ceritanetsitus karya tulis, edisi 166 selasa 081104 

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

cerpen Orang Kaya Baru
Liston P. Siregar

Tiba-tiba aku pingin jadi orang kaya, Amat! Kebelet berat! Seperti sesak berak yang pangkal tainya sudah diujung pantat. Hanya bisa ditahan dalam ketergesaan menuju WC. Hanya tertahankan karena sedang menuju ke penyelesaian. Tapi menjadi kaya tak seperti lari ke WC. Tak ada cara cepat menjadi kaya, lebih parah lagi tak ada kepastian --bayangkan ente jualan 7 hari 7 malam seminggu di pasar, tapi bocor terus karena bayar sogokan sana sini, malah mati kena stroke.

Sebenarnya aku puas total dengan gaya hidupku. Honda Tiger angsuran sudah cukup, biarpun rekan sekantor adu pamer moge. Beberapa bulan lagi barulah menjerit; emangnya credit crunch di Amerika tak akan meroketkan bunga kredit di Jakarta? Biarpun Obama menang, tak ada jalan cepat mengatasi credit crunch. Makanlah semboyan change-nya Obama! Makanlah angsuran milyaran Harley Davidson.

Aku juga menikmati liburan lokal; pulang kampung menengok Mamak di Sibadoar --bagi yang tidak tahu; ini kampung kecil di Tapanuli Selatan, tetangganya kampung asal Raja Inal Siregar --mantan Gubernur Sumatera Utara yang sempat mau didakwa korupsi tapi meninggal karena pesawat Mandala jatuh di atas perumahan penduduk di Medan (barulah kalian tahu kalau sudah menyangkut pejabat tinggi, mantannya sekalipun).

Atau berakhir pekan ke rumah Tarjo di Semarang; makan tahu petis sambil nonton Liga Inggris di ESPN --dari dulu orang sudah bilang jangan percaya sama Astro TV. Atau ngebut sepukul ke Sukabumi --masih perlu tahu juga kenapanya? Cewek ceweknya tolol.

Bulan lalu Oyong dan Perdi liburan London; mau mencium tanah Old Trafford dan beli whisky Skotlandia langsung dari penyulingan. Hebat, pikirku. Balik kerja, 2 minggu kemudian, Oyong dan Perdi memaki-maki orang Inggris. Kena tipu waktu nonton cewek telanjang di London--"Anjrit, kartu gua digosok sampai 100 Pounds," kata Oyong. Juga beli tiket palsu Manu-West Ham di Old Trafford -- "Kalau elu-elu lihat, nggak bakalan nyangka tiketnya palsu," Perdi tak terima ditipu mentah-mentah sama tukang catut Manchester. Aku ketawa lepas, dan Perdi tampak senang bikin aku ketawa --agak telmi memang anak itu.

"I'm fine," kayak les Bahasa Inggris di PPIA dulu; ane baik-baik aje. Bisa berburu DVD Classic Rock tiap minggu --biarpun cuma bajakan-- tepat waktu bayar angsuran bulanan rumah BTN, dan tiap Jumat mabuk bareng sama mantan kawan-kawan kuliah di Jalan Jaksa --biarpun cuma bir Bintang botol.

Aku mau kaya bukan untukku. Aku kebelet pingin kaya karena mau membagi-bagi uang. Begitulah level kekayaannya; berbagi (hebat nggak?) Kalau cuma moge, sepeda Trek, Bang & Olufsen --punyaku Pioneer yang pakai tabung, peninggalan bapakku-- pacar anak ASMI, atau nonton Formula 1 di Singapura, bah untuk apa --lagian nonton Formula 1 itu ya di TV, bukan cuma lihat Hamilton dan Masa lewat sekali 3 menitan; fussshhhh. Benar nggak?

Jadi levelnya bukan main-main, kira-kira sealiran dengan Warren Buffet dan Bill Gates, yang mendirikan yayasan untuk kesehatan dan pendidikan anak di negara miskin dunia, walau aku tak perlu sebanyak itu; Warren Buffet 52 milyar dollar dan Bill Gates 38 milyar dollar. Aku sudah hitung kasar, kira-kira cukup 50.000 dollar atau 500 juta perak --cuma 500 juta perak kau bilang? Ndasmu, emangnya semua orang kayak anggota DPR bisa dapat cek perjalanan 500 juta perak sekali kipas.

500 juta sudah cukup. Kalau lebih ya bolehlah, tapi jangan terlalu banyak; perencanaanku belum terlalu rapi.

