ceritanetsitus karya tulis, edisi 161 rabu 080806 

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

cerpen Langit-langit Hati
Pinasti S. Zuhri

Aku ingin melihat kala langit gelap, merasakan guruh dan guntur menggetarkan kaki, menjadi saksi lenyapnya matahari dan hadirnya bulan, menyaksikan orang-orang pergi, dan terpaku sendiri di kaki malam.

Adakah suara kejenuhan meluruhkan perasaan?

Sekarang yang kulakukan hanyalah menunduk, menghempaskan tubuh pada sebuah angan. Keramaian ini adalah duniamu, jangan berlari, rangkullah kepenatan dalam suaramu. Detik-detik akan terus berlalu dan jawaban pasti selalu ada, tampakkanlah mukamu, jangan ada kecut di sana, karena kau tak berhak memilikinya. Dia hilang seperti angin.

Dikejauhan pandang kulihat ibu dan ayahku menempuh perjalanan panjang. Mereka mengandeng seorang anak; riang berlari-lari di jalan bertabur bunga dan rindang pepohonan yang menjaganya dari sengatan matahari. Kedua orang tuaku tersenyum. Anak itu dipeluk lalu digendong.

Jangan hanya melihat dengan matamu, kau rasakan lagi sesuatu yang tampak di matamu yang mungkin tak sama dengan rasamu. Lihatlah dengan hatimu.

Pohon-pohon itu melambai lagi, seakan mengajakku bermain, tapi kakiku enggan beranjak dari dinginnya air sungai. Rembulan memantulkan cahayanya, aku dapat bercermin; wajahku meliuk kesana-kemari, senyumku pun tak jelas, lalu gelembung udara berterbangan dari tepian pasir hitam yang kupijak. Kelelawar itu tetap seperti bintik-bintik hitam, mereka melayang dan menukik, menyelip di pepohonan, mereka tidak takut pada malam, mereka tidak mencemaskan kegelapan. Aku masih berdiri, diam terpaku merendam kaki di sungai, sendiri.

Sebentar lagi aku akan pulang, bila ibu sudah memanggil. Ibu yang tak jemu memberi segalanya, kasih sayangnya, cintanya, doanya, air matanya, tulangnya, darahnya, air susunya, tenaganya. Aku sayang ibuku.

“Pulanglah nak, malam telah larut, nanti kau masuk angin. Suara ibuku merdu sekali, lembut tak berbanding. Aku menoleh, dan tampak di mataku wajah cemas di antara kerutannya. Aku mengangguk. Istirahatlah, nanti lelah berselimut di tulangmu, lanjut ibuku ketika aku sampai di garang rumah panggung kami.

“Iya bu.. Aku menggandeng tangannya, hangat sekali. Tangan inilah yang membesarkanku, begitu kuat ia mencengkram waktu, menangkis kesengsaraan. Ia menggenggam harapan demi aku.

Aku berbaring di tikar purun, seketika mataku menatap atap rumahku, rumah kayu yang lapuk, sarang alab-alab di sana-sini. Aku menoleh ke ibuku yang duduk di dekat lampu minyak tanah yang redup, tangannya memegang sehelai baju, dan menusukkan jarum yang teruntai benang warna putih. Aku berbalik.

“Ibu perhatikan satu minggu ini kamu terlihat
gelisah, sering melamun dan menatap kosong. Ada apa Mud?” tanya ibuku.

Aku tak berani menjawab. Tentunya aku akan menjawab dengan kebohongan dan pasti ibuku tahu kebohongan itu.

“Tidak ada apa-apa bu,” jawabku pelan.
“Kamu bosan makan ikan asin,” lanjut ibuku.
“Tidak bu,” jawabku.
“Hidup ini seharusnya dapat berganti, seperti hari-hari yang kita lewati. Kita hanya melihat, menemukan, mengerjakan yang itu-itu saja. Dulu ibupun pernah mengajak ayahmu pergi dari desa ini, mencari penghidupan baru, mengadu nasib ke tanah orang.” Ibuku menarik nafas. Ia hentikan menjahit. Aku duduk menyambar segelas air dan memberikannya.

