ceritanet                                                      situs karya tulis,  po box 49 jkppj 10210 

 

edisi 155
jminggu 040508

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

cerpen
Hati dan Tetes Air
Anton bae bin Yazid Amri

novel
Ibu Presiden
Tirzah

cerpen Indonesia
Andrei Evplanov (diterjemahkan oleh Victor Pogadaev)

Kami waktu itu di perkampungan Maryina Rosya. Orang tua  saya bekerja di pabrik sedangkan saya sepanjang hari duduk di jendela melihat anak-anak lain bermain di pekarangan. Di taman kanak-kanak tidak ada tempat bagi saya dan saya tidak dibiarkan pergi sendirian ke pekarangan karena perkampungan itu dipandang tidak aman.

Dan datanglah nenek ke rumah kami untuk menghadiahkan kepada saya dan kepada diri sendiri, juga seluruh dunia, yakni apa yang pernah saya lihat dari jendela dan lebih daripada itu. Setiap pagi dia mengambil tas perlak dan membawa saya bersama membeli bahan makanan --hal itu pada waktu itu tidak begitu mudah karena orang harus bergiliran di toko-- bukan untuk membeli caviar ataupun ikan salmon yang berlimpah-limpah di toko, melainkan untuk mendapat susu, sabun, daging, terigu yakni barang-barang keperluan sehari-hari.

Barang itu biasanya dijual dari pintu belakang, jauh dari mata orang luar. Banyak orang datang bersama dengan anak-anaknya. Kami biasanya begitu asyik bermain sehingga tidak mau pulang. Orang dewasa berjam-jam menunggu berderetan tetapi tidak bosan karena tidak terburu-buru ke mana pun juga dan tambahan pula biasanya selalu menemui kenalan dengan siapa bisa membicarakan berita-berita setempat.

Nenek saya cepat berkenalan dengan banyak perempuan. Di situ orang memang cepat berkenalan. Mungkin karena di pinggir kota ada banyak orang pendatang baru. Maka pada suatu ketika deretan orang didekati seorang wanita tinggi berpakaian kot beldu dan tutup kepala dari kain berbunga dan langsung bertanya:

  1. Maafkan saya, Nyonya adalah isteri Vasiliy Petrovich?

Nenek saya mengamati wanita itu dan tidak percaya matanya sendiri: Manyasha sendiri berada di depannya dan bergembira seakan-akan menang lotere. Nenek saya gembira juga, memeluk dan menciumnya. Mereka begitu tergempar sehingga Manyasha kehilangan gilirannya dan nenek saya lupa apa yang dia mau beli. Bahkan seorang jurujual kuatir:

1. Kamu apa, ngantuk? Cepat, cepatlah!

Nenek saya mengambil apa yang dia mau. Manyasha menolong dia membawa tas dan mereka pergi entah ke mana, bingung karena ingatan yang melimpah-limpah. Dan baru mereka sampai pusat berbelanja Mostorg nenek saya menyadari kehilangan saya. Melainkan saya terus bermain di pekarangan toko tadi. Sebelum berpisah dengan Manyasha nenek berjanji singgah ke rumahnya pada sore itu juga.

  1. Nyonya pasti harus datang ke rumah saya, kata Manyasha. Saya akan beritahu suami saya. Dia akan menunggu.

Dulu di perkampungan Maryina Rosya, orang suka datang bertamu hampir setiap hari. Biasanya mereka singgah untuk beberapa menit namun tinggal lebih lama di sana. Misalnya nenek saya pada perjalanan pulang dari pasar singgah ke dua atau tiga rumah dan sering dihidangkan teh sementara saya diberi buah apel atau bon-bon.

Rumah kami juga didatangi kenalan nenek saya yang melangsungkan percakapan panjang lebar terutamanya tentang siapa berkawin, siapa yang dilahirkan dan oleh siapa.

