Dan begitu film akan dimulai, para penonton --tanpa dikomando-- bertepuk tangan dengan sangat antusias. Seperti layaknya menyaksikan pertunjukan teater di depan panggung broadway. Selama pemutaran pun, mereka sangat ekspresif. Tertawa lepas dan sesekali juga terdengar tepuk tangan.
Jelas ini bukan pertama kali aku nonton di bioskop di Amerika, tapi sepanjang sejarah bioskopku di Amerika, baru kali inilah aku melihat tingginya antusias dari penonton dan betapa ekspresif mereka. Seperti menyaksikan pertandingan olahraga. Dalam bayanganku, mereka sepertinya bangga dengan apa yang digambarkan dalam film tersebut.
Film yang banyak bercerita soal fasion dan label-label mahal tersebut sedikit banyak memang menggambarkan kehidupan para perempuan New York. Maka tak heran kalo NYC jadi salah satu kiblat perkembangan mode dunia.
Selama tinggal di NYC, tak banyak kenal orang Indonesia yang kukenal. Tapi dari semua teman-teman perempuan --dari berbagai kalangan umur-- para New Yorker Indonesia itu memang sangat peduli dengan mode, meski tak selalu yang mahal. Dan sepertinya langsung atau tidak, mode mempengaruhi pergaulan dan cara pandang masyarakat NYC.
Aku yang selama ini tak terlalu peduli mode dan cenderung cuek dengan penampilan, sempat kena kritik usai menyaksikan film tersebut. Usai menonton Sex and the City Kedua teman New Yorkerku itu berjanji akan ‘mempermak’ aku. Menurut mereka agar aku bisa masuk dalam pergaulan masyarakat kota NYC yang modis.
Hey Welcome to NY! The city
***