ceritanetsitus karya tulis, edisi 166 selasa 081104 

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

novel Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

Pekan berikutnya, aku menemui Mbah Hudi di kamarnya, minta dibimbing mengaji setelah Mbah Hudi mengajari Widi dan Cepry. Hari itu juga aku diterima sebagai murid dan memulai dari Surat Al-Baqarah. Beberapa ayat kubaca. Mbah Hudi tak meluruskan; berarti bacaanku benar jadi aku lanjutkan sampai satu maqro’.

“Dulu pernah ngaji dimana?” selidik Mbah Hudi usai menutup pengajian.
“Saya sebentar sempat mondok Mbah.”
“Bacaanmu sudah bagus. Tinggal makhoorijul huruf-nya yang harus lebih diperhatikan. Kalau panjang pendeknya sudah cukup. Mulai besok Widi dan Cepry kamu saja yang mengajar,” perintahnya tanpa beban.

Tugas berat yang belum pernah kujalani. Semasa kecil. aku tergolong anak bandal yang malas ngaji biarpun ayah memukulku dengan rotan kalau ketangkap bolos ngaji. Dari rumah memang pamitan mengaji, tapi di tengah jalan berbelok main dengan kawan-kawan. Ba’da isyak aku baru pulang. Kalau saja Widi dan Cepry mengetahui masa laluku, aku akan malu tiada tara.

Tak pernah terbayang sebelumnya kalau aku harus mendapat tugas ini. Karena takut banyak salah, setiap pulang sekolah aku minta Mbah Hudi menyimak bacaanku, supaya makin mantap bacaan Al-Quran yang masih kurang fasih. Aku harus kerja ekstra menghapus masa kecilku, yang tiba-tiba terasa amat melalukan. Jam 7 pagi sampai jam 1 siang aku di sekolah dan usai makan siang bertemu Mbah Hudi yang sudah siap di Musholla. Kadang aku letih, ngantuk dan malas. tapi begitu dihadapan Mbah Hudi dan membuka Al-Quran rasa kantuk dan malas itu sirna. Mungkin karena kekuatan mukjizat Al-Quran, tapi aku yakin juga karena keinginan kuat untuk memperdalam bacaan Al-Quran.

Begitulah aku secara rutin menggali ilmu pada Mbah Hudi. Walau Mbah Hudi hanya balajar agama secara otodidak, beberapa kiai di Metro sering sowan ke rumahnya untuk meminta petunjuk. Aku selalu nguping saat sowan para kiai itu karena letak musholla dan ruang tamu hanya 4 meter dari musholla jadi aku bisa mendengar pecakapan mereka. Ada yang minta petunjuk tentang pilihan dukungan untuk pemilihan lurah, ada juga yang sekedar sowan karena mau naik haji.

Selain mengaji, aku juga harus bekerja ekstra. Usai subuh, menyapu lantai dari depan sampai ke belakang dan sesekali mencuci piring, kalau kebetulan Lek Nur --anak perempuan Mbah Hudi-- sedang menyuap anaknya, Yessi. Cuma masak yang tidak kukerjakan. Di rumah Mbah Hudi inilah aku belajar hidup; membelah kayu, mengumpulkan ke dapur, mengisi bak mandi,  menyapu, dan mencuci. Musim panen aku juga ikut menjemur padi dan setiap hujan turun pekerjaan berganti menggotong padi masuk ke dalam rumah. Barulah malam harinya aku mengajar mengaji Widi dan Cepry. Dan kuusulkan agar Widi dan Cepry ikut belajar mengaji di masjid bersama teman-teman lain.

Mengaji di masjid membuat tugasku bertambah. Selain mengajari keduanya, pelan-pelan aku juga dituntut mengajar mengaji bagi orang lain. Sebagian mereka ada yang seumur denganku; beberapa —laki-laki atau yang perempuan-- pernah kulihat di sekolah. Sebagian lagi anak SD dan SMP. Kadang aku tersenyum di dalam hati mengingat masa kecilku yang malas, tapi cepat-cepat kubunuh tawa itu supaya tak sampai merusak pelajaran mengajiku. Di kampung Ganjar Agung aku dibutuhkan untuk mengajar mengaji --pastilah orang-orang Sabrangrowo akan tertawa mendengarnya.