“Tapi, ayahmu orang yang gigih, dia tak begitu saja menyerah, ia terus menggarap tanah di sini. Ia berhasi, padinya tumbuh dengan lebat, sayur-sayurnya hijau, ikan-ikannya besar, tanah dan air di sini memberi kehidupan yang baik, sampai suatu saat air sungai mulai menguning, berkarat dan bau. Tanah-tanah kehilangan suburnya, pepohonan habis ditebang. Ayahmu protes, ia mendatangi pabrik yang merusak tanahnya. Ayahmu seperti banteng terluka, ibu tak dapat mencegahnya. Akhirnya puluhan penjaga pabrik mengeroyok ayahmu, tapi ia tak berlari, ia terus merangsak maju sampai akhirnya ia harus roboh.” Ibu meneteskan air matanya.

“Sudahlah bu, jangan dikenang lagi” kataku menunduk. Andai semua kenangan itu dapat kuambil dari ibuku tentunya ia takkan pernah meneteskan air mata lagi. Kuingin mengubur kenanganku itu jauh ke dalam perut bumi. Hilang, raib, musnah.

“Ayahmu sangat ingin menyekolahkanmu di kota, agar kamu pintar, agar kelak jika kamu pulang dapat membangun desa ini. Ia tidak ingin kamu seperti dia, yang hanya bisa bertani dan berladang.”
“Apakah ibu mengizinkan, jika Mahmud mencari penghidupan di tempat lain?”

Ibuku tersenyum; “Kau laki-laki, kejarlah apa yang kau cita-citakan. Ibu akan selalu mendoakanmu.”
”Lusa, Mahmud akan merantau bu.”

Ibuku mengangguk. Aku pamit, kucium kedua tangannya, kendati berat meninggalkan kampung halaman, meninggalkan semua dekat di hatiku, namun aku yakin semua itu takkan pernah hilang. Semua akan tetap seperti adanya sampai aku kelak akan mengubahnya.

“Selamat tinggal pohon kelapa, selamat tinggal pasir hitam, selamat tinggal dedauan layu,” batinku.
“Jangan pernah meneteskan air mata nak,” kata ibu membelai kepalaku.

Kulangkahkan kaki, di jalan tanah berlubang dan berdebu ini tanpa kusadari aku menyeret sepenggal kekecewaan, membawa beribu dendam. Ibuku, ayahku, dan semua penduduk desaku menderita akibat ulah segelintir orang yang mengejar tujuan tunggalnya dan menyingkirkan keberadaan banyak orang. Segelintir orang yang seharusnya menjadi tempat kami mengadu ternyata hanya bias berjanji dan bungkam. Mereka memalingkan muka untuk penderitaan banyak orang, sepertinya kami layak untuk disingkirkan.

Di kota aku mencapai kehidupan baru. Bermula dari perkenalan dengan teman di terminal antar kota. Dia menawarkan tempat tinggal, dia berikan aku pekerjaan, dia perhatikan aku. Aku berkumpul disana, membagi perasaaan, membagi suka dan duka, bercerita tentang sebuah kenangan yang pupus oleh kenyataan, bercerita tentang harapan, tentang mimpi.

Kami saling mendengar, saling mengerti, saling menyebar dendam. Sama sepertiku, mereka kecewa dan mereka bangun dari luka, mereka bangkit karena dendam. Senasib sepenanggungan, teman-temanku saling memberi hingga aku tak kurang sesuatu apapun.

Kulayangkan kabar ke desa, lewat bis antar kota. Ibuku pasti senang mengetahui anaknya telah memulai hidup baru di kota, telah memiliki pekerjaan. Uang pertama dari hasil kerjaku kukirim untuk ibuku, sedang untuk ayahku kusimpankan sebuah mimpi.

Detik, menit, jam, dan hari tak terhentikan. Aku sedang memutus dan menyambung kabel mesin listrik ketika sebuah kabar kuterima. Surat itu kubaca perih rasanya. Di desaku musim paceklik melanda, banyak orang yang pindah sebab tanah kering meretak. Orang serba kekurangan, harga-harga naik tak tentu, makanan susah didapat.

Seperti hujaman yang kembali melukai hatiku, memanaskan dendam yang sudah membara, ada api di sini, ada api di dadaku.

Malam itu, di sebuah rumah, di pinggir kota, aku berserta lima teman duduk melingkar. Tak ada yang dapat mendengar suara kami, bahkan dindingpun tak mengerti kalimat yang meluncur dari bibir kami. Kami sepakat menjemput ibuku. Besok, semua rencana kami akan terwujud.

