ceritanetsitus karya tulis, edisi 159 kamis 080703 

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

cerpen Untaian Kata
Goran Petrovic
penerjemah Victor A. Pogadaev

Kalung dari untaian kata
Tuan rumah menempatkan kursi menjadi empat barisan. Di setiap kursi diletakkannya sehelai kertas acara. Nyonya rumah mengangkat kain berenda dari pesawat radio. Dia menggeletik jari untuk menarik perhatian para tamu. Sesudah itu menyetel pesawat supaya ianya menangkap kesunyian. Mereka duduk di kursi sebelah di barisan ketiga. Lelaki merasa agak selesa* sambil heran karena hal semacam itu masih ada. Perempuan duduk tenang dengan kedua tangan di perut dan asyik mendengar musik kesunyian.

Musim panas berkemuncak. Udara malam di kamar yang terlalu sempit untuk begitu ramai tamu itu pengap sekali dan karena itu tuan rumah bahkan terpaksa beberapa kali menghentikan konser untuk mengedarkan udara. Selama jeda yang kurang senang itu, para tamu mencoba melindungi diri dari bising luar dengan percakapan senyap. Pada suatu saat pandangan lelaki bertemu dengan pandangan mesra perempuan yang tetangga itu, dan wajah lelaki menjadi merah karena malu.

Nyonya sering datang ke sini?
Saya tinggal tidak jauh, jawabnya. Katakanlah, apakah tuan memerhatikan nada meriah dari kesunyian di bagian pertama?

Lelaki itu tersipu-sipu lagi. Dia tidak begitu pandai dalam musik. Sementara kesunyian asli mau timbul lagi entah dari mana, dia dengan asyik mencari alasan untuk menyambung percakapan. Tiba-tiba dia melihat di leher perempuan yang panjang itu sebuah kalung yang amat luar biasa. Maka pada awal jeda yang berikutnya dia dengan tersipu-sipu bertanya

Maafkan saya. Dari jauh saya tidak bisa mengerti apakah kalung Nyonya itu daripada mutiara atau daripada batu permata?
Bukan ini dan bukan itu, perempuan itu tesenyum.
Saya tak pernah melihat perhiasan semacam itu.
Perhiasan itu dengan sendirinya tidak jarang. Tetapi sedikit orang saja memakainya dengan cara itu.

Untuk sekejap perempuan diam seakan-akan tidak berani membuka segala rahasia.

Kalung ini dibuat dari untaian kata. Seluruhnya kira-kira dua puluh patah. Kata yang paling besar ialah CEMERLANG. Lagi ada dua KILAUAN, tambahan pula empat CAHAYA, dan sisanya sampai kancing ialah JEMEKI** yang kecil.
Saya tidak pernah memikirkan hiasan bisa diciptakan dari untaian kata, mengaku dia.
Tuan yang baik hati, percayalah apa saja bisa diciptakan dengan untaian kata. Lagi pula sekarang ini orang menggunakan kata kalau mau menciptakan sesuatu yang sama sekali berlawanan dengan artinya.

Tuan rumah sekali lagi menutup jendela. Nyonyai rumah tergesa-gesa menghalau sisa-sisa bising yang datang dari luar. Para tamu kembali duduk di tempatnya masing-masing sambil mengikuti kesunyian. Lelaki itu tidak melihat lagi ke arah perempuan di sebelah melainkan duduk menatapi kertas acara --sehelai kertas putih kosong, tetapi kesan wajah perempuan itu diamatinya dengan seksama. Perempuan itu kiranya sedikit lebih tua dari dia. Matanya besar, kulit berwarna gading gajah, senyuman tidak luput dari wajahnya. Gaun ringan dengan hiasan dari ranting-ranting ceri melekat badannya. Dia berwangi. Wangi khas. Lelaki menekankan tangan pada dada karena takut perempuan itu akan mendengar nafasnya yang berkerap-kerap. Tetapi apabila konser selesai dia tidak bisa bertahan lagi.

Puan begitu bagus berwangi, - dengan spontan terlanjur kata-katanya.
Terima kasih. Itu KEMENYAN.
Bagaimana kata Nyonya? KEMENYAN? Adakah itu seduhan herba-herba eksotik?
Bukan, itu kata KEMENYAN. Paham? Hanya kata sahaja.KEMENYAN. Begitu itu dinamakan, lebih tepat, disebut. Wangi bersumber persis pada kata itu.

