ceritanetsitus karya tulis, edisi 163 rabu 080909 

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

Gumpulan awan mendung pekat mula menitikkan titis-titis hujan. Setelah Suri menyeret langkahnya masuk ke kelas, dia terpaku di tempat duduknya dalam pasak rasa belahan jiwa yang kosong. Ingin sahaja dia merejamkan rasa benci untuk meneruskan hayatnya kepada dunia. “Saya mahu awak-awak semua mengarang sebuah cerita yang bertajuk Ibu. Mudah bukan? Interpretasi cerita terpulang kepada diri awak. Jumlah perkataan antara 200 sehingga 300 patah perkataan,” jelas Cikgu Dewi yang lantang memberi arahan. Awan Mendung Awan Harapan, Elmi Zulkarnain

Mak... kutuk saja aku
Sebelum uang sekolah melumat anganku
Sebelum guru menghukumku
Karena tak mampu beli buku
Mak cepat kutuk aku
Masa depan terlalu buram untukku
Seperti memacu dalam mimpi
Saat terbangun kuda hilang aku tak sampai

Mak, Kutuk Aku Jadi Orang Kaya
, Bambang Saswanda

Kepergian ayah dan ibu tak lepas dari perseteruan dingin dengan Pak De, yang sudah berkobar sejak aku masuk pesantren. Aku mendengarnya perseteruan ini bukan dari ayah atau ibu, tetapi dari Pak Lik yang menceritakannya ketika aku pulang ke Jawa. Akarnya rupanya sudah dalam karena sejak ayah mondok di pesantren Krapyak Yogyakarta, Pak De Dul sudah menganggu cita-cita ayah yang ingin menggali ilmu agama di pesantren. Pak De Dul memang cerdik dan mempengaruhi nenek dan kakek yang punyai tanah dan kebun luas. Maling dan Ustadz, Imron Supriyadi

ceritanet©listonpsiregar2000