ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 15, Jumat 22 Juni 2001
___________________________________________________


terbitan Tionghoa Atau Cina, Di Era Reformasi
A. Dahana

Di tengah eforia reformasi dan proses demokratisasi di Indonesia ada satu isu yang tak kalah gencarnya diperjuangkan, yaitu tuntutan sebagian anggota masyarakat etnis Cina untuk menghapuskan penggunaan istilah Cina dan menghidupkan kembali secara resmi istilah Tiongkok untuk Negeri Cina dan Tionghoa untuk mengacu pada bangsa dan keturunan Cina. Tuntutan itu timbul didasarkan pada asumsi bahwa istilah Cina dianggap sebagai kata yang digunakan untuk menghina, baik ke alamat Republik Rakyat Cina (RRC) maupun kepada kelompok etnik Cina atau yang sering juga diberi label menyesatkan ; keturunan atau nonpribumi --dua istilah yang hanya digunakan agar tidak menggunakan kata Cina. Tuntutan ini begitu menggebu, sehingga di kalangan beberapa pihak tertentu telah menimbulkan kesan bahwa itu telah melampaui proporsi yang layak.
selengkapnya


tentang penulis 15
 
esei Cedant Arma Togae
Maria Pakpahan

Kalimat Latin ini diartikan secara literal dalam bahasa Inggris 'Let arms yield to the gown,' yang singkatnya berarti kekuasaan militer adalah sub-ordinat dari otoritas sipil. Kalimat ini diucapkan oleh Cicero di De Officiis saat menjadi konsul, dan dengan tegas Cicero lewat kalimatnya ini menekankan supremasi sipil atas militer. Togae/toga/jubah melambangkan sipil, dan arma adalah militer. Dalam konteks situasi Indonesia saat ini, kalimat Cicero itu sangat penting untuk terus diingat dan diperjuangkan. Sementara kebanyakan fraksi di DPR sudah memutuskan perlunya Sidang Istimewa dan sebagai respon yang menarik Presiden sudah meminta rakyat pendukungnya untuk tidak datang berduyun ke Jakarta. Mengapa memakai kata rakyat, bukan massa pro Gus Dur sebagaimana media massa sering melaporkan?
selengkapnya

 


 

 

 

 

 


cerpen
Mata Istriku
Pulung Cipto Aji
Ternyata benar apa yang dikatakan yang lain, bahwa kita saling mencintai tanpa perasaan. Telah kehilangan banyak jejak persoalan yang satu-persatu kita sama-sama lupa. Tapi jelas dan gamblang, bahwa aku masih bersamamu dengan penuh kesadaran. Tepatnya seperti dua kaleng Bir Tiger yang tengah kandas ditenggak, dan berbaur dengan Chivas Regal yang masih separoh, plus tiga bungkus rokok putih yang tertelan di rongga paru-paru. Yang aku tahu kita tengah berjalan 3 mil, dari ribuan kilometer yang kelak pasti ditempuh. Serpihan hidup kita seakan gersang tanpa menyisakan amarah, penuh diselimuti kabut. Banyak ketidak tahuan, yang tampak dimataku hanya satu warna hitam.
selengkapnya

novel Dokter Zhivago 15
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960, dengan penulisan ejaan baru
Nikolai Nikolayevich menyaksikan demonstrasi bubar dari jendelanya. Ia maklum siapa mereka dan ingin tahu adakah Yura diantara mereka. Tapi agaknya tak ada kawan-kawannya di sana, meskipun ia seolah melihat anak Dudorov itu --ia tak ingat betul namanya-- si berandal itu yang belum lama berselang dari bahunya dicabut sebutir pelor ; kini ia rupa-rupanya sudah kembali, menyusup kian kemari, padahal tak ada urusannya. Nikolay Nikolayevich baru pulang dari Petersburg. Ia tak punya rumah petak di Moskow, tapi tak mau tinggal di hotel, maka menompanglah ia pada sanak-kerabat yang jauh, yakni keluarga Sventitsky. Mereka memberinya kamar pojok di 'entre-sol.' Suami-istri Svetitsky tak punya anak, hingga rumah berloteng dua yang sejak dahulu kala disewa oleh almarhum orang-tua mereka dari Pangeran-pangeran Dolgoruky terlalu besar bagi mereka. Rumah ini sebagian dari kelompok gedung yang tak terurus dengan pelbagai gaya dan dengan tiga pelataran dalam serta sebuah taman yang terletak di tanah milik Dolgoruky, sebidang tanah tiga segi yang dilingkungi lorong-lorong sempit, terkenal nama kuno Muchnoy Gorodok.
selengkapnya

 

 

ceritanet
kirim karya tulis
©listonpsiregar2000