ceritanetsitus karya tulis, edisi 165 selasa 081007 

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

novel Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

Perjalanan melelahkan menyeberang ke Pulau Sumatera sama sekali tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Juga tak pernah aku membayangkan bagaimana puluhan mobil bisa masuk ke dalam kapal dan tidak karam ke dasar lautan. Pikiran yang bodoh karena baru kali itu kulihat puluhan mobil masuk ke dek kapal paling bawah. sementara di atasnya untuk mobil-mobil pribadi yang lebih kecil.

“Yah, kita sudah jauh dengan Pulau Jawa?” tanyaku sambil menatap hamparan luas Selat Sunda yang membiru. Ayah tersenyum menatapku.

Aku tertidur bersandara ke lengan ayah dan terbangun ketika sudah kembali di daratan, beberapa jam setelah lepas dari Selat Sunda. Bis kami terus melaju. Kutoleh kearah jendela; tak ada lagi suasana air di kanan kiri. Hanya beberapa lampu rumah terlihat.  Sebagian lagi masih hutan.

“Sudah sampai dimana kita 'Yah?”
“Lampung Tengah. Ini sudah hampir subuh. Fajar nanti kita sampai di desa Ganjar Agung.”
“Kok Ganjar Agung? Katanya mau ke Palembang?”
“Kita mampir dulu tempat Mbah?”
“Mbah? Mbah siapa?”
“Mbah Haji Hudi. Adik Kakek almarhum,” jawab ayah singkat.

Mbah Hudi, begitulah cerita ayah, adalah ulama dari Desa Sabrangrowo yang sudah 30 tahun meninggalkan Pulau Jawa dan tinggal di Desa Ganjar Agung, di Kota Metro Lampung Tengah. Dari pusat kota, Desa Ganjar Agung hanya sekitar 10 sampai 15 menit. Penduduknya beragam, masih ada yang punya sepeda onthel tapi banyak yang naik sepeda motor, tentu ada juga yang tak punya dua-duanya. Penduduk Desa Ganjar Agung mayoritas berasal dari Jawa Tengah, dan bermukim di Ganjar Agung sejak masa penjajahan Belanda.

Layaknya orang Jawa, tradisi mudik masih tetap mereka bawa dan hidupkan walau tak satupun yang pindah tinggal lagi di Jawa. Bagi mereka, Jawa atau Sumatra semuanya adalah bumi Allah. Jadi hidup dimana saja.

Menjelang Fajar, Bis Timbul Jaya singgah ke sebuah rumah makan dan semua penumpang turun. Sejak berangkat, ibuselalu mabuk darat, muntah-muntah dan badannya lemas. Aku dan ayah memapah ibu ke sebuah bangku panjang. Kugosokkan balsem ke punggung ibu dan memijat bagian tengkuknya untuk dapat menghangatkan tubuh ibu yang dingin. Alhamdulillah, ibu mulai siuman. Badannya terasa sedikit hangat setelah minum teh pahit panas. Aku lega.

Setelah para penumpang melakukan shalat subuh, bis jurusan antar lintas Sumatra melaju dengan cepat. Sekiar satu jam, kami sudah sampai di simpang Desa Ganjar Agung. Kudengar kenek bis menyebut simpang cucian mobil, karena di simpang itu ada tempat cuci mobil walau subuh itu belum terlihat satu mobilpun.

Jam 7.15 kami diturunkan di Simpang Cucian Mobil. Seharusnya kami langsung masuk ke Desa Ganjar Agung, tapi ayah mengajak kami masuk ke warung yang untuk membeli nasi uduk. Tapi ayah bukan hanya membeli nasi uduk, juga memastikan tujuan kami. Dan pedagang warung sepertinya tahu betul Mbah Hudi.

“O, mau ke tempat Pak Haji. Tidak jauh lagi. Naik becak saja minta antar ke rumah Pak Haji. Orang disini semua tahu Pak Haji,” tukas pedagang warung yang rupanya juga berasal dari Temanggung Jawa Tengah.

Hanya berjarak sekitar 300 meter antara rumah Mbah Hudi dengan warung. Dua becak mengantarkan ke halaman rumah Mbah Hudi. Ayah di depan lebih dulu bersama barang-barang bawaan. Satu becak lagi aku dan ibu.

“Masya Allah. Kamu ini kan Dul Salam, anak Ali Dimejo,” peluk cium Mbah Hudi pada ayah. Mbah Hudi masih ingat dengan ayahku.
“Ini Alif, anak saya. Dan ini isteri saya,” sementara air mata bahagia kami menetes mengiringi jatuhnya embun pagi. Disinilah kami seakan menemukan keluarga kembali. Tiga puluh tahun lebih ayah tak pernah bertemu Mbah Hudi, sejak kepergiannya ke Lampung. Ternyata setelah ayah punya anak dan istri, baru kali itu dia berjumpa lagi dengan Mbah Hudi.

“Pak Lik, saya tidak bisa lama di sini. Mungkin hanya malam ini saja saya dengan isteri singgah. Besok kami berdua harus ke Lahat. Karena isteri saya harus meneruskan tugasnya di Lahat,” kata ayah usai makan malam bersama.

Ayah tak pernah bercerita kalau ternyata ayah dan ibu akan meninggalkanku di Desa Ganjar Agung bersama Mbah Hudi. Kesedihan bakal terjadi lagi. Ayah dan ibu akan kembali jauh. Memang perpisahan ini bukan kali pertama, karena sejak tamat SD aku sudah sempat meranta tiga tahun di pesantren, tetapi tetap saja tak mudah menerima aku berpisah lagi dari ayah ibu.

Semula aku ingin ikut ke Lahat, tetapi ayah melarang, dengan pertimbangan pendidikan di Metro lebih maju ketimbang di Lahat. Ayah tidak ingin aku ketinggalan dalam pengetahuan dan sudah sudah melakukan survey ke Lahat sebelum memastikan pendidikan di Lahat masih jauh dari keinginannya. Dengan bantuan Pak Lik Pamuji —keponakan ayah yang sudah belasan tahun tinggal di Lampung-- akhirnya aku didaftarkan di Madrasah Aliyah Al-Mizan, sekolah agama setingkat SMA yang cukup bonafide di Kota Metro Lampung Tengah.

Di rumah Mbah Hudi aku ditempatkan di kamar depan, persis di sebelah kanan ruang tamu. Di depan kamar ada sebuah mushola tempat cucu Mbah Hudi, Widi (10 tahun) dan Cepry (5 tahun). Setiap habis maghrib suara keduanya selalu terdengar. Walau belum lurus membaca ayat-ayat suci Al-Quran, aku cukup kagum pada keduanya. Ketekunan keduanya jauh dibanding dengan masa kecilku dulu yang selalu mencoba sebisanyha untuk mangkir ngaji. Dibawah bimbingan Mbah Hudi, keduanya selalu tekun belajar mengaji shalat..

Aku merasa tidak enak jika tidak nimbrung ke dalam ta’lim itu. Toh aku sendiri, punya modal sedikit untuk ikut mengaji bersama mereka. Walau di pesantren hanya 3 tahun, aku yakin pelajaran yang telah kuperoleh merupakan buah manis yang sangat berharga. Paling tidak aku bisa membaca Al-Quran dengan lancar. Itu saja.
***


Tulisan Lain
sebuah kata
Herry Sudiyono

Kartu Platinum
Presiden Hayat


ceritanet©listonpsiregar2000