Percayalah. Kalau malam ini saya mengalami susah tidur, itu bukanlah karena house music remix yang sedang berdentam di sebelah rumah rumah emak kami di kawasan Prabusari, kota Prabumulih, Sumatera Selatan. Tapi karena kegelisahan. Sebuah kegelisahan besar yang amat dan sangat mengganggu saya yang notabene asli ‘orang kota’ --telah dilahirkan juga dibesarkan di beberapa kota besar di Indonesia.
Saya mirip menangis. Seandainya saya penduduk asli di kota mungil ini, seperti suami saya yang memang datang bersama saya untuk mudik, maka saya akan segera merasa banyak kehilangan hal-hal yang saya rindukan dari kota kelahiran saya itu: suasana asli ke-prabumulih-an!
Atau… Apakah memang Prabumulih sejak awalnya sudah begini? Penuh dengan suara house music remix dari rumah-rumah para empunya hajat, lengkap dengan perempuan menor dan muda-mudi mabuk sambil gedek? Saya yakin tidak.
Tentang musik yang menurut saya sangat mengganggu rasa dan telinga itu --yang menurut beberapa sumber dapat menurunkan konsentrasi dan kesadaran para pendengarnya sehingga sering dimanfaatkan untuk sarana pengiring mabuk-- saya memang mendengarnya sendiri, dengan jelas dan bukannya hanya sekali. Sebab seorang tetangga di kampung kami itu kebetulan adalah penggemar jenis musik demikian, sehingga hampir saban hari saya mendengar dentum yang keluar dari electone keyboard di rumahnya. Namun, tentang kelakuan muda-mudi mabuk, dan kehadiran perempuan-perempuan berpenampilan tak patut, emak kamilah saksi matanya. Pernah miris hatinya menyaksikan pesta semalam suntuk di rumah tetangga depan rumahnya. Oh!
Pertanyaannya adalah kenapa…?
Kenapa harus sebuah kota mungil yang kaya dengan tradisi asli seperti Prabumulih teracuni oleh peradaban ‘setengah kota’ seperti itu? Sungguh! Musik hingar yang disebut orang banyak sebagai house music remix bukanlah musik pilihan buat penduduk ‘asli’ kota, barangkali itu adalah musiknya kaum urban. Hei, atau memang itukah jawabannya? Kaum urban kotalah yang telah membawanya pulang ke kampung halaman mereka seperti Prabumulih ini? Duh, sayang sekali…
Ya, barangkali. Kaum urban sendirilah yang telah menciptakan house music remix di kota perantauan dengan memanfaatkan teknologi mesin musik, mempulerkannya di antara kelompok mereka sendiri lalu membawanya pulang ke kampung halaman mereka. Dengan anggapan bahwa house music remix ini adalah musik keren produksi kota yang gaul. Oh, tentang salah serap atau cerna kata gaul inipun telah sanggup membuat saya mbelenger. Oh!
Demi mendapat gelar anak gaul yang tidak kuper dan asli ngetrend, banyak orang muda di Prabumulih yang sibuk me-rebonding rambutnya. Tiga dari lima pelanggan sebuah salon yang sempat kami singgahi, adalah pasien rebonding, dua sisanya memerlukan dua jenis pelayanan yang berbeda, yang satu membutuhkan pengecatan rambut dengan warna hitam --seorang bapak berumur setengah baya-, dan, syukurlah, yang lainnya adalah keponakan kami, yang butuh dirapikan potongan rambutnya.
Yang menarik, satu di antara tiga pasien rebonding adalah laki-laki, meskipun dari penampilannya cukup terlihat sebagai lelaki feminin. Entahlah. Sebab pada hari yang lain saya telah melihat juga seorang lelaki yang sangat maskulin, yang juga telah me-rebonding rambutnya sambil melengkapinya pula dengan potongan rambut a la Dao Ming Zhe --tokoh film mandarin Meteor Garden. Si maskulin korban rebonding itusaya temukan di acara akad nikah seorang kawan di Palembang. Dan, astaga, hari itu paling tidak saya menemukan dua orang tiruan Dao Ming Zhe pada saat dan tempat yang sama.
Sekali lagi, saya ini tidak sedang terganggu, benci apalagi alergi terhadap bentuk budaya populer seperti di atas. Saya hanya menyesali penyerapannya yang hanya setengah. Segala tindakan tidak lagi didasarkan pada sebuah alasan yang jelas dan sesuai kebutuhan, misalnya: “Saya keritingkan rambut saya sebab helainya tipis sekali dan jumlahnya sedikit pula” tapi “Saya rebonding rambut saya ya karena sedang ngetrend saja…” Oh!