Kadang-kadang waktu malam nenek saya duduk-duduk dan tiba-tiba ingat: wah, entah mengapa nyonya Koptenkova tidak datang, saya mesti singgah ke rumahnya untuk mengetahui kenapa dia tidak datang. Sesudah itu dia mengenakan tutup kepala dan keluar pintu. Saya mengikutinya. Sejak dia pindah ke Moskow, kami seperti benang dengan jarum.

Orang tua saya,  menurut kata nenek seperti 'anjing yang melepaskan diri dari rantai.' Mereka menghabiskan waktu malam di bioskop atau di aula berdansa. Mereka masih muda dan menggunakan peluang emas itu dan seakan-akan mau menebus masa lalu: sekarang saya bisa ditinggalkan dengan nenek. Ke Manyasha pun juga kami pergi bersama.

Manyasha tinggal di pinggir perkampungan Maryina Rosya dekat jalan kereta api. Tidak mustahil kami tidak berjumpa dengan dia sebelumnya. Rumahnya dibuat dari kayu. Tapi rumah itu bukan rumah kampung melainkan rumah kota: bertingkat dua dan dilapisi dengan papan yang menghitam karena tua. Kamar Manyasha terletak di atas. Tangga curam menuju ke sana. Waktu kami naik anak tangga di bawah menggoyang dan bekertak. Tambahan pula kami naik meraba-raba. Satu-satunya sumber cahaya di situ adalah bulan yang menengok melalui jendela kotor di bawah bumbung.

Di atas, kami dengan susah payah menemukan pintu yang dilapisi dengan sekelat yang robek. Karena sekelat itu ketukan pada pintu kurang terdengar. Akhirnya nenek saya hilang kesabaran dan mula mengetuk dengan tumit kaki dan akhirnya berhasil. Pintu terbuka dan Manyasha cepat-cepat menyeret kami ke kamar seakan-akan kami bukan tamu tetapi anak-anak nakal.

  1. Maaf, katanya berbisik dengan nada gembira dan bersalah juga. Saya lupa memberitahu bahwa ada lonceng listrik. Suami saya tadi pasang. Dia suka segala-galanya seperti itu…
  2. Bisa saya membunyikan lonceng itu? tanya saya dengan berbisik juga.
  3. Tentu bisa tetapi bukan sekarang, nanti saja, berbisik Manyasha tersipu-sipu. Suami saya sedang tidur. Lelah sekali, ya. Sepanjang hari kerja. Mari pergi ke dapur, duduk di sana dan minum teh dengan kue. Dan nanti ketika suami bangun kita akan pergi ke kamarnya. Dia sebetulnya tidak tidur, ngantuk saja.

Kami pergi ke dapur dan duduk di kursi goyang di sekitar meja kecil dengan alas meja perlak. Dapur itu serupa dengan dapur kami. Di dekat dinding ada kompor gas yang berbau minyak tanah, di dinding tergantung periuk, kuali dan alat-alat dapur lainnya. Manyasha berdiam kiranya karena malu. Dan nenek saya juga tidak terburu-buru memulai percakapan. Demikian beberapa waktu mereka duduk dan berdiam. Akhirnya nenek saya tidak tahan lagi dan bertanya:

1. Kamu sudah lama berumahtangga?

Manyasha seakan-akan menunggu pertanyaan itu. Dia dengan cepat bangun, mula membuat teh dan bercakap cepat seperti bunyi mesin jahit.