Para tamu minta diri pada tuan rumah. Antara kursi yang sudah tidak menjadi barisan lagi, lelaki dan perempuan itu tinggal berdua. Perempuan kumat-kamit beberapa kata perpisahan biasa. Lelaki yang sedang menuju pintu keluar, mendengar bagaimana seorang kenalan mereka bersama mengatakan kepada perempuan:

Anna, saya harap kamu suka di sini?
Ya, segala-galanya Cemerlang, dia menjawab sambil melintasi ambang pintu dan menyampaikan kata terakhir itu kepada tuan rumah sebagai salam perpisahan.

Lelaki teringat bahwa dia bahkan tidak memperkenalkan diri kepada perempuan itu dan lari mengejarnya.

Anna, tunggu sekejap! Saya harus mengatakan siapa nama saya!..

Ambil ianya pada tepinya dan gulungkan sedikit

Baik, kata perempuan itu dengan tersipu-sipu.  Tetapi tidak penting siapa nama Tuan. Sudah masanya pulang. Nyonya patut menjelaskan sesuatu kepada saya. Mengenai wangi. Sudilah! dengan bergegas lelaki itu mengikuti perempuan yang sedang turun tangga.
Baiklah! perempuan berhenti. Misalnya, Tuan ada sepatah kata. Ambil ianya pada tepinya dan gulungkan sedikit. Tapi hati-hati, jangan terlalu kuat. Cukuplah kalau satu-dua titisan air keluar, tetapi jangan memeras kuat. Biarlah ianya masih ada kesempatan kembali ke wujudnya dahulu. Wangi saya diperas dari kata KEMENYAN.
Nyonya ada-ada sahaja! Itu mustahil. Nyonya kiranya bergurau. Bagaimana itu bisa mungkin…
Baik, katakanlah sesuatu, dia menatapi terus bibir lelaki.
Apa mesti saya katakan?
Apa sahaja. Ada baiknya kalau sesuatu yang indah, tak penting justru apa. Pasti Tuan tahu sepatah dua kata yang mengandungi keindahan.
CIUMAN! katanya dan pada saat itu juga menyesal karena takut mungkin terlalu jauh terlanjur.

Anna kiranya tergempar. Tetapi serentak membuat beberapa gerakan halus, seakan-akan mau mencubit apa yang tadi dikatakan oleh lelaki itu. Selepas itu dia dengan hati-hati menggilas CIUMAN dengan jari. Kemudian dengan hujung jari telunjuk dia menyapu bibir bawahnya. Di bawah jari tampak tanda bekas lembap. Sinar-sinar cahaya dari sekitar bertumpu pada jalur yang merah berkilau itu.

Alangkah indah kata Tuan, dia membisik sambil  terus turun tangga.
Tunggu! Tunggu dahulu! Mari saya MENIKMATI wajah Nyonya, pekik lelaki di belakangnya dan masuk lobi rumah di mana pekikan itu berkumandang.

Perempuan menoleh ke belakang seakan-akan tidak ada jalan keluar untuknya dan bersandar pada dinding. Dia menyerah saja kepada kata itu, kata MENIKMATI yang menggeluncur secara halus pada rambut, lalu secara berghairah pada leher, kemudian secara cepat di belakang telinga, secara memilukan pada bahu, secara bergelombang di mana dadanya turun-naik. Bila kata MENIKMATI itu bergolek turun melalui perutnya dengan menempelkan gaunnya pada pangkal paha dan tulang belakang, bila ranting-ranting ceri yang dilukis bergoyang kerap maka dia dengan suara parau berkata.

Tuan berbakat. Kalau Tuan mau, saya bisa menunjukkan kepada Tuan kamus-kamus saya.

Dengan diam mereka turun dua tingkat lagi. Di depan flatnya Anna menyebut kata ANAK KUNCI, memasukkannya ke lubang kunci dan pintu terbuka.

Pikirkan baik-baik sebelum masuk supaya nanti tidak menyesal. Cukuplah satu kali mengalami kekuatan sebenar kata, maka kata itu akan semakin kejam dan tak berbelas kasihan hal mana bisa menyakiti hati Tuan. Ada kalanya susah untuk berhayat terus.
Tak apalah, kata lelaki itu.
Kalau begitu, masuklah!

