ceritanet
                                      situs karya tulis, edisi 157 kamis 050608

sampul
esei
sajak
laporan

cerpen
novel
memoar
komentar

terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet


memoar
Ketika Syukur datang dari Sebuah Pub
Presiden Hayat

Penyanyi cantik berbaju minimalis itu mendatangi meja kami begitu istirahat dimulai.

“Nyanyi lagi ya bang nanti. Tapi samaku.”  Aku hanya menggeleng. Teman yang duduk disebelahku beranjak dari kursinya, menawarkan segelas long island, dan mem-fait accomply penyanyi itu untuk menggantikan dia duduk disebelahku. Beruntung suasananya gelap, jadi tidak ada yang melihat rona merah yang --avrakedavra-- tiba-tiba muncul menggambari wajahku. Kilatan sinar laser hijau kuning merah juga belum mengenai giliranku.  

“Nyanyi lagi ya bang nanti, suara abang bagus,“ penyanyi lain, dan anggota band bergiliran menyalamiku. Menyapaku dengan ucapan yang sama. Sekarang, hampir semuanya berkumpul di meja kami.

Temanku yang tadinya duduk disebelah, kulihat, sudah berbincang mesra dengan PR pub yang sejak kedatangan kami sudah menyambut dan menemani. Sedari tadi, perempuan cantik ini dengan sabar dan ramah menjaga agar kami semua betah. Bahkan beberapa saat kemudian dia sudah menemani temanku berdansa, mesra sekali.

Nada-nada rancak menghentak, menyihir kami semua untuk bergoyang. Tapi aku memilih asyik menenggelamkan stress dan kepenatan ke dalam lime squash yang segar. Atau menerbangkannya melalui asap Marlboroku.

“Kok diam aja bang!” Kuletakkan gelas. Aku menoleh kearah penyanyi itu.

“Aku. Sedikit bicara, banyak bekerja.“
“Ha..ha..ha,“ dia terbahak-bahak.

    

 

 

“Kalau hanya diam saja, buat apa kesini,“dia coba menyeret obrolan manjanya.
“Teman-teman mengajakku dan aku menghargai ajakannya. Refreshing! Mencari kunci kebahagian mungkin?“
“Ha..ha..ha..Abang salah. Tidak ada itu kunci kebahagiaan karena pintunya selalu terbuka. Setiap orang akan bahagia kalau bersyukur. Kebanyakan orang hanya fokus pada apa yang diinginkan bukan fokus pada apa yang dimiliki.“  

Aku merenungkan ucapannya dan nyengir. Aku menemukan pernyataan atau proposisi menarik itu di sini. Di pub!

Tiba-tiba matanya menatap nakal kearahku. Bahunya hanya digoyang-goyangkan sedikit. Tapi asyik banget dilihatnya, hingga menulariku bergoyang. Dari tempat dudukku, dengan mengacung-acung kan telunjuk kiriku, aku mencoba menyelaraskan gerakan tubuh bagian atasku dengan musik. Meskipun wagu, tapi cuek.

There is no right way to deal with this, right?. Just shake your body! step aside the f…… role (of dance). That’s it!   

Tapi dasar sudah capek banget. Mood-ku cepat betul hilang. Aku malah sempat tertidur meskipun hanya duduk di kursi. Tahu-tahu, live music sudah mulai lagi.
***

Bersyukur. Kebanyakan dari kita baru mampu mengimplementasikannya di mulut saja. Atau mungkin baru sebatas menggumamkannya dalam hati. Bersyukur adalah kata kerja. Mengucapkan Alhamdulillah atau Puji Tuhan bukanlah akhir dari bersyukur. Tetapi awal untuk berbuat yang lebih baik.

Kita bersyukur karena punya pekerjaan. Kita bersyukur karena tidak harus berbaju minimalis di malam yang dingin untuk mendapatkan uang. Jadi mari kita cintai pekerjaan yang sudah kita miliki. Kita kurangi mengeluh, kita naikkan standar, dan kita jaga mutu pekerjaan kita.

Mari bung!

Tulisan Lain
sajak
Setangkai Puisi Di Malam Bulan Separuh, Andhika Mappasomba
Baso Alang

laporan Musi Terus Mengalir
M. Arpan Rachman

laporan Sex and The City di New York City
Maya Maniez
ceritanet©listonpsiregar2000