ceritanetsitus karya tulis, edisi 167 selasa 081120 

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

sajak 3 Menit Menjadi Cinta
Multama Nazri HSB

(menit pertama) ku kan bercengkrama dengan nafsu dan turunannya membagi tugas dengan mereka agar aku bersih, suci, dan indah (menit kedua) ku kan berkunjung kepada logika bersekutu dengan beliau agar aku tidak tersesat dan bodoh (menit ketiga) ku kan rasuki hati kekasihku melihat setiap ruangnya kurebahkan diriku disana

sejenak....

Dialog Semu Dalam Sujudku

Dalam sujudku malam ini, terbayang seraut wajah dengan tubuh kekar tersenyum seindah purnama yang selalu didampingi satu bintang. Wajah yang selalu kurindukan, yang selalu kupanggil.

Ayah...
Aku tidak tahu kau dimana, mungkinkah kau bahagia, mungkinkah tidak. Malam ini aku coba bercerita denganmu, cerita yang belum berubah.
Ayah....
Aku baik-baik saja, begitu juga Ibu. Dia masih sama seperti dulu, seperti waktu kau disampingnya, waktu kau masih menghirup bau tanah sawah. Terkadang Ibu terbaring letih tak kuasa menahan rindu untukmu dan lelahnya hidup
Ayah...
Jangan khawatir. Ibu akan selalu kupeluk, pelukan terhangat yang kumiliki Aku coba walau tak sehangat pelukanmu
Ayah...
Aku belum bisa berpijak, belum menjadi impianmu Tapi aku akan terus mencoba ayah hingga terbaring disisimu, terkulai lemah
Ayah...
Ttidak perlu meminta maaf padaku. Kau tak perlu beli baju baruku. Baju yang akan kupakai pada pernikahan, di sisi menantumu yang selalu ingin kau lihat
Ayah...
Dalam sujudku ini kuhaturkan doa untukmu
Ayah...
Aku pergi dulu membaringkan badan lemah ini. Menutup mata sekejap, menanti mimpi bertemu denganmu
***

Tukang Cukur
Presiden Hayat

Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

ceritanet©listonpsiregar2000