Tibalah pagi, kuhisap dalam-dalam udaranya, masih terasa sejuk mengalir ke dadaku.

Pukul setengah enam tepat kami menyiapkan segala perangkat. Semua telah dibungkus, baik pakaian maupun kertas-kertas yang tersimpan di lemari.

Bis yang kami tumpangi telah sampai ke desaku. Perasaanku berkecamuk, seperti menginjakkan kaki di tempat yang tak kukenal. Cepat kulangkahkan kaki menuju rumah. Rumah-rumah panggung tampak kosong, sebagian besar bolong-bolong, sebagian lagi roboh. Kusapu pandanganku ke sekeliling desa, dan hanya tebaran debu bergelombang di udara kerontang. Desa ini telah lama ditinggalkan penghuninya.

Gubuk Ibuku bertambah reot, beberapa papan dindingnya mengelupas. Tak ada tanaman sayuran, tak ada pepohonan, tak ada ilalang. Sudah tak ada kehidupan lagi, kecuali suara mesin pengeruk dan asap pabrik, dan corong limbahnya yang telah menemukan surganya setelah berhasil mengusir penduduknya. Mesin-mesin telah mengganti orang-orang.

Kuberikan salam, ketika kakiku menginjak garang rumahku. Tak ada sahutan, kuputuskan untuk mendorong pintu tua itu. Aku langsung menghambur, kali ini tak dapat kutahan tangis. Tapi tangisku adalah amarah, tangisku adalah kepiluan seorang manusia.

Aku bersimpuh di kaki ibuku, wanita tua yang selama ini menjadi penerang hidupku. Ia terbaring lemah di tikar purun, tubuhnya kering, air dalam cangkir di sampingnya seperti debu yang melumpur. Aku terus menangis.

“Bu, Mahmud datang bu, maafkan Mahmud bu.” Kusentuh lembut tangannya yang tinggal kulit pembalut tulang. Perlahan mata itu terbuka, sayu. Jauh ke dalam mata itu aku melihat sesuatu yang tetap ada di tatapnya; sinar harapan yang tak pernah padam walau derita menggerogoti sisa hidupnya.

“Mud, kamu pulang nak?” kata ibuku parau.
“Mahmud akan bawa ibu pergi dari sini,” kataku sambil memberikan air minum yang kubawa. Air itu habis mengalir ke tenggorokannya. Aku seperti melihat air itu menyebar ke urat-urat di bali kulitnya yang kering. Kubiarkan sebaran air mendinginkan seluruh tubuhnya, membiarkan dia menikmati titik-titik air itu. Dan kugendong ibuku.

Kupanggil teman-temanku. “Kita kesana.”

Kelima temanku diam mengikut ke arah sungai. Perlahan kami berjalan hening mengendap diantara bebatuan. Satu jam kami menyusuri sungai. Seluruh tas telah kami kosongkan Lelah tapi lega; tugas pertama selesai sudah.

Aku pulang kembali ke gubuk ibuku. Kugendong ibuku menuju tepi jalan seperti menggendong nafas terakhir desa dan membawa nafas itu pergi untuk menghirup udara segar yang basah, bukan hawa kering yang beracun.

***
Pagi itu, ibuku tampak segar kembali. Aku bahagia melihatnya. Seteko kopi tersedia di meja ruang makan. Ibuku yang masih tertatih-tatih menyeduhnya. Tak ada lelah tertampak setelah perjalanan jauh.

Kuambil koran di depan pintu, kubuka perlahan. Cepat-cepat kunyalakan TV. Pemandangan itu terekam. Tercapai keinginanku untuk melepas dendam ayahku.

“Ayah, lihatlah aku anakmu telah bawakan
gugusan bintang, telah bawakan bulan, telah bawakan matahari. Aku bawakan awan putih, untuk menghiasi langit-langit hatimu, disana, di kehidupanmu yang kedua.”

‘…Ledakan telah menghancurkan sebuah pabrik...’ Kumatikan TV.
***
Lahat, 08 Juli 2008.


Tulisan Lain
sajak Gerimis di Rongga Tulang
E.M. Yogiswara

ceritanet©listonpsiregar2000