Enam tahun lebih… Ya, kami berdaftar perkawinan enam tahun lebih tetapi sudah lapan tahun berkenalan. Bagaimana kami berkenalan? Ini memang cerita menarik… Kami berkenalan di gubuk mandi…

  1. Di gubuk mandi? tanya nenek saya.
  2. Ya benar. Dulu saya meninggalkan kota kelahiran dan pergi ke kota lain untuk bekerja di tempat pembangunan. Ingatkah nyonya akan Nadya Novikova? Tidak? Jadi dia mempunyai di daerah pegunungan Ural seorang kenalan yang bekerja sebagai supir. Dia itu selalu menulis surat dan mengundang Nadya datang kepadanya. Nadya itu ragu-ragu. Jadi saya coba meyakinkannya bersama-sama pergi ke Ural. Maksud saya mungkin di sana saya sempat menemui seorang supir juga. Akhirnya kami tiba di Ural. Nadya itu cepat berkawin dengan supirnya dan saya mulai bekerja sebagai tukang cat.
  3. Jadi kamu pindah ke Ural? tanya nenek saya ataupun menyuarakan pikirannya saja.
  4. Mula-mula ke Ural dan kemudian ke… Saya lupa nama tempatnya karena nama itu bukan nama Rusia. Bayangkan saja, tiga tahun saya tinggal di sana tetapi tidak bisa teringat nama tempat itu. Jadi saya pindah dari satu tempat ke tempat lain. Tukang cat di mana-mana diperlukan.
  5. Dan tetap seorang diri? Tak pernah berumahtangga? – tanya nenek saya.

Manyasha menundukkan kepala, membuka lemari, tidak mengambil apa-apa dari sana, menutupnya dan duduk lagi.

  1. Seorang diri? Ya dan tidak. Banyak lelaki bekerja di tempat pembangunan. Dan sebagian besarnya bujang. Kadang-kadang ada yang memerhatikan saya. Tetapi saya – masa bodoh! tidak mau bercumbu raya dan langsung usulkan: “Beginilah, saya hendak berumahtangga”. Orang yang jujur cepat pergi, yang lain menemani saya beberapa lama dan sesudah itu hilang juga…Orang ganjil itu! Seakan-akan saya akan memaksakan mereka berdaftar sebagai suami-isteri. Saya sendiri memahami bahwa kelakuan saya itu bodoh tetapi tidak bisa merobah perangai saya. Teman wanita sering mengajar saya seni memikat lelaki tetapi saya pikir bahwa dengan wajah seperti saya punya seni itu tidak ada gunanya.
  2. Bagaimana perkenalan itu bisa terjadi di gubuk mandi? tanya nenek saya supaya mengalihkan percakapan ke soal yang lebih menyenangkan.

Manyasha ketawa dan seakan-akan menjadi lebih muda. Sekurang-kurangnya bagi saya dia tidak nampak sebagai perempuan tua.

  1. Itu terjadi ketika kami membangun elevator dekat kota Voronezh. Di sana di perkampungan tempat kami tinggal ada gubuk mandi ke mana kami pergi mandi setiap hari Kamis (hari dikhususkan untuk perempuan). Teman saya selesai mandi dan pergi ke kamar lain untuk mandi uap tetapi saya kurang enak badan dan duduk di kamar depan. Duduk telanjang, mengeringkan rambut dan menunggu teman-teman saya. Tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah Semyon Ivanovich dengan tas pakaian kecil dalam tangan. Tentu saja waktu itu saya tidak tahu namanya, bagi saya waktu itu dia ialah lelaki asing. Jadi dia masuk dan terpaku, memejamkan dan membuka matanya, tercenang mau mengerti mengapa seorang perempuan telanjang ada di situ. Tentu saya merampas segala pakaian saya, menutupi badan dengannya dan bertanya: “Mengapa tuan datang ke sini? Hari ini ialah hari mandi untuk perempuan”. Dan dia menjawab: “Maaf, saya hendak mencuci pakaian”. Saya membalas: “Kerja itu bukan untuk lelaki, mari saya menolong dan mencuci segala itu”. Dia menyorongkan bajunya dan cepat keluar. Kemudian saya lama mencarinya: ternyata dia berasal dari Moskow dan sudah satu tahun menjadi duda… Begitulah.
  2. Jadi dia ialah seorang duda, kata nenek saya seakan-akan mau membenarkan sesuatu pikirannya.
  3. Semyon Ivanovich tentu ialah orang lanjut usia tetapi tidak minum arak. Dan tangannya benar-benar emas. Dia adalah tukang kayu, tukang batu, tukang besi dan dia begitu pandai membuat dapur sehingga jarang didapati tukang seperti dia. Uang yang orang lain mendapat selama sebulan dia mendapat selama seminggu.
  4. Di manakah dia bekerja? tanya nenek saya.
  5. Di bagian membuat kotak dari kayu lapis. Gajinya di sana benar-benar tinggi.
  6. Tetapi menantu lelaki saya bilang gajinya di sana kurang.
  7. Tentu gajinya di sana tak begitu besar. Tetapi dia kerja lembur. Dan sepulangnya dari kerja tidak istirahat juga. Kalau ada permintaan dia pergi memasang kaca atau pintu kepada orang lain. Dan kepandaiannya membuat dapur bukan main: seluruh perkampungan Maryina Rosja mengkagumi kebolehannya itu.
  8. Kalau kerja lembur, lain halnya, setuju nenek saya.

