ceritanetsitus karya tulis, edisi 159 kamis 080703 

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

sajak Pada Sebuah Hujan
Gatot Arifianto

laki laki adalah cemara
yang bertahan dari invasi angin dan hujan!
*** Nusantara, 2006

Tragedi Transendental

Pada sudut istal yang rapuh bumi ratapi hitam nasibnya
dibiarkan nazar di atas jerami lunglai membiru
tanpa hiasan kafan walau sehelai. Sementara
harimau menyaksikan dari balik sayap belalang
Kuda hitam meringkik, bersimpuh, cumbui kaki bumi
“siapa ayah bayi perut bumi?”
Pada keranjang seutas tali ia menyapa
      
Bilamana halilintar membelai punggung langit
bahasa bahasi bungkam membiarkan gulma berlari pergi
tinggalkan keloid pada wajah bumi memar berkarat
“Di mana bulan?” parade bintang ayunkan seribu langkah
membiarkan gugusannya berantakan semrawut      
Letusan gunung menjadi jawaban

Bumi mendekap bayinya
Bulan selimuti bumi membiarkan darah lumuri tubuhnya Bayi perut bumi menyeringai begitu perkasa melebihi kuda hitam! “Biarkan bayimu menyantap lahar ataupun magma” bisik rembulan mengurai rambut bumi Bayi perut bumi mengaum kembangkan sayap dan terbanglah ia jelajahi zenith-zenith malam Mencari kedamaian atas nasib bumi
***Nusantara, 2006

Nilai Cinta
kau paksa kejantananku melingga sewaktu malam diam-diam selinapkan sepi di kegelisahan ujung rambutku. hujan yang kau panggil sore tadi, deras, selimuti keakraban jemari berpagut tanpa menanggalkan dogma yang bermukim di jiwa. tetapi tak harus kita tertawa alpa kalau mentari berdecak kagum di balik mendung yang kasmaran estetika rambutmu atau ketika elra peri kebijaksanaan datang membawa seikat bintang takjub pada keberdayaan kita menghalau birahi yang hendak mendaratkan kita pada lubuk busuk.

di bulan, kekasih, alam mencatat nilai keseganan kita terhadap tuhan, sesungguhnya
*** Nusantara, 2000

Tulisan Lain
cerpen
Untaian Kata
Goran Petrovic
penerjemah Victor A. Pogadaev


ceritanet©listonpsiregar2000