Kebelet kaya ini datangnya waktu aku dolan ke Palembang diundang Elianudin, teman basket jaman kuliah yang dengan heroik memutuskan kerja di LSM untuk menyalurkan kredit murah ke pengusaha gurem di kampungnya. Dua hari di akhir pekan kami habiskan makan durian, mpek-mpek, mandi di Sungai Musi --jijik kalian bilang, tapi manalah orang langsung mati atau kena kanker kulit karena mandi di Sungai Musi 2 hari berturut-turut-- dan main catur di rumah kontrakannya --8-3, dia menang-- di kampung Majasari, sekitar setengah jam dari rumah bapaknya di Palembang.

Hari Seninnya, dia ajak aku keliling kampung. "Lu kan kerja, gua jalan-jalan ndiri sajalah." Dia ngotot --anak LSM beneran tak mau kalah bung, bukan model LSM untuk sewa massa kampanye. Naiklah aku ke boncengan motor bebek hitamnya, dengan peringatan; "jangan harap kau bisa mengotori otakku dengan komunisme sosialisme leninisme dan isme-isme bergaya sok miskin. Gaya hidup ane udah pas banget."

Itulah awalnya.

Jadi 50 juta ke Etty, tanpa bunga dengan syarat LSM Elianudin, Sekata, punya saham di perusahaan BH milik Etty. Cukup 10%, cukup untuk melebarkan para peminjam Sekata. Etty perlu 50 juta untuk tambahan 10 mesin jahit listrik dan modal stock bahan, supaya bisa memasok lebih banyak ke Carefour di Jakarta. "Mereka minta 500 perbulan, tapi sekarang bisanya 200." Syarat lain pinjaman; UMR untuk karyawannya mutlak --ini bukan pengaruh komunisme, sosialisme, atau marxisme Elianudin. Skripsiku dulu memang tentang UMR.

Etty dapat hibah karena punya piagam ucapan terimakasih dari Carefour karena memasok BH yang memenuhi standard. Dia juga memegang beberapa brosur pabrik yang menjual mesin jahit listrik. Seratus persen dia siap dan layak --memang bukan sekedar angan-angan sore hari lagi bung.

Masih ada 450 juta. Pilihannya banyak --betul 52 milyar dollar pun tidak akan cukup, tapi cakupan angan-anganku tak secanggih itu. Minuman botol ramuan sirih, jahe dan jeruk nipis Haji Sofyan tak masuk. Ceritanya dia akan memasarkan minuman itu di pusat-pusat kebugaran, jadi perlu 20 sepeda untuk pemasaran dan mesin giling supaya poduksinya lebih cepat dan lebih banyak. Cukup 20 juta, katanya, tapi orang yang ke pusat kebugaran manalah mau menenggak minuman merk Seda --Sehat Muda--...cailah, sehat muda ni ye.

Kaum perlente di pusat kebugaran maunya Krating Daeng, Lucozade, Powerade, atau Aqua. Mana ada lagi kerennya pusat kebugaran kalau minum ramuan sirih, jahe dan jeruk nipis --benar nggak kawan-kawan sekalian; 'ora trendy.'

Kerupuk singkong Murni lebih meyakinkan. Seharinya dia menjual 500 kilogram kerupuk singkong pedas ke warung-warung di sekitar Palembang. Janda 3 anak ini --suaminya kerja di kapal dan kawin lagi sama orang Palembang yang tinggal di Tanjung Priok-- perlu 2 kuali raksasa dan 5 sepeda motor --"lebih irit daripada keliling naik mobil." Aku lihat ada 1 kuali radius 1 meter di dapur belakang rumahnya; panas dan kering. Dua laki-laki yang menggoreng kerupuk tak pakai baju dan basah kuyup.

"Kalau bisa, 50 jutalah Pak, bunga 2% per bulan juga saya berani. Tapi nggak pakai jaminan, nggak punya karena masih rumah sewa." Hitungannya, setengah untuk motor dan setengah untuk kuali sama tabung gas." Dia masih pakai kayu bakar --"kayu bakar gampang pak, tapi bawanya kemari susah, banyak pos polisinya di jalan." Aku manggut-manggut serius seperti juragan tanah --betul, disinilah angan-angan orang orang kaya baru lahir.

Tapi mulai kebeletnya di rumah Sobirin, generasi kedua transmigran asal Sukoharjo. Dia mengumpulkan tikar bambu dari pengrajin untuk dibawa ke toko-toko kerajinan tangan di Kemang dan Pasar Minggu. "Mintanya banyak Pak, tapi modal nggak sanggup." Setiap bulan dia bawa 1000 tikar bambu ukuran 1x2 meter; beli dari pengrajin 10.000 perak, jual ke toko 12.000 perak dan --perhatian saudara-saudara sekalian-- tokonya menjual 20.000 perak --alah, nggak usah pura-pura terlalu kagetlah; sama kayak kopi Sidikalang, paling 20.000 perak per kilo waktu beli dari petani di Sidikalang sana tapi di Starbuck, Plaza Indonesia, secangkir kopi saja kena 30.000 perak.