Kita masing-masing sudah minum tiga cangkir teh, menghabiskan satu pinggan kue ketika tiba-tiba terdengar bunyi batuk.

1. Ah, suami saya bangun, kuatir Manyasha. Tunggu sebentar di sini sampai saya beritahu dia ada tamu.

Dia bergegas bangun, keluar dan lama tidak nampak lagi. Nenek saya duduk seperti cacing kepanasan, begitu kuat keinginannya melihat Semyon Ivanovich yang termasyur itu. Akhirnya Manyasha mengundang kami masuk ke kamar dan kami melihatnya. Lebih tepat mula-mula mendengarnya karena beberapa waktu tidak bisa mengerti dari mana terdengar kata-kata sapanya.

Dia berbaring di belakang dapur di atas peti pakaian ditutupi dengan selimut dari keratan kain berwarna-warni dan coba memperlihatkan senyuman yang ramah tamah. Orang yang berbadan pendek itu dengan wajah yang kurang sehat tidak menyerupai tukang serba bisa dalam kisah Manyasha. Jadi kami bahkan pikir mungkin orang itu bukan Semyon Ivanovich melainkan orang lain, mungkin ayahnya. Tetapi Manyasha berkata:

1. Biarlah suami saya tidak bangun. Dia letih sekali karena kerja sepanjang hari.

Dan kami mengerti bahwa orang itu benar-benar Semyon Ivanovich dan entah mengapa kami malu memandang ke arahnya. Seakan-akan kami bersalah padanya. Sedangkan Manyasha terus memuji-mujinya:

  1. Tempat tidur itu dibuat oleh Semyon Ivanovich sendiri, lemari dapur dan lemari pakaian juga buatannya.
  2. Semyon Ivanovich, apa sebab tuan membuat tempat tidur itu tapi berbaring di atas peti pakaian, bertanya nenek saya yang tidak bisa tahan lagi.

Semyon Ivanovich mau berkata sesuatu tetapi Manyasha menyela:

  1. Dia sangat suka panas, melainkan tempat tidur tidak termuat dekat dapur, karena itu dia tidur di atas peti pakaian.
  2. Di atas peti pakaian, - mengulang Semyon Ivanovich dan mangangguk-angguk kepalanya seperti boneka yang digoncangkan keras.
  3. Mari kita main loto, - sarankan Manyasha ketika melihat bahwa nenek saya tidak puas dengan sesuatu. - Semyon Ivanovich, mau ikut kami main loto?

Semyon Ivanovich mula-mula hendak berkata sesuatu tetapi kemudian kiranya mengubah pikiran dan membalikkan badan dengan membelakangi kami.

