ceritanetsitus karya tulis, edisi 162 senin 080825 

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

2.00 WIB : Oooo…oooo…letakkan senjata!
Sudah satu jam, tangan kanan Supran menggenggam sebilah belati. Nafasnya berhembus tak teratur. Meski berbatang-batang rokok telah habis dihisapnya. Kedua kakinya masih dirasakannya gemetaran, meski beberapa detik sempat kembali berdiri tenang. Apa yang dinantikan? Hanya sebuah pertikaian. Ia ingin pertikaian itu lekas selesai dengan jawaban siapa yang kalah dan menang. Agar amarah itu tak berkecamuk merambatkan akar sakit penyakit. Isebel
Abednego Afriadi

Kenapa di negara tercinta Indonesia --yang berlimpah sumber daya--  rakyatnya masih banyak yang miskin? Tidak terusikkah kita oleh fakta ini? Apa yang kita nggak punya? Batu-bara banyak. Minyak banyak. Nikel, tembaga, emas banyak. Tanahnya juga subur. Hutannya luas, Lautnya indah dan penuh ikan. Kenapa masih banyak rakyatnya yang jauh dari sejahtera? Kenapa? Pastilah ada yang salah. Pasti. Indonesia Presiden Hayat

Aku sempat mengenyam pendidikan pesantren selama tiga tahun. Perjalanan yang jauh dari cukup untuk menggali ilmu agama, tapi mungkin sudah cukup untuk memulai mengenal ilmu agama. Kenyataan pastinya adalah sudah menjadi keputusan ayah agar aku segera keluar dari pesantren, walau bagiku kebijakan itu sangat tidak masuk akal. Aku tak kuasa mendebatnya biarpun kegundahan dan seribu tanya yang terselip di batinku akhirnya tak juga bisa kutahan. Aku harus bicara pada ayah. Maling dan Ustadz Imron Supriyadi

ceritanet©listonpsiregar2000