Semakin kerap dan kerap
Tak pernah dia melihat flat yang begitu aneh diperlengkapi dengan perabot. Di lobi, mangkuk penuh dengan berpuluh-puluh nama buah-buahan berdiri. Di dekat pesawat telepon, SELAMAT PAGI bertenggek. Di lantai tidak ada permadani atau tikar melainkan kata PANAS yang tertumpah. Gambar-gambar dilukis dengan nama warna cat. Kain gebar ditenun daripada LEMBUT. Tingkap ditutup dengan JARING yang menyaring bising jalan. Di atas meja ada GUNTING, dan gaun yang belum selesai dijahit dari DAUN-DAUN bermacam-macam bentuk dan corak warna. Di kamar terdapat banyak buku.

Tolong duduk, kata perempuan dengan melambaikan tangan ke arah dipan panjang dan selepas itu menunjukkan kepada lemari-lemari yang penuh dengan buku. Buku mana yang Tuan lebih suka?

Terkejut dia membaca sekali imbas judul-judul yang ada di lipatan belakang. Di lemari terdapat hanya kamus. Ratusan kamus. Besar dan kecil, berukuran saku dan dalam beberapa jilid, dengan kulit lembut dan  huruf-huruf emas, buku ensiklopedi, dan buku rujukan, banyak kamus dalam beberapa edisi, kebanyakannya dengan penunjuk halaman DARI SINI atau SAMPAI SINI. Perempuan mengambil sebuah buku, membuka secara sembarangan dan membaca:

CINTA.

Dan meskipun jarak antara mereka beberapa langkah, lelaki merasa bagaimana kata itu menyelinap di belakang leher bajunya, bergolek melalui belakang, masuk di bawah ketiak, mengalir ke dada, menggeleteknya di antara tulang rusuk... Agak terlambat dia mendengar bagaimana perempuan itu berteriak kepadanya:

Cakaplah! Cakaplah sesuatu kepada saya! Habis, cakaplah!

Dia mula menyebut kata-kata dengan mencoba mengucapkannya seberapa dekat yang bisa kepada artinya:

GEMETAR, LUTUT, LEMAH

Dengan menggeletar perempuan duduk tak berdaya pada kursi di depannya. Kata yang kedua memisahkan lututnya. Dia melepaskan nafas:

KERAS

Lelaki merasa bagaimana tubuhnya menjadi tegang, bagaimana kekuatan menyerapinya. Dan dengan penuh gairah dia mula membisik langsung ke arah antara lutut perempuan:

MEMBELAI.
NAFAS, menjawab perempuan.
MENGUATKAN, kata lelaki.
OTOT.
KUNTUM.
MENJALIN.
GELOMBANG.

Mereka duduk berhadapan dan bercakap semakin kuat, semakin kerap, semakin sering. Dan setiap patah kata ada pada tempatnya.

TANGAN, SUTERA, TUNAS, LEMBAP, LEBIH KUAT, EPAL, MEMUKUL-MUKUL, BUMI, TENGAH HARI, HUTAN, CAHAYA, GELANGSAR, PANTAI, AIR DERAS, JURANG.
CUKUP…

Serpihan bunyi dan tetek-bengek lain
Dengan langkah pertamanya di jalan, lelaki diliputi oleh bising bandar. Dari segala ceruk terdengar serpihan bunyi, carik-carik basi percakapan, omong kosong yang dimakan cacing. Janji meriah bersombong-sombong. Ratapan sayu yang mengheret-heret. Ucapan terima kasih yang merungsingkan gemerincing. Sumpah yang remeh berbelit-belit. Rayuan yang jemu mengegah. Siapa yang mengalami kekuatan kata biar sekali pun, maka ditakdirkan untuk selama-lamanya menderita siksaan yang disebabkan oleh kata kosong.

Dia merasa muntah. Kini, seperti dia diperingatkan perempuan, kata-kata tanpa arti dan makna melukai perutnya. Karena kesakitan maka terlepaslah dari mulutnya:

KESUNYIAN!

Dan dia meneruskan perjalanannya dengan mencoba tidak menginjakkan kaki pada sampah bunyi kosong dan tak bermakna yang ditaburkan di kaki lima. 
***
*selesa : lega, leluasa
**jemeki : kida-kida, perhiasan pada tepi selendang dibuat dari emas

Tulisan Lain
sajak Pada Sebuah Hujan
Gatot Arifianto

ceritanet©listonpsiregar2000