ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 15, Jumat 22 Juni 2001
___________________________________________________

novel Dokter Zhivago 15
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960, dengan penulisan ejaan baru

Nikolai Nikolayevich menyaksikan demonstrasi bubar dari jendelanya. Ia maklum siapa mereka dan ingin tahu adakah Yura diantara meeka. Tapi agaknya tak ada kawan-kawannya di sana, meskipun ia seolah melihat anak Dudorov itu --ia tak ingat betul namanya-- si berandal itu yang belum lama berselang dari bahunya dicabut sebutir pelor ; kini ia rupa-rupanya sudah kembali, menyusup kian kemari, padahal tak ada urusannya.

Nikolay Nikolayevich baru pulang dari Petersburg. Ia tak punya rumah petak di Moskow, tapi tak mau tinggal di hotel, maka menompanglah ia pada sanak-kerabat yang jauh, yakni keluarga Sventitsky. Mereka memberinya kamar pojok di 'entre-sol.'

Suami-istri Svetitsky tak punya anak, hingga rumah berloteng dua yang sejak dahulu kala disewa oleh almarhum orang-tua mereka dari Pangeran-pangeran Dolgoruky terlalu besar bagi mereka. Rumah ini sebagian dari kelompok gedung yang tak terurus dengan pelbagai gaya dan dengan tiga pelataran dalam serta sebuah taman yang terletak di tanah milik Dolgoruky, sebidang tanah tiga segi yang dilingkungi lorong-lorong sempit, terkenal nama kuno Muchnoy Gorodok.*

Meskipun jendelanya empat, kamar itu gelap dan penuh dijejali buku, kertas, selimut, gambar. Ada balkonnya yang merupakan separuh lingkaran di sudut rumah. Pintu-pintu kaca pada balkon ini ditutup karena musim dingin.

Pintu-pintu serta dua jendela membuka pemandangan ke jalan yang membentang sampai jauh, dimana nampak bekas jejak kereta salju dan rumah-rumah yang dibebani salju beku dengan dahan-dahannya seperti batang lilin yang mengukus, menjenguk ke dalam, seakan ingin melepaskan bebannya ke lantai kamar.

Nikolai Nikolayevich meninjau jauh. Ia berpikir tentang musim dingin yang lalu di Petersburg --tentang Gapon**, Gorky, pertemuannya dengan Witte***, para pengarang modern yang sedang laku. Dari 'rumah gila' itu lari ke ibu kota kuno yang tenang lagi sunyi, untuk menulis buku yang diangan-angankannya. Tapi keadaannya tak berangsur baik. Tiap hari kuliah --Sekolah Tinggi untuk Wanita****, Perkumpulan Agam dan Filsafat, Palang Merah dan Dana Pemogokan-- tak sesaatpun untuk mengerahkan otaknya. Dari panci ia telah terjun ke api. Yang diperlukannya ialah pergi ke Swiss, ke suatu daerah terpencil, ketenangan danau, gunung, langit, dan udara yang bergema dan bersemedi.

Nikolay Nikolayevich berpaling dari jendela. Inginlah ia mengunjungi seseorang ataupun jalan-jalan saja di lebuh, tapi ia ingat bahwa Vyvolochnov, penganut Tolstoy itu akan datang untuk membicarakan sesuatu urusan. Ia mondar-mandir dalam kamar dan pikirannya beralih kepada kemenakannya.

Ketika Nikolay Nikolayevich pindah dari bentengnya di sungai Volga ke Petersburg, ditinggalkannya Yura di Moskow, dimana ada banyak kerabatnya --para keluarga Vedenyapin, Ostromyslensky, Selyavin, Mikhael, Sventitsky dan Gromeko. Mula-mula Yura diseludupkan ke rumah si tukang kecek tua Ostromyslensky yang ceroboh itu, terkenal di kalangan famili sebagai Freddy. Freddy hdiup berzina dengan anak angkatnya Motya dan karena itu ia menganggap dirinya pendobrak adat pusaka serta perintis kemajuan. Ia menyalah-gunakan kepercayaan sanak-saudaranya sampai-sampai diambilnya uang yang diberikan padanya untuk keperluan hidup Yura dan dipergunakannya untuk diri sendiri. Yura dipindahkan ke keluarga Profesor Gromeko dan masih tinggal di sana.

Nikolay Nikolayevitch berpendapat bahwa suasana di lingkungan itu sangat sesuai. Anak perempuan mereka, Tonya, sebaya dengan Yura dan Misha Gordon, kawan dan teman sekolah Yura, sering bersama mereka.

"Itu tiga serangkai yang lucu," pikir Nikolay Nikolayevich. Ketiga-tiganya juga sangat gemar berkhotbah tentang kesucian. Tentulah tak menjadi soal kalau orang dewasa bertekun dalam kesucian tapi anak-anak ini melewati kesewajaran, sama sekali kehilangan kesadaran akan proporsi.

Mereka masih keanak-anakan, lagipula eksentrik. Apa saja yang berhubungan dengan kelamin, dicap 'rendah bui' oleh mereka dan perktaan itu dipergunakan sampai memualkan, pun mereka jadi merah padam atau pucat waktu mengucapkannya. 'Rendah budi' dipatrapkan untuk naluri, pornografi, percabulan dan hampir seluduh dunia fisika.

"Andaikata aku di Moskow," pikir Nikolay Nikolayevich , "tak kubiarkan sejauh itu. Rasa malu memang perlu asal terbatas........ "Ha! Nil Feoktissovich, silahkan!" Ia disela kedatangan tamunya.
***

*. Muchnoy Gorodok : Kota Tepung
**. Seorang pendeta dan pemimpin revolusi yang memimpin demonstrasi di Pelataran Istana Musim Dingin dalam tahun 1905 pada hari yang kemudian terkenal sebagai 'Minggu Berdarah,' ia dituduh menjadi agen provokator dan dibunuh kaum revolusioner.
***. Perdana Menteri dalam tahun 1905
****. Pelajaran-pelajaran universiter untuk wanita (perempuan tak diijinkan masuk universitas secara resmi)

 

ceritanet
kirim karya tulis
©listonpsiregar2000