ceritanetsitus karya tulis, edisi 164 selasa 080923 

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

cerpen Bercinta di Gerbong Kereta Tambahan Nomor 29
Wahyu Heriyadi

Tangan kita saling menggenggam, di jendela gerbong tambahan nomor 29. Tubuh kita pun saling merebah. Kuserapahi tubuhmu, dengan lumatan yang penuh desah, peluh saling berlarian di debar waktu. Jendela gerbong dengan cepat menanggalkan pemandangan-pemandangan sore, sawah-sawah yang terlumat hujan, hutan-hutan yang meranggas dan kesepian yang panjang di padang gersang. Menjelang malam hanya kita berdua yang terjaga. Aku dalam ragu yang dalam untuk menatap lagi wajahmu.

Suara gemuruh, rel yang melindas besi-besi tua dari kolonia lampau, keheningan yang kita sandarkan dalam pelabuhan ingatanku. Kau seakan bercerita dengan sudut mata yang mendebarkan luapan hujan, kuhujamkan pandanganku pada atap gerbong yang semakin bisu.

Perempuan yang tersenyum dalam balutan bimbang menawarkan bantuannya, disinggahinya setiap bangku, setiap kegelisahan, keheningan kita pun buyar. Lalu seakan kita berjalan dengan lapang diantara bangku-bangku, menjerat kegembiraan dan memintalnya dengan sulaman ingatan yang terpikirkan saat itu. 

Jalan tempuh yang memanjang diantara garis-garis rel, melelahkan penantianku untuk melepas kepulangan. Dalam perjalanan yang selalu ragu akan kepulangan itu. Apakah kau dalam kepulangan juga? Atau malah menuju sebuah kedatangan, jalan tempuh semakin melepuh dengan ingatan yang menjauh.

Ah, aku ingin mendekapmu dalam keheningan, dan kau pun berkeinginan untuk merasakan luasnya bangku-bangku yang kita duduki, diantara posisi duduk yang melelahkan kau menyatakan betapa lapangnya bangku-bangku yang kita pikirkan. Kau pun mulai menyandarkan keletihan meski dalam senyap.

Jendela gerbong mengabarkan tentang perjalan rel dari kolonia lampau, ketika besi-besi itu diangkat dengan susah payah, untuk menghubungkan akumulasi keuntungan-keuntungan yang diidamkan para pengangkut rempah, batu bara dan hasil bumi lainnya. Hutan yang dalam pun dijamah dan di buka jalurnya.

Rel itu telah dibangun oleh keringat yang panjang, hujan deras yang bersahutan, dan stasiun telah didera oleh dekade kesepian.

Ya, itu dahulu sayangku, mungkin telah lelap, tertimbun dalam ingatan lampau. Saat ini aku dan kau menikmati perjalan kereta ini dengan desah yang deras.

Kau berbohong tentang gerbong itu.
Tidak, sungguh.
Karena terlihat begitu meyakinkan, kurasa itu bohong.
Entahlah, aku juga tidak yakin.
Lalu.
Aku hanya rindu perjalan kereta, di gerbong yang sunyi.

Orang-orang berseragam memeriksa karcis. Ada beberapa penghuni bangku yang bimbang. Terlihat gelisah. Sebuah pistol terselip pada salah satu pria yang berseragam. Karcis pun ditunjukkan. Tenang saja, kita memiliki segudang karcis, tak usah bimbang dengan karcis-karcis itu. Berilah senyuman. Semuanya akan beres, kau juga tak usah bimbang, ayo berilah senyuman. Mereka pun akan lewat begitu saja, kuharap.

Hei, kita rangkai lagi jalinan pertemuan kita. Apakah aku pernah menanyakan jam berapa ini.
Itulah alasan klasikmu untuk bertanya.
Ya, memang. Lalu kau menyakan nomor bangku. Padahal inilah bangkumu.
Aku hanya memastikan.