Dan mengajar ngaji membawaku ke urusan praktis sehari-hari orang lain. Suatu kali Ridwan --anak kelas 5 SD-- kehilangan sandal dan orangtuanya marah besar.

“Kamu guru ngaji ndak bisa ndidik anak-anak. Apa yang kamu ajarkan kalau sampai sandal anakku hilang,” Bu Wandi berteriak menuduh. Ridwan diam menunduk di samping badan ibunya; mungkin kuatir kemarahan ibunya justru akan mengundang kemarahanku padanya, kelak.
“Sebentar, ibu jangan marah dulu. Persoalan ini bisa diselesaikan baik-baik. Apalagi anak-anak ini kan suka main-main dengan teman lain.”
“Sandal anakku hilang kamu bilang main-main!” nada Bu Wandi meninggi. Aku tak pernah tahu seperti apa sandal Ridwan, tapi yakin tidak berlapis emas, juga tanpa hiasan permata di ujung ikatan talinya. Tapi mungkin ini bukan urusan sandal semata, bisa jadi soal harga diri, soal kecurian, soal orang lain yang merampas hak anaknya. Jadi kutenangkan diriku.
“Maksud saya begini. Anak-anak sering memainkan sandal teman, disembunyikan, tapi nanti dikembalikan lagi. Atau mungkin hanya tertukar," dan terbayang kawan-kawanku di Sabrangworo tertawa terbahak-bahak menyaksikan aksiku yang bijaksana, aksi guru ngaji.

'Aku ini guru ngaji. harus sabar,' kukendalikan batinku yang sebenarnya memberontak; 'Sandal saja kok bikin heboh! Mau minta ganti yang kasih tahu berapa harganya.' Bagaimanapun aku juga menikmati permainan peran baruku, walau ada juga rasa kuatir karena pengalaman pertama sudah menghadapi Bu Wandi, yang berambut panjang bergelombang dengan suara keras yang tidak malu-malu, atau tidak perduli sama orang lain.

 “Kamu itu harus mengawasi. Kalau ada anak yang main-mainkan sandal harus ditegur, jangan dibiarkan,” Bu Wandi mengajariku. Pokoknya saya tidak mau tahu, sandal Ridwan harus ketemu. Titik.” pekik Bu Wandi sambil bertolak pinggang. Kulihat Ridwan menelan ludah seperti berupaya memelankan suara ibunya.

”Baik,  kalau begitu, Ibu silahkan masuk ke masjid. Ridwan sini sama Kak Alif.”

Aku memegang tangan Ridwan, mengikuti Bu Wandi yang tampak enggan masuk masjid. Mungkin baru dia sadar kalau teriakan kemarahannya tadi terdengar juga oleh banyak orang di dalam masjid. Begitu Bu Wandi melangkah masuk, semua anak yang sedang mengaji terdiam. Mungkin mereka ikut ketakutan, karena teriakan Bu Wandi, atau memang takut karena menyembunyikan sandal Ridwan.

“Ayo semuanya mencari sandal Ridwan yang hilang.”

Aku sebenarnya tak tahu mau melakukan apa, jadi aku absen saja mereka satu persatu dan yang disebut namanya berjalan keluar masjid dan masuk kembali membawa sandalnya. Entah benar entah salah, buatku ini adala ihtiar; semua Allah yang mengatur.

Semua sudah memegang sandal masing-masing, dan masih tersisa sepasang sanda di dekat pintu kamar mandi.