  1. Lelah dia, kata Manyasha. Segala urusan rumah tangga dipikulnya. Saya sendiri tidak pandai mengurus apa-apa. Jadi itu menjadi bebannya. Baru-baru ini dia membuat perbaikan dalam rumah. Lihat, alangkah cantik kertas dinding!
  2. Cukuplah, kata nenek saya. Kami akan pergi. Biarlah dia beristirahat.
  3. Baiklah, setuju Manyasha. Semyon Ivanovich, istirahatlah di sini! Besok banyak kerja lagi. Dan kami akan duduk di kamar dapur sambil mendengar piring hitam.

Dia mengambil peti nyanyian dari atas almari dan kami kembali ke kamar dapur.

  1. Dia hanya pada lahirnya orang tua, Manyasha cuba meyakinkan nenek saya sambil membunyikan lagu tango. Besok dia akan bangun segar bugar dan akan bekerja dengan riang gembira. Ya, benar. Saya berbahagia menjumpai dia. Semyon Ivanovich tidak minum arak, suka bekerja, serius tapi tidak menyinggung perasaan orang lain dengan sia-sia. Kami, perempuan, harus diawasi ketat.
  2. Ya, tentu saja, setuju nenek saya dengan nada sindiran. Kamu sendiri masih bekerja?
  3. Tidak, keluh Manyasha. Mau melamar di stasiun kereta api –tidak jauh dari sini– tetapi suami saya tidak membenarkan. Katanya, saya sudah pernah lama bekerja, jadi cukuplah. Biar saya jaga rumahtangga. Dan saya tetap tinggal di rumah.
  4. Kamu benar-benar berbahagia. Akhirnya kehidupanmu sama seperti kehidupan tikus dalam gudang beras.
  5. Saya sendiri heran. Seperti durian jatuh. Kiranya benar peribahasa: orang pandai berjala sendiri, melainkan orang bodoh dibimbing Tuhan.

Musik piring hitam selesai dan terdengar suara lemah Semyon Ivanovich:

  1. Manyasha, pasang piring hitam kesayangan saya.
  2. Tunggu sebentar, pekik dia dengan memusing tangkai peti nyanyian itu.

Nenek saya tiba-tiba berdiri dan mau mohon diri. Dan Manyasha mula meminta maaf seakan-akan dia merasa salah di depan kami.

  1. Pasal apa pulang begitu cepat? Mungkin satu cangkir teh lagi?

Tetapi nenek saya tidak berganjak dari pendiriannya. Manyasha memasang piring hitam dan pergi mengantarkan kami. Pintu ke kamarnya dibiarkannya terbuka supaya di tangga menjadi lebih terang.

Kami turun tangga seperti para pendaki gunung, dengan bagian sebelah ke depan berpegangan tangan: Manyasha di depan, nenek saya di tengah-tengah dan saya di belakang. Dan di atas dari pintu terbuka nampak cahaya yang lemah dan terdengar kata-kata lagu:

Tanah airku aman dan makmur
Pulau kelapa yang amat subur
Pulau melati pujaan bangsa
Sejak dulu kala

Melambai-lambai niyur di pantai
Berbisik-bisiki raja kelana
Memuja pulau yang indah permai
Tanah airku, Indonesia.

Di bawah nenek saya salah langkah dan hampir jatuh. Syukurlah Manyasha berhasil menangkapnya pada bahu.

  1. Persetan! marah nenek saya. Apakah sukar memasang listrik di tangga? Hai, si Indonesia, katakanlah kepada suamimu supaya dia pasang lampu. Selama dia mencari uang dengan bekerja lembur kami di sini bisa patah kaki.
  2. Segala-galanya akan beres, jawab Manyasha yang kiranya tidak mengerti sindiran dalam kata-kata nenek saya. Lampu akan dipasang dan tangga akan diperbaiki juga. Asalkan Tuhan memberkati dengan kesehatan.

Begitulah selesai kunjungan kami pertama dan terakhir kepada Manyasha. Kiranya nenek saya tidak suka lawatan itu. Dalam perjalanan pulang dia bersungut-sungut dan menyebut Manyasha sebagai perempuan jahat dan suaminya sebagai lelaki di bawah tumit isteri.

