ceritanetsitus karya tulis, edisi 160 kamis 080717 

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

memoar Warung Mie
Presiden Hayat

Salah satu jam dinding di rumah makan ini menggoda perhatianku. Tidak seperti satunya yang menjengkelkan (mbelgedes; bergambar logo trondolo salah satu operator telepon), jam dinding imut ini bergambar sayur-sayuran. Ada wortel, sawi, kol, dan entah sayur apa lagi. Cocok sekali dengan makanan yang kupesan; Cap cay.   

Tapi bukan itu yang membuatku tergoda untuk terus memandanginya. Bukan itu. Tapi itu nanti. Ada sesuatu yang lebih menarik tentang rumah makan ini, jadi kuceritakan lebih dulu.

Dari segi menu, kata temanku --yang merekomendasikan aku untuk makan di sini-- tak peduli musim berganti, dari tahun ke tahun, ya hanya itu-itu saja; Nasi Goreng, Bakmi Goreng, Bakmi kuah, dan pesananku tadi; Cap cay.

Sebentar, go cap artinya limapuluh. Terjemahan bebas cap cay kan 10 ingredients? Biar saya hitung dulu. Wortel ada. Kol ada. Sawi hadir. Telur juga ada. Tomat? Siapa bisa lupa? Iblis inilah yang bikin ilatku mlocot karena ku embat duluan. Brocoli ada juga. Bakso? Absen, tapi suwiran daging ayam ada.

Kalau ditambah dua sayuran ijo-ijo yang –maaf– aku nggak tahu namanya, kok baru sembilan ya? Apa aku salah hitung? Eit!? Kok malah jadi Pak Bondan. Fokus, fokus.

Ragam minuman yang ditawarkan juga hanya Air Jeruk dan Teh beserta derivatif-nya; Teh Es Manis, Teh Es Tawar, Teh Manis Anget, Teh Tawar Anget, Es Jeruk, dan seterusnya. Jadi jangan nekat pesan Ice Caramel Machiato. Bisa-bisa, minum sepuluh kilo panadol pun tidak akan bisa mengobati pusing pelayannya.  

Desain interiornya apalagi. Najis surajis dengkulmu mlocot. Tiga perempat dindingnya ditempeli flyer dan barang-barang pemberian untuk promosi. Tak ubahnya iklan baris atau manasuka siaran niaga. Nempelnya asal-asalan pula.

Disamping jam mbelgedes tadi, ada iklan badut, flyer kalung biosfir, kalender promosi produk pompa, dan kalender lain dengan desain pasaran; kalender bertulisan besar mencolok nama suatu toko plus gambar-gambar artis kuru kemayu binti anorexsia.         

Pertanyaan pentingnya adalah mengapa dengan menu terbatas dan desain interior --yang bagiku sudah termasuk melakukan perbuatan tidak menyenangkan-- masih saja banyak orang-orang yang rela antri untuk makan disini?

Kalau alasanku bukan karena rasanya. Aku biasa makan kalau sudah lapar jadi apapun yang kumakan akan terasa enak. Aku lebih menikmati atraksi bapak penjualnya, yang seperti menari kalau menggoreng atau menyiapkan makanan. Menyenangkan sekali melihat orang yang melakukan sesuatu dengan asyik dan sepenuh hati. Aku tambah kagum padanya mendengar penjelasan dari pelayannya mengapa begitu adzan maghrib selesai dia pergi.

“Bapak sembahyang dulu pak,“ kata pelayannya.

Deg! Aku merasa kecil dan tidak ada apa-apanya dibandingkan dia. Mekipun tidak berbaju koko atau berpeci haji, tapi teladan perbuatannya membekas di hatiku. Dia lebih mementingkan perbuatan daripada atribut. Bukan sebaliknya. Sebenarnya aku sudah bisa menebak, karena di rumah makannya terdengar lagu-lagu religius dari suatu stasiun radio FM.   

First come first served juga diterapkan. Harganya --relatif-- tidak mahal dan untuk minuman tidak harus menunggu lama karena sudah disiapkan. Tinggal tambah air dan aduk saja. Pelayanannya yang baik bisa menghapus dosa disain interiornya --yang tergolong kriminalias tadi.

***
Sekarang waktunya untuk jam dinding bergambar sayuran itu. It’s time to reveal the secret. Aku tergoda karena dia berbeda dengan yang lain.

Tentu kita sering denger imponderables (pertanyaan-pertanyaan tentang misteri-misteri ringan yang mengusik perhatian kita) yang salah satunya adalah: Why do clocks run clockwise?

Nah. Imponderable di atas pastilah tidak akan ada kalau banyak dibuat juga jam seperti ini.

Betul. Sebuah jam yang jarum-jarum penunjuk waktunya berputar kebalikannya dengan kebanyakan jam-jam yang ada. Urutan angka-angkanya pun demikian. Bukan 12-1-2-3 dan seterusnya sampai 11, tetapi 12-11-10-9 dan seterusnya sampai 1.   

Caranya berbeda dengan yang normal dan mayoritas. Tidak lazim. Tetapi dia tetaplah jam yang tidak henti-hentinya mengingatkan betapa sangat berharganya waktu. Sesuatu yang sangat jarang kita sadari.
***


Tulisan Lain
l
aporan
Sembilan Juta Sepeda
Liston P. Siregar


sajak Kesunyian
Feri Hendriyadi


ceritanet©listonpsiregar2000