Gerbong tambahan, dirangkai dengan tergesa beberapa jam sebelum keberangkatan. Tiga gerbong itu sengaja ditambahkan. Kereta hanya berangkat siang hari, itu pun hanya sekali. Kau tahu, seperti itulah. Kereta hanya ada satu dari stasiun. Gerbong tambahan memang sesekali saja dipasang. Sesuai kebutuhan.

Akankah kau menciumku lagi.
Sejak kapan aku menciummu.
Sejak larut dalam kegelisahan.
Aku hanya ingin memelukmu saja.

Perempuan yang tersenyum dalam balutan bimbang, terlihat hilir mudik. Begitu sibuk, langkahnya kadang tergesa. Membagikan senyum. Kutangkap dan tergambar dengan syahdu dalam ingatan. Meski sedang bekerja, kelelahannya sudah mulai terlihat, dan mengembang dengan sendirinya. Terlihat, semakin melelahkan saja pekerjaannya.

Aih, apakah kita nyaman dengan gerbong tambahan. Kurasa tidak, tapi mau apa lagi. Aku hanya bisa menerima, bahkan kalau saja karcis yang dijual hanya untuk berdiri, mungkin saja kubeli. Ya, mau apa lagi. Bisa dibayangkan selama perjalanan berdiri, atau d lorong antara bangku itu merebahkan diri.

Berbaur dengan barang-barang yang menumpuk, atau penjual makanan yang berlalu lalang. Ah, untung saja gerbong tambahan ini terlalu sepi. 

Kita tidak sedang di buru waktu, kan.
Iya.
Biarkan waktu yang mengejar kita.

Kurasa hanya aku dan kau yang merasakan getaran-getaran di gerbong ini begitu menggairahkan. Ingin kulucuti kata-katamu, kutelanjangi kalimatmu dengan senyum. Kurasa kau mengerti arti sorot mata yang ingin kutitipkan, aku yakin kau mengerti.

Saat ini jendela di gerbong hanya memberikan warna gelap, tapi aku masih bisa meraba wajahmu. Lekuk wajahmu kuhafal. Kugariskan pada ingatanku paling dalam. PStt. Jangan ada suara, kita dalam keadaan hening saja. Tahan saja, luapan kata dari bibir kita, biarkan kata-kata dari bibir kita menyatu, dan hanya aku dan kau yang merasainya. 

Hei, apakah aku ragu. Mungkin kau juga ragu. Ragu akan apa. Kereta berjalan terus, tanpa ragu. Kereta berjalan dan gerbong-gerbongnya mengikuti dengan patuh. Menuju pemberhentian yang telah kita pesan. Iya, sebuah pemberhentian yang telah kita pesan. Tak usahlah kita ragu, karena pemberhentian itu telah kita pesan, tujuan telah kita tetapkan. 

Tangan saling menggengam, pandangan saling mengiyakan. Senyum yang kita lakukan bersama memberi tanda bahwa aku telah siap, begitu juga denganmu. Tunggu, aku ingin menyusuri rambut panjangmu dulu, sebuah petualang yang mendebarkan, menjamah setiap lembar rambutmu yang tak terhitung. 

Kau pun membelai kumisku. Kau telusuri dengan tangan lentikmu, menyusurinya perlahan dan perlahan. Aku memejamkan mata, merasakan sentuhan jari lentikmu. Kau terus merasakan bibirku dengan jarimu. 

Menurutmu, dimana tempat paling romantis.
Tempat tidur.
Gerbong.
Kau begitu liar.
Kau mau menandai daerah kekuasaanmu.

Kudekap tubuhmu.

Mari kita lakukan, di gerbong tambahan ini. Hmm...
***

Di persimpangan, kereta yang kita naiki anjlok, tangan kita pun semakin erat, tubuh merapat. Gerbong-gerbong yang berbanjar seakan berhamburan.
***
Bung, kereta yang kau tumpangi telah ditutup berpuluh tahun yang lalu.
***
Awas. Kereta. Aih, tolol.
***


Tulisan Lain
Mencari jejak Gunung
Gendhotwukir
 
Tragedi Zakat dan Kebijakan Langit
Imron Supriyadi

Larutku Ceritaku
Irma Putri Hayanti


ceritanet©listonpsiregar2000