sajak Sebuah Kata
Herry Sudiyono
sebuah kata terlahir dengan pijar tanah berjalin di akar-akar yang mengintip kepada cahaya di luar, (tuliskan sesuatu, ucapmu, tuliskan apa saja bila kita tak lagi bisa)
Nu, sungguh kita tak lagi bisa…
di beranda
selarik cahaya singgah di beranda ketika kau tertegun oleh sebuah kata yang purba –seperti terdengar derak patah, sesaat lalu kau memercik, larut pada cuaca
|
penggalan
atau sebait “halo, siapa?” menjuntai di antara kabut yang tersesat dan lampu-lampu telah padam ketika sebuah jejak pulang ke horizon, arah yang menyepi
kembali malam kepada kita
kembali malam kepada kita, tanpa nama,
tanpa ketuk di pintu, di pesiangnya jelaga di kaca lentera
-sebaris firman mengembun ketika bertanya kenapa,
kau tak bisa berkata
|