ceritanetsitus karya tulis, edisi 165 selasa 081007 

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

cerpen Kartu Platinum
Presiden Hayat

“Kalau mau beli mobil tinggal gesek aja dong,“ iblis konsumtif di otakku yang menyambut ketika 2 orang marketing kartu kredit datang menemui di kantor. Mereka bilang kalau sampai disetujui, limit kreditnya bisa sampai 200 juta.

Seksinya kartu kredit platinum dan bayangan orgasme berbelanja, hilir mudik menggoda dan meracuni akal sehatku. Dan bukan sekedar soal belanja saja, ada juga bau kredibilitas. Sekelompok orang mata duitan di sebuah lembaga yang loba akan percaya bahwa aku --karyawan swasta di lapisan tengah piramida sebuah perusahaan kecil-- bisa menanggung beban kredit 200 juta. Ini namanya orgasme ganda: harga diri dan belanja, walau terlintas sistem hancurnya keuangan Amerika gara-gara kombinasi ketiganya; orang mata duitan, lembaga loba, dan konsumen yang lupa daratan.  

Tapi limit 200 juta?

“Kartu kredit platinum memang powerful pak! “

Satu orang dari tim marketing itu melanjutkan rayuannya; menjelaskan keuntungan-keuntungan yang akan aku dapat sebagai pemegang kartu kredit platinum. Satunya lagi membantu mengisikan aplikasi permohonan berdasarkan fotocopy KTP, kartu nama, dan informasi-informasi lain yang sudah kuberikan padanya.

"Bapak tidak usah repot-repot lagi, kami siapkan semuanya," kata si pengisi formulir permohonan berdasi merah jambu.

Aku tinggal tanda tangan saja, dengan gagah disaksikan 2 orang saksi. Sepertinya sebuah MoU yang akan memicu laju pertumbuhan eksport Indonesia baru saja ditanda-tangani.

Keduanya pamit setengah membungkuk sebelum berbalik menuju pintu keluar. Ruanganku kembali, hanya terdengar suara mekanis mesin AC.
***

Tidak sampai 10 hari, kartu kredit platinumku sudah dikirim. Warnanya abu-abu ceah. sedikit mengkilat, seperti warna logam platinum di foto-foto yang pernah kulihat. Kuambil kartu Master dari saku dan kusandingkan keduanya. Aku lebih akrab dengan Master -- sudah 10 tahun lebih di saku-- tapi pembaharuan perlu waktu, revolusi perlu keberanian, reformasi perlu penyesuaian. Cuma apa aku perlu platinum?

Kebodohanku lagi-lagi dimanfaatkan oleh orang lain. Padahal targetku, bulan ini harus menutup satu kartu kredit. Bukan menambahnya. Satu kartu kredit cukup, mestinya.

Don’t jeopardize your own life!

Kartu platinumku itu tiba-tiba berubah menjadi cermin yang mengkilat bersih. Tak hanya bulu hidungku yang terlihat, sepertinya aku juga melihat isi hati dan otakku bersamaan. Kuangkat sedikit ke bagian kepala agak ke kiri, ke bagian yang rasional, kata para ahli otak. Dan terbaca isinya, jelas dan tidak terbalik.

"Kalau tidak hati-hati, kita bisa terperosok ke lubang hutang yang sangat dalam. Kita bisa jatuh ke sumur tanpa dasar karena bunga berbunga. Betapa culas dan tidak adilnya. Kalau suku bunga bank naik, bunga kartu kredit pasti akan dinaikkan. Tetapi kalau suku bunga bank turun, apakah bunganya juga akan diturunkan? Tidak, bodoh!"             

B.o.d.o.h. Ya, betul. Bodoh.

Kuhitung matematikanya. Bunga bank tidak lebih dari 6% per tahun. Berapa bunganya kalau kita tidak melunasi tagihan kartu kredit tepat waktu; 3.5 % per bulan atau 42% per tahun. Matematika sederhananya adalah 7 kali lipat dari bunga bank. Lebih biadab daripada rentenir kampret terkutuk.

Don’t jeopardize  your own life! 

Aku agak gusar dan kuangkat lagi cermin kartu platinumku. Kali ini ke bagian kanan dan kubaca tulisan di cermin platinum itu..

"Kau pikir kau bisa mengendalikan iblis konsumtifmu jika sudah punya kartu kredit? Tidak semudah mengatakannya. Iblis konsumtif di otak kita bagaikan kuda liar yang susah dijinakkan. Matanya berubah hijau begitu mengendus dan melihat barang-barang yang lagi sale. Gatal berbelanja begitu ngelihat barang yang lucu-lucu. Apalagi kalau gengsi terlibat. Gesek dulu, bayarnya lupa dipikirkan. Bersenang-senang dahulu, tercekik dan mampus kemudian."

Kumasukkan kartu platinum itu ke laci meja. Tak kubuang, paling tidak bisa untuk cermin membaca otak dan hati kalau aku sedang bingung, resah, gelisah.
***

Shopping unnecessary things is a felony.

Berbelanja sesuatu yang tidak dibutuhkan ataupun belanja berlebihan adalah perbuatan yang sangat menyakiti orang miskin.

Cara pandang dan persepsi (seperti itu), yang sudah kutanam sekian lama dan sempat kurasakan akarnya menguat, yang keindahan bunganya mulai terlihat, mulai diincar, dan diserang hama-hama. Cara pandang itu mulai mendapatkan ujian yang sesungguhnya.

Sialnya, pengawas ujiannya adalah kita sendiri. Jadi ketika kita berbuat sesuatu yang sejatinya menyakiti orang lain, bisa saja kita tidak menyadari atau cuek saja karena tidak ada yang meniup peluit dan mengingatkan bahwa kita salah. Kita sendirilah yang harus sadar dan menentukan apakah tindakan kita itu benar atau salah. Pantas atau tidak.  

Orang seringkali tidak perduli perasaan kaum tak mampu, atau bagaimana kalau kita di posisi itu. Memang toh itu duit-duit sendiri, ngapain lo ngurusin gue! Tanpa disadari, dengan senyum dan seringai kecongkakan (karena banyak duit), kita sudah menghabisi dua sahabat penting; empati dan altruisme. Sahabat yang selalu bisa membuat kita berbahagia.     
     
Berbelanja seenaknya memang hak individu. Tetapi ada 25,000 orang mati setiap hari diseputar kemiskinan. Berarti ada 9 juta orang lebih pertahun yang mati.

Kubuku laci, dan kupandangi kartu kredit platinum dengan senyum kecut. Apakah aku akan lulus ujian?
***


Tulisan Lain
sebuah kata
Herry Sudiyono

Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi


ceritanet©listonpsiregar2000