1. Cukup sekali memandang perempuan seperti itu dan segala keinginan berkawin akan hilang. Perangainya dulu sebagai pemalu tetapi kiranya dia selalu bermimpi mengenai suaminya. Dan suaminya itu mengapa begitu? Hayatnya hampir tidak dikandung badan tetapi mau mengurus segala-galanya sendiri dan tidak membiarkan isterinya bekerja. Padahal dia sendiri bekerja berat di pabrik, bekerja lembur dan membuat tempat tidur bagi isterinya supaya tidur lena melainkan dia sendiri tidur di atas peti pakaian seperti seekor kucing. Cis! Jijik itu! Saya tak akan pergi ke rumahnya lagi.

Saya juga tidak suka di rumah Manyasha. Di rumah orang lain saya diberi patung gajah dari lemari untuk bermain atau buku bergambar untuk dilihat-lihat sementara di sini ada teh dan kue saja. Hanya lagu tentang Indonesia saya sukai.

Sesudah itu saya sering berjalan-jalan di pekarangan rumah dan bernyanyi: “Tanah airku Indonesia,// Negeri elok amat kucinta…” Tetapi lambat laun lagu itu juga luput dari ingatan saya.

Pada suatu ketika kami dengan nenek pulang dari pasar dan melewati pekuburan. Dan tiba-tiba terdengar bunyi orkes. Memang sering sekali bila seseorang dikuburkan ada permainan orkes. Tetapi kali ini musik ialah bukan lagu jenazah.

Astaga! Musik itu ialah lagu "Indonesia." Saya nak memberitahu nenek, tapi dia sendiri sudah mengenal melodinya. Dia membuat tanda salib, memeluk saya dan berkata:

1. Akhirnya dia meninggal. Kiranya tidak tahan lagi kehidupan di bawah tumit isterinya.

Pada keesokan harinya dalam deretan di toko dia menceritakan kepada semua bahwa karena kekejaman seorang perempuan kenalannya yakni Manyasha, suaminya meninggal dunia. Melainkan suaminya begitu lembut dan baik hati orangnya, tidak menentang kemauan isterinya, bekerja keras untuk kebahagiannya. Dan isterinya sesudah suami meninggal sebagai balasan jasa hanya menyuruh membunyikan lagu "Indonesia."

Semua orang mendengar dan heran bagaimana kejam perempuan itu. Tetapi tiba-tiba seorang wanita dari deretan giliran berkata:

  1. Hai, apakah nyonya menceritakan tentang Manyasha dari kota Kirzhach, isteri Semyon Ivanovich?
  2. Yalah, benar. Persetan dengan dia!
  3. Bagaimana bisa! marah wanita itu. Nyonya tidak tahu kebenarannya tetapi menuduh dia. Padahal Manyasha ialah suci orangnya. Semyon Ivanovich sudah lima tahun tidak beranjak dari peti pakaian karena lumpuh kaki. Sedangkan isterinya menjaga dia seperti dia anak kecil. Perempuan lain pasti akan membawa dia ke rumah sakit. Tetapi Manyasha sendiri memikul beban yang berat itu dan tak pernah mengeluh. Hanya kami, tetangganya, tahu  tentang kemalangannya. Tambahan pula dia bekerja di pabrik karena pensiun suami tidak cukup. Dia mau memasak untuk suami kesayangan makanan yang paling enak. Begitulah dia. Dan Nonya tidak tahu apa yang benar tapi menuduh dia. Itu sangat memalukan!

Nenek saya, selepas mendengar itu, menangkap saya pada tangan sehingga sakit dan melarikan diri dari sana.

Tak lama kemudian kami sampai jalan kereta api. Di sinilah nenek saya berhenti, membelai kepala saya dan berkata: Ah, memang berdosalah saya…
***

ceritanet©listonpsiregar2000