memoar Ketika Syukur datang dari Sebuah Pub
Presiden Hayat
Penyanyi cantik berbaju minimalis itu mendatangi meja kami begitu istirahat dimulai.
“Nyanyi lagi ya bang nanti. Tapi samaku.” Aku hanya menggeleng. Teman yang duduk disebelahku beranjak dari kursinya, menawarkan segelas long island, dan mem-fait accomply penyanyi itu untuk menggantikan dia duduk disebelahku. Beruntung suasananya gelap, jadi tidak ada yang melihat rona merah yang --avrakedavra-- tiba-tiba muncul menggambari wajahku. Kilatan sinar laser hijau kuning merah juga belum mengenai giliranku.
“Nyanyi lagi ya bang nanti, suara abang bagus,“ penyanyi lain, dan anggota band bergiliran menyalamiku. Menyapaku dengan ucapan yang sama. Sekarang, hampir semuanya berkumpul di meja kami.
Temanku yang tadinya duduk disebelah, kulihat, sudah berbincang mesra dengan PR pub yang sejak kedatangan kami sudah menyambut dan menemani. Sedari tadi, perempuan cantik ini dengan sabar dan ramah menjaga agar kami semua betah. Bahkan beberapa saat kemudian dia sudah menemani temanku berdansa, mesra sekali.
Nada-nada rancak menghentak, menyihir kami semua untuk bergoyang. Tapi aku memilih asyik menenggelamkan stress dan kepenatan ke dalam lime squash yang segar. Atau menerbangkannya melalui asap Marlboroku.
“Kok diam aja bang!” Kuletakkan gelas. Aku menoleh kearah penyanyi itu.
“Aku. Sedikit bicara, banyak bekerja.“
“Ha..ha..ha,“ dia terbahak-bahak.