ceritanet
                                      situs karya tulis, edisi 157 kamis 050608

sampul
esei
sajak
laporan

cerpen
novel
memoar
komentar

terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet


sajak Setangkai Puisi Di Malam Bulan Separuh, Andhika Mappasomba
Baso Alang

setelah puisi ini aku bacakan
akan ada hati yang berdarah
sebab ia kubacakan dengan napas tersengal
dan ditulis dari tinta darah dan perahan air mata
yang dirangkai dari sisa kejujuran yang tergali dari kesadaran

wahai bulan separuh
simaklah jiwa yang terluka
tentang sebuah pengakuan yang mungkin tak sempurna
tentang anak manusia yang akan melangkah ke medan peperangan
untuk menaklukkan puncak-puncak rindu menjadi perpisahan

dua anak manusia yang mungkin saling mencintai
mengantarnya ke dalam pintu-pintu penutup kisah yang haru

wahai bulan separuh
malam ini
simak dan dengarlah pengakuannya

aku sangat mencintainya
merindukannya tanpa ujung batas
menyanyikan namanya dalam senyapku mengarung malam
walau kutahu jarak yang tak mungkin kulipat
dan hadir menatap matanya dalam sekedip mata setiap perpisahanku
aku sangat mencintainya
merindukannya di setiap tarikan napasku
dan bahkan kurasakan tatapannya selalu hadir dalam aliran darahku
bayangnya seakan tak pernah lepas menjadi selimut dalam tidurku

bagiku
menatap matanya adalah kesejukan
seperti sentuhan sutera dan belaian butiran salju di tengah gurun

wahai bulan separuh
pernahkan kau melihatnya merindukanku juga
seperti kerinduan dahsyat yang selalu kupendam
pernahkah ia mengerti tentang rindu dan kedamaian cinta ini

wahai bulan separuh
malam ini
kurasakan cahayamu dipaksakan menjadi purnama
lalu merneteskan air mata
adakah itu air matanya yang menyesali diam dan ketidakmengertiannya
atau itu adalah tetesan darahku sendiri yang akan mengakhiri kisah cinta ini

malam ini
dengan segala kesadaran kunyatakan rasa dengan seksama
aku menyudahi segala kisah
menutup ruang rasa dengan paksa

setelah puisi dan kisah ini usai
izinkanlah aku melangkah pergi
menangis diam-diam
mungkin membawa rasa sesal yang tak terbahasakan

malam ini dengan kesadaran yang tersisa
kunyatakan rasa dengan seksama
aku menyudahi segala kisah
menutup ruang rasa dengan paksa

izinkanlah aku pergi
menghilang dengan malam
***

*Setelah Irfan Palippui usai membacakan puisi ini di atas panggung, tepat ketika bulan separuh di langit Pinrang merangkak ke barat, ia  menyudahi kisah cinta asmaranya dengan Dhede, kekasihnya yang menyaksikannya membacakan puisi ini.
** Kabar terakhir, Dhede sudah menikah

Tulisan Lain
laporan Musi Terus Mengalir
M. Arpan Rachman

laporan
Sex and The City di New York City
Maya Maniez

memoar
Ketika Syukur datang dari Sebuah Pub
Presiden Hayat
ceritanet©listonpsiregar2000