<%@LANGUAGE="JAVASCRIPT" CODEPAGE="1252"%> Untitled Document
ceritanet  situs karya tulis, 156 minggu 180508

sampul
esei
sajak
laporan

cerpen
novel
memoar
komentar

terbitan
daftar buku
edisi lalu

kirim tulisan
mailing list

tentang ceritanet

novel Ibu Presiden
Tirzah

Setelah beberapa lama, Putri berkata lagi, "Apakah kamu tau tentang partai kami?"

Lia menjawab, "Saya tahu anggota-anggota Partai Pemuda Indonesia adalah orang-orang yang idealis."

"Benar. Tapi pengaruh kami tidak luas, cuma di kalangan pemuda dan intelektual yang mendapati dirinya tidak bisa bekerja sama dengan pemerintah kita yang sekarang."

"Kami berharap kalau Lia mau berjuang bersama kami, partai ini akan mendapatkan suara yang lebih banyak dalam pemilu yang akan datang. Dari komentar Lia di KBRI, saya merasa ide, visi dan misi kita sejalan."

"Kalaupun saya setuju bergabung, apa yang bisa saya lakukan? Saya kan tinggal di Singapura," tanya Lia.

"Rapat partai telah membicarakan tentang hal ini," kata Putri. "Rinciannya akan saya uraikan nanti setelah kamu setuju bergabung. Pada dasarnya kami berharap mendapatkan semacam pernyataan publik bahwa kamu mendukung perjuangan partai. Selanjutnya kita, yaitu kamu dan partai, bisa mengadakan semacam tanya jawab serta diskusi secara online di website. Saya dengar kamu dan putrimu akan ke Indonesia bulan depan?"

"Scientists should really review the theory of light." kata Lia.

"Pardon?" tanya Putri.

"Maaf, bicara saya ngelantur," jawab Lia sambil menggerutu hati dia, but i am very certain  news travels faster than light these days.

"Kami sangat berharap sewaktu berkunjung ke Indonesia, Lia bisa menyisihkan sedikit waktu untuk bersama kami mengadakan beberapa kunjungan dan pertemuan dengan masyarakat menjelang pemilu. Cuma itu saja, selebihnya seperti saya katakan tadi bisa kita lakukan lewat email atau via telepon."

Tapi kemudian Putri berkata perlahan: "Namun sebelumnya saya harus menjelaskan bahwa partai ini adalah parpol kecil. Dana operasional dan kampanye kami tidak banyak. Kami tidak bisa menawarkan instentif yang...'

"Saya tidak memikirkan masalah bayaran." Lia memotong.

Putri mengangguk, seolah-olah mengetahui Lia akan berkata seperti itu.

"Saya ingin sekali membantu tapi saya masih melihat rintangan-rintangan di sana-sini. Saya juga harus membicarakannya dengan suami saya, jadi tidak mungkin membuat keputusan sekarang ini."

"Saya mengerti. Ini keputusan yang memerlukan pertimbangan matang." Lalu Putri merogoh saku jaketnya, mengeluarkan selembar kartu nama; "Saya akan berada di Singapura selama 3 hari. Ini nomor handphone saya. Lia bisa menghubungi saya kapan saja."

Putri berdiri dan berjalan ke arah pintu; "Terima kasih Lia. It is very very good to have finally met you."

Lia tersenyum dan menjawab, "Pleasure to have met you too," dan segera dia tutup pintu, dia lemaskan bibirnya menghentikan senyumnya. Dari lantai atas Mayka berteriak,
"Mommy, Mayka pipis di tempat tidur!"

"Mampus aku, beginilah nasib seorang calon politisi," Lia berkata dalam hati.

Lia memprediksikan suaminya tidak akan setuju istrinya berpolitik mengikuti jejak Benazir Bhutto, tapi bagaimanapun dia harus menanyakan pendapatnya. Jadi setelah selesai menonton serial CSI yang didownload suaminya dari internet dia rekonstruksi pertemuannya dengan Putri siang tadi.

Ternyata prediksi Lia tidak seluruhnya benar. Hanya ada masalah praktis. Suaminya kurang setuju dia ikut kunjungan ke lapangan karena kuatir Mayka akan terlalu letih berkelana ke sana-sini. Tapi dia tidak keberatan dengan  tanya-jawab online. Setelah berdiskusi beberapa lama akhirnya suaminya berkata: "I guess it's really up to you honey. I think i'm ok with the idea as long as you can make sure Mayka is alright, happy and healthy."

Ting! Lampu hijau suaminya sudah menyala. Malam itu Lia bermimpi bertemu dengan Master Yoda dari film Star Wars. Dia berkata dengan suaranya yang pelan, "Try your best, you must. The force is strong in you..."

Keesokan paginya, sambil menyesali kenapa semalam dia tidak memimpikan Obi Wan yang jelas jauh lebih tampan dari Master Yoda, Lia memencet nomor Putri. Setelah mendengar suara Putri di ujung telepon, dia berkata singkat dan tegas. "Hallo Putri, saya bergabung."
***
bersambung


Tulisan lain
sajak Revolusi
Gatot Arifianto

sajak Ritual Hidup
Dewi Penyair
sajak Tubuh Cahaya
Moyank
cerpen Ayam Untuk Tuan Bupati
Imron Supriyadi

ceritanet©listonpsiregar