“Ini sandal siapa?" selidikku.
Dari absen, Rivan tidak hadir. Padahal waktu maghrib Rivan terlihat ikut shalat berjamaah. Biasanya kalau tidak mengaji Rivan selalu ijin, jadi jangan-jangan Rivan memakai sandal Ridwan? Kulirik Bu Wandi dengan ekor mataku dan tampak sorot matanya sedikit melunak, tidak seperti ketika masih berteriak-teriak di luar masjid.

"Kemana Rivan?"
“Tadi ikut ayahnya ke undangan Kak!” jawab Wisnu.
“Kamu yakin Rivan ikut ke undangan sama ayahnya?”

“Iya Kak, sebab tadi sore dia sudah bilang mau ikut ke undangan ayahnya,” tambah Husni.
“Sekarang semua masuk tertib. Sandalnya diatur yang rapi. Sebentar lagi isyak.” aku kemudian mengawasi mereka mengatur sandalnya masing-masing, sambil tetap memegang
sandal yang belum jelas pemiliknya.

Bu Wandi tak lagi nanar seperti sebelumnya. Ia hanya diam. Wajahnya masih cemberut, tapi sorot matanya jauh lebih lunak. Masih sepuluh menit lagi adzan isyak berkumandang. Anak-anak sudah berjajar rapi di dalam masjid. Seperti anak-anak pada umumnya, mereka belum bisa membedakan dimana harus diam, dan dimana harus bicara. Sebagian masih terus ngobrol.

“Assalamu’alaikum, Lif!” Pak Santo ayah Rivan tiba-tiba berada di sampingku, bersama Rivan di sampingnya. Umurnya sepantar dengan Ridwan. Ia berlindung di belakang ayahnya, mungkin ketakutan karena tidak minta ijin bolos ngaji.
“Maaf Lif, Rivan ikut ke undangan. Katanya belum pamitan?”
“Biasa saja, Pak. Namanya juga anak-anak,” jawabku datar.
Sandal yang tak jelas pemiliknya tadi segera kusembunyikan di belakang badanku.

“Tadi karena buru-buru, Rivan salah pakai sandal. Saya tanya, katanya dia sendiri tidak tahu sandal siapa.” Pak Santo kemudian menyuruh Rivan memperlihatkan sandalnya. Aku kemudian memperlihatkan sandal yang sedari tadi kupegang dengan genggaman di belakang. Ridwan kupanggil mendekat, ibunya otomatis mengikutinya dari belakang.

“Ini sandal kamu?” tanyaku pada Ridwan.
“Iya Kak,” katanya pelan; mungkin antara percampuran rasa lega dan rasa malu karena teriakan ibunya tad.

Bu Wandi sendiri tampak kagok ketika Pak Santo meminta maaf; “Saya minta maaf Bu. Gara-gara anak saya, Ridwan jadi tidak mengaji.”

Dan Bu Wandi melirik ke arahku; kikuk, malu, sesal. Dia kemudian tersenyum kecil pada Pak Santo dan aku, sambil berjalan ke luar masjid. Tak ada suara dan ditariknya Ridwan. Akupun diam saja sambil membayangkan kelak kalau sandal Ridwan hilang lagi, apakah suaranya masih akan tetap keras seperti tadi.

Pengalaman pertama dengan peran baruku itu membuat aku merasa semakin dekat dengan anak-anak, begitu juga mereka makin dekat denganku. Ada perasaan bahagia yang menyelinap ke seluruh benang-benang sarafku.  Aku tidak punya saudara kandung, tapi tiba-tiba memiliki puluhan adik yang memerlukan bimbinganku. Setiap malam menjelang isyak tiba, aku duduk bersama mereka belajar mengaji awalnya, tapi sering juga aku harus menjawab pertanyaan-pertanyaan lain, entah dari pelajaran sekolah atau sekedar hasrat ingin tahu mereka. Dan merekalah yang mendorongku untuk belajar agama lebih banyak lagi, dari membaca, dari Mbah Hudi, dan dari mereka sendiri .
***bersambung

Orang Kaya Baru
Liston P. Siregar

Pertaubatan
Bambang Saswanda

ceritanet©listonpsiregar2000