Amputasi saja mulut politisi-politisi itu
Cangkokkan ke mulutnya bintang utara
(Hayat)
Kenapa di negara tercinta Indonesia --yang berlimpah sumber daya-- rakyatnya masih banyak yang miskin? Tidak terusikkah kita oleh fakta ini? Apa yang kita nggak punya? Batu-bara banyak. Minyak banyak. Nikel, tembaga, emas banyak. Tanahnya juga subur. Hutannya luas, Lautnya indah dan penuh ikan. Kenapa masih banyak rakyatnya yang jauh dari sejahtera? Kenapa? Pastilah ada yang salah. Pasti.
Marilah kita lepaskan sebentar hangat dan nyamannya pelukan istri, suami, atau anak untuk menginventarisir kesalahan-kesalahan. Bung Hatta rela menikah pada usia lebih dari 40 tahun karena lebih mementingkan Indonesia merdeka daripada kesenangan pribadi.
Marilah kita tinggalkan sejenak segarnya sayur asem, mak nyusnya iced karamel machiato dan lezatnya menu-menu di restoran favorit untuk belajar dari kesalahan-kesalahan tersebut dan memperbaikinya. Patih Gajah Mada bahkan bersumpah tidak makan buah palapa sebelum Nusantara bersatu.
Marilah kita luangkan waktu turun dari kursi empuk jabatan dan aktif berbuat sesuatu demi Indonesia yang lebih baik. Agar rakyat Indonesia lebih banyak yang sejahtera. Agar bangsa Indonesia punya bargaining position yang kuat dan tidak direndahkan di pergaulan internasional..
Lupakah kita pada Pangeran Diponegoro yang berani meninggalkan kemewahan dan privilege yang dimilikinya demi orang banyak dalam keranjang rakyat? Sultan Hasanudin juga. Tuanku Imam Bonjol sama saja. Everyone else must do so....everyone.
Lebih baik mati berdiri daripada hidup selalu berlutut. Punya nyalikah kita untuk berprinsip dan berbuat seperti halnya para negarawan dalam perjalanan sejarah Indonesia? Agar kita merdeka untuk memilih dan sejahtera. Juga agar kita punya kemandirian untuk mengelola sumber daya alam dan berdaulat penuh atas kekayaan. Orang Indonesia yang harus mengelolanya untuk kepentingan rakyat. Untuk anak cucu kelak.
Tidak malukah kita selalu menjadi kerbau yang dicocok hidungnya? Selalu tunduk pada tekanan internasional karena bargaining position yang lemah? Padahal kita luar biasa kaya.
Kita, bangsa Iindonesia yang harus berbuat.
Ngomong memang gampang, tetapi kalau berbuat jelas susah? Itu kan bukan tugas saya? Itu kan bukan urusan saya? Saya kan punya keluarga? Dengkulmu mlocot!
Bangsa kita memang penuh manusia egois terkutuk yang enggan rela berkorban demi Indonesia yang lebih baik. Manusia yang suka memeras susu tapi tidak mau memberi makan sapinya. Mau minum susu tapi tidak perduli kesejahteraan peternak.
Di dalam pembukaan UUD, salah satu tujuan negara Indonesia adalah memajukan kesejahteraan umum. Pasal 33 dan 34 UUD juga dengan sangat cantik menjelaskannya. Tapi seberapa keras pengelola negara bekerja untuk mewujudkan hal itu? Berapa banyak kontribusi rakyat Indonesia untuk memajukan kesejahteraan umum?
Aku sering bertanya ke sopir taksi, buruh pabrik, petani, karyawan toko, nelayan dan 'rakyat kebanyakan' yang merupakan penghuni mayoritas Indonesia. Sebagian besar mengeluh bahwa kehidupan sekarang lebih susah. Adakah parameter yang lebih objektif dan jujur untuk mengukur tingkat kesejahteraan umum selain hal ini? Lalu program pembangunan yang selama ini dijalankan buat kepentingan siapa? Buat kepentingan rakyat atau iblis?
Keringat rakyat yang kesusahan diatas bau ketidak adilan. Darah rakyat yang kesusahan tersebut merupakan bau “penindasan baru.” Ketika kau ambil keputusan tanpa memikirkan kepentingan rakyat, tak ubahnya kau seperti lintah yang menghisap darah mereka. Kau curi harapan dari jiwa-jiwa mereka. Kau khianati Undang Undang Dasar.
Saatnya untuk berubah. Saatnya berbuat sesuatu untuk Indonesia yang lebih baik. Indonesia sudah berulang tahun. Sebentar lagi pemilu. Momen yang tepat untuk mempertebal nasionalisme dan memilih pengelola negara yang berpihak pada rakyat.
Jangan pilih lagi calon pengelola negara atau pengelola daerah yang nggak punya visi, nyali dan konsistensi yang jelas untuk memihak rakyat. Kita berkeringat mendorong mobil mereka yang mogok, tetapi begitu mobilnya jalan mereka lupa sama yang mendorongnya. Lupa mensejahteraan rakyat. Semprul!
Pilihlah pemimpin dan pengelola negara yang punya visi, nyali dan konsistensi. Yang selalu mempertimbangkan kepentingan rakyat ketika mengambil keputusan. Kepentingan rakyat yang harus didahulukan, bukan kepentingan iblis.
Vox Populi Vox Dei. Suara rakyat adalah suara Tuhan.
***