Aku hitung ulang --ini memang meniru gaya Elianudin kalau turun ke lapangan; cek ulang lagi kebutuhan modal. "Bos bilang, satu tikar untungnya seribu perak. Kalau dikali seribu kan sejuta perak, jadi tiap bulan bisa nambah 100 tikar, kalau harganya sepuluh ribu perak," aku menghitung pelan, dan Sobirin menyorongkan mukanya sedikit; "Benar Bos, tapi toko bayarnya belakangan, jadi harus minjam dari kawan-kawan dan pakai bunga, plus makan untuk orang rumah dan uang sekolah, nggak bisa ngapa-ngapain lagi bos."

Masak iya, ente bertanya sinis.

Sekarang kujelaskan, setelah Sobirin menjelaskan --disela oleh celutukan-celutukan bernada kekesalan dari Elianudin. Toko-toko di Kemang dan Pasar Minggu --persis friend, pemiliknya orang Jakarta semua-- mau jaminan pasokan. Kalau dibayar di depan, menurut para pengusaha-pengusaha Jakarta itu --kata Sobirin-- bulan depan tak ada lagi tikar masuk. Barang hari ini dibayar bulan depan; supaya Sobirin --dan para pengumpul dari kampung-kampung lain-- datang lagi ke toko-toko langganan untuk mengutip bayaran bulan lalu.

"Lha itu kan ngaco!" Bah tiba-tiba pula kalian peduli sama Sobirin. Jelaslah ngaco, tapi apa kalian pikir Sobirin punya pilihan? Makanya Sobirin perlu modal 50 jutaan. Dia hitung sewa rumah 2 kamar untuk dijadikan gudang di gang kecil di Kalibata 20 juta setahun. "Distock di sana, tunggu 3 bulanan sampai toko-toko kehabisan stock, baru dikeluarkan, tapi bayar dulu baru ambil. Posisi kuat Pak. Sekarang jauh-jauh dari Palembang, tambah sehari di Jakarta saja habis seratusan ribu perak."

Jelas? Akupun makin kebelet pingin kaya, dan bukan untuk moge, bukan untuk pesta di karaoke 1001 Malam, bukan untuk mencium dinding stadiun Arsenal di London, juga bukan untuk nraktir anak ASMI belanja ke Singapura. Untuk berbagi --terserah mau dibilang sok dermawan atau belagu, yang jelas aku kebelet berat pingin kaya.

Tapi pangkal taiku baru mulai mendekati ujung pantat --maaf, maaf, tapi memang tak ketemu analogi lainnya-- ketika membaca berita perdagangan di Bursa Efek Jakarta yang ditunda. Sialan betul, kalau sudah nasib para konglomerat sibuklah para pejabat membantu --eh masih ingat juga ente lagunya Harry Roesli; 'maling, maling, konglomerat banyak yang maling... Pangkal tai semakin bergerak keluar ketika saham Bakrie Brothers dan 2 sekutu perusahaannya terus ditunda karena takut nilainya anjlok sambil menunggu kejelasan penjualan salah satu perusahaan ke investor asing --jangan sinis bung bilang? Bah, apa bung sudah lupa berita Menteri BUMN yang minta perusahaan negara ikut membeli saham yang mau dijual Bakrie Brothers? Kan gila Bung! Memang nggak jadi, tapi idenya itu Bung; edan.

Coba kalo kepedulian sekaliber itu dialihkan ke Etty, Murni, Sobirin --Haji Sofyan juga bisalah kita masukkan-- pastilah lebih berguna; lebih berdampak ganda, lebih bermultiply, kata kerennya. Baik, ada bermacam argumentasi, makanya aku kebelet pingin kaya, biar tak usah terlalu banyak argumentasi dan 500 juta tersalurkan, seratusan lapagan kerja baru tercipta, dan para pengusaha non- KKN makin berkembang.

Tapi bung dan kawan-kawan pastilah merujuk ke Amerika Serikat. Lihat Bear Stern dan Lehman Brothers ambruk, seluruh kelembagaan pemerintahan Amerika Serikat panik menyediakan dana penyelamatan. Butul bung, aku paham betul bekerjanya ekonomi modern; raksasa jatuh semua kena getarannya. Tapi bung, percayalah --mengutip Elianudin --itu kawanku yang di LSM tadi-- membantu pengusaha kecil sama pentingnya. Bayangkan saja ribuan semut merah bung.

Ah, ah, ah... mohon maaf berat, sekarang aku harus lari ke WC.
***

Cat. Memang lebih gampang lari ke toilet daripada menjadi kaya,

Pertaubatan
Bambang Saswanda

Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

ceritanet©listonpsiregar2000