ceritanet
                                      situs karya tulis, edisi 157 kamis 050608

sampul
esei
sajak
laporan

cerpen
novel
memoar
komentar

terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

 

laporan Sex and The City di New York City
Maya Maniez

Bagaimana rasanya menyaksikan sebuah film yang mengambil setting di tempat kita tinggal? Antusias. Begitulah yang kurasakan saat menyaksikan film Sex and the City, yang memang heboh dan laris itu.

Aku tak pernah menyaksikan serial Sex and the City saat  diputar di stasiun TV kabel HBO, antara tahun 1998 sampai 2004. Namun serial yang menggambarkan kehidupan 4 wanita karir usia 30-an di glamornya kehidupan di New York City ini  sangat terkenal, terutama di kalangan wanita. Aku jadi ikut-ikutan tertarik ingin menyaksikan bagaimana filmnya. Apalagi hampir semua media lokal gencar sekali memberitakannya.

Tak terkecuali koran nasional New York Times tak mau ketinggalan dengan deman Sex and the City. Hampir semua stasiun TV lokal selama 1 minggu memberitakan bagaimana hebohnya film yang dibintangi Sarah Jessica Parker, Cintya Nixon, Kim Catrall, dan Kate Davis ini. Lengkap dengan interview pemerannya.  Maka tak heran saat pemutaran premier di Radio City Music, karpet merah digelar dan semua stasiun televisi menyiarkan langsung di tengah-tengah siaran berita lokal  mereka.

Dalam minggu pertama pemutarannya, film yang serialnya sempat menyabet penghargaan Emmy Award dan Global Award ini, masuk box office dengan pendapatan US$ 56 milyar. Mengalahkan film Indiana Jones yang memang sudah masuk minggu ketiga pemutarannya.

Penasaran dengan filmnya, bersama 2 orang teman --ya keduanya perempuan dan fans berat serinya-- kami menuju bioskop di kawasan Times Square. Ada 12 screen di bioskop itu dan Sex and the City diputar di 8 screen dengan jeda waktu pemutaran kira-kira setengah jam. Dalam bioskop yang memiliki kapasitas sekitar 500 orang, 75% kursi terisi dan 90% diantaranya perempuan.

 

 

Dan begitu film akan dimulai, para penonton --tanpa dikomando-- bertepuk tangan dengan sangat antusias. Seperti layaknya menyaksikan pertunjukan teater di depan panggung broadway. Selama pemutaran pun, mereka sangat ekspresif. Tertawa lepas dan sesekali juga terdengar tepuk tangan.

Jelas ini bukan pertama kali aku nonton di bioskop di Amerika, tapi sepanjang sejarah bioskopku di Amerika, baru kali inilah aku melihat tingginya antusias dari penonton dan betapa ekspresif mereka. Seperti menyaksikan pertandingan olahraga. Dalam bayanganku, mereka sepertinya bangga dengan apa yang digambarkan dalam film tersebut.

Film yang banyak bercerita soal fasion dan label-label mahal tersebut sedikit banyak memang menggambarkan kehidupan para perempuan New York. Maka tak heran kalo NYC jadi salah satu kiblat perkembangan mode dunia.

Selama tinggal di NYC, tak banyak kenal orang Indonesia yang kukenal. Tapi dari semua teman-teman perempuan --dari berbagai kalangan umur-- para New Yorker Indonesia itu memang sangat peduli dengan mode, meski tak selalu yang mahal. Dan sepertinya langsung atau tidak, mode mempengaruhi pergaulan dan cara pandang masyarakat NYC.

Aku yang selama ini tak terlalu peduli mode dan cenderung cuek dengan penampilan, sempat kena kritik usai menyaksikan film tersebut. Usai menonton Sex and the City Kedua teman New Yorkerku itu berjanji akan ‘mempermak’ aku. Menurut mereka agar aku bisa masuk dalam pergaulan masyarakat kota NYC yang modis.

Hey Welcome to NY! The city
***

 

Tulisan Lain
sajak Setangkai Puisi Di Malam Bulan Separuh, Andhika Mappasomba
Baso Alang

laporan Musi Terus Mengalir
M. Arpan Rachman

memoar
Ketika Syukur Datang Dari Sebuah Pub
Presiden Hayat
ceritanet©listonpsiregar2000