank di film Cast Away, sudah membuatku tak nyaman.

Setelah berpusing-pusing dan mendapati beberapa barbershop tutup. Akhirnya, kami balik lagi ke tukang cukur langganan Bupati, Kapolres, dan para pejabat tinggi lokal tadi.  Temanku juga terlihat senang akhirnya aku memilih sesuai rekomendasinya. Mungkin lain kali dia bisa menambahkan; 'orang Jakarta juga potong rambut di situ lho.'
***

Begitu masuk, orang disambut banner bertuliskan permohonan agar tidak pesan tempat lewat telepon dan pelanggan diminta antri dengan tertib. Banner tersebut ditempel disamping kaca. Meski ditulis dengan tata bahasa dan ejaan yang tidak sesuai dengan EYD, pesan yang disampaikan sangatlah jelas; crystal clear:

1. Pesan tempat lewat telpon (dalam ranah publik) adalah perbuatan jahanam yang menyakiti dan mendzolimi orang-orang yang sudah datang duluan. Seharusnya orang yang datang duluan harus dilayani duluan.

2. Budayakan antri karena antri adalah salah satu refleksi dari disiplin dan keadilan.

Aku kaget nenbaca rincian banner itu, ini masjid, gereja, sekolah, atau kantor departemen sosial. Tapi sambil duduk aku serap lagi pesan itu. Sederhana? Mulia? Utopis? Aku hanya bisa yakin kalau pesan itu susah sekali dipraktekkan karena orang lebih suka bersikap seperti kampret jahanam. Apalagi kalau punya banyak uang dan punya jabatan tinggi. Seakan-akan antri adalah pekerjaan hina dan nestapa. Yang harus antri hanyalah orang miskin atau orang-orang 'biasa.' Kampret!

Rumah cukur itu menjadi tempat yang misterius. Aku ingin menyaksikan bupati, kapolres dan para pejabat masuk ke rumah cukur ini. Apa mereka antri, atau mereka menyuruh anak buahnya yang antri dan kalau sudah pas giliran barulah ajudan bupati, kapolres dan para pejabat tadi ditelepon dan meluncurlah mereka. Uang dan jabatan tadi itulah. Kamprel juga!
***

“Pak tolong siletnya diganti dulu“, permintaan standar yang selalu kuajukan begitu aku dipersilahkan duduk di kursi cukur. Aku kebagian tukang cukur yang di ujung kanan dari 4 kursi cukur. Tukang cukurnya kira-kira berusia 50 tahuan lebih; rambutnya sudah beruban, disisir rapi, baju putihnya licin, dan gerakannya tidak terburu-buru. Bukan generasiku yang serba cepat dan serba praktis; rambut kacau dikit tak apalah, asal tidak terlambat ngantor tapi sekaligus pula tidak berkurang jam tidur.

“Nanti masukkan tambahan biayanya pak“ lanjutku sekedar menegaskan bahwa aku tidak mau kompromi soal silet. Kemudian, aku serahkan kepalaku kepadanya.

Dengan cekatan dia 'mempermak' kepalaku. Keterampilannya menggunting, memainkan silet, memijit kepala dan bahu cukup lumayanlah. Tapi tetap saja hasil potongannya mirip-mirip model cincang 231. Pff! 

Aku berdiri dari kursi dan agak menunduk-nundukkan kepala sedikit, menghindar dari tontonan orang di luar rumah cukur. Bolehlah mereka melihat semi 231 di kepalaku, tapi paling tidak wajahku tidak terlalu jelas.   

  “Terimakasih pak“ kataku sambil memberikan ongkos pangkas.

Dia pergi ke meja kasir dan aku mengibas-ngibas pelan bajuku di bagian dada untuk memastikan tak ada helai-helai rambut yang tertinggal.

“Ini kembaliannya pak,“ pak tukang cukur sudah kembali di sampingku

“Tadi aku minta ganti silet pak. Jambang dan kumisku juga cukup tebal, jadi pantas lah kalau bapak menerima lebih.“

Dia menggeleng dan tangannya tetap mengambang kembalian uang.

“Itu bukan hak saya pak. Terimakasih “

Aku terdiam. Mulia? Aneh? Angkuh?

Terbayangku bupati, kapolres, dan para pejabat yang datang ke rumah cukur ini. Mungkin mereka bukan hanya cukur tapi sedang belajar bahwa orang tidak harus berduit banyak, tidak harus berjabatan tinggi, tidak harus punya kantor mewah. Orang juga tidak perlu bersorban atau bawa simbol agama kemana-mana untuk menjadi behati baik dan mulia. Siapa saja bisa. Tuhan tidak bodoh dan bukan idiot. Tuhan juga tidak katarak.
***
Keluar dari rumah cukur itu aku terhantui pertanyaan; 'Menolak pemberian yang bukan hak? Apakah aku sudah berprinsip seperti itu?'
***

3 Menit Menjadi Cinta
Multama Nazri HSB

Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

ceritanet©listonpsiregar2000