ceritanet                                                      situs karya tulis,  po box 49 jkppj 10210 

 

edisi 155
jminggu 040508

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

cerpen
Indonesia
Andrei Evplanov (diterjemahkan oleh Victor Pogadaev)

novel
Ibu Presiden
Tirzah

cerpen Hati dan Tetes Air
Anton bae bin Yazid Amri

Lelaki dan bocah itu mendaki gunung yang teramat tinggi. Mereka membawa air minum satu liter dalam sebuah bambu yang mereka selipkan di pinggang. Bocah itu gagu, dan pakaiannya sangat berantakan.

Sementara lelaki itu pakaiannya rapi. Mulutnya lancar bicara, sehingga dia dapat menciptakan surga yang indah di mulutnya, yang membuat bocah itu sangat percaya dengan kata-katanya.

"Di dalam surga itu ada istana, buah-buahan, dan kolam ikan yang bisa kau pancing ikan-ikannya yang dapat membuatmu senang,"kata si lelaki, setiap kali dia akan meminta seteguk air di dalam bambu milik si bocah.

"Aku hanya menginginkan kolam itu. Aku tidak perlu istana. Ambil saja untuk tuan."

Lelaki itu tersenyum. Dia belai rambut si bocah dengan penuh kasih sayang. Tampak setetes air melekat di bibir bagian bawah si lelaki ketika mengembalikan bambu milik bocah itu, sehingga wajahnya yang sebelumnya pucat terlihat begitu segar.

"Kita berjuang bersama-sama," kata lelaki itu. "Tanpamu aku mungkin tidak akan mampu mencapai puncak itu."

Bocah itu tertawa untuk sekian kalinya. Dia begitu senang menemani si lelaki.

Lelaki itu pun seperti itu, dia sangat menyukai si bocah. Sehingga dari wajahnya tidak terlihat keengganan, ketika menarik tangan si bocah yang kesulitan mendaki lipatan tanah yang tinggi.

"Apabila sampai di puncak itu, apa yang ingin kau lakukan, tuan?"
"Aku hanya ingin melihat lembah bewarna hijau di atas sana. Dan melihat dirimu bahagia."
"Hahaha... Jangan kau pikirkan aku. Tetapi yang perlu kita pikirkan bagaimana tuan sampai ke sana, dan bisa menyelamatkan saya jikalau saya tidak bisa meneruskan perjalanan."
"Kau memang berbeda dengan orang-orang yang kukenal," lelaki itu membersihkan telapak tangannya yang sempat terkena tanah hitam di kakinya.

Bocah itu sempat melirik. Namun, pepohonan dan suara jangkrik menepis pemandangan itu.

Berjam-jam telah lewat. Hari menjelang malam. Nafas bocah itu mulai naik turun. Si lelaki melihatnya, lalu dia segera mengambil bambu di pinggangnya, dan memberikan air miliknya kepada si bocah.

"Teguklah!"

Bocah itu menatap mata si lelaki. Mungkin sedikit terkejut, karena pertama kalinya dia diberi air oleh teman seperjalanannya.

Perlahan bocah itu mengambil bambu kuning itu. Lalu dia meneguk air di dalamnya.

Tampak tenggorokannya bergerak-gerak mengikuti aliran air. Setelah selesai, bocah itu memberikan bambu itu kepada temannya. Lalu mereka berjalan kembali.

"Minummu banyak sekali. Kau seharusnya dapat menghemat. Jangan sepertiku. Dulu, aku pernah mendaki gunung ini. Tapi tidak sampai, karena kehausan. Sementara tidak ada air di gunung ini. Kurasa Tuhan menciptakan agar tidak ada telaga di gunung ini. Ya, aku berharap dengan ucapan ini, kau jangan mengulangi lagi kesalahanku dulu."

Jantung bocah itu berdetak, tetapi kepalanya mengangguk. Dia tidak pernah menerima saran, apalagi dikritik orang lain. Tetapi kini, ketika dia menyadari atas apa yang telah dia lakukan, akhirnya dia berpikir bahwa sedikit air yang ia miliki, dia harus mampu memanfaatkannya.
***

Lebih dari 32 jam mereka telah mendaki gunung. Lelah mulai tampak dari wajah masing-masing. Air di dalam bambu si bocah tinggal setetes. Namun, puncak masih belum mereka capai. Fatamorgana mulai merasuki si bocah. Pahanya mulai terasa keram. Mungkin karena dingin.

Terkejut. Bocah itu merinding.

"Tolong," teriaknya tiba-tiba. Kesunyian terpecah belah.

Namun tidak ada yang mendengar. Tidak ada siapa-siapa. Dia menoleh ke kanan, ke kiri, yang ada hanya jurang di belakangnya. Namun ketika dia menoleh ke depan, seperti ada sesuatu yang mendorongnya. Tubuhnya melayang, dan jatuh tenggelam ke jurang itu. Dia berteriak.

"Bangunlah! Hari sudah pagi," lelaki yang berpakaian rapi itu membangunkan bocah  itu dari tidur panjangnya.
"Masih jauhkah perjalanan kita tuan?" kata bocah itu sambil menghapus keringat dinginnya.
Lelaki itu menoleh.

"Kenapa kau mengeluh? Aku tidak ingin perjalanan yang telah kita tempuh ini, gagal karena keluhan itu."
"Aku cuma bertanya."
"Tinggal sebentar lagi, kau jangan takut."

Mereka kembali berjalan. Hati masing-masing mulai saling meragukan. Namun, perlahan-perlahan mereka dapat menepisnya. Bocah itu percaya. Sementara lelaki itu merasa maklum dengan perasaan dalam perjalanan itu.
***

"Kau akan pergi kemana?"
"Aku ingin melihat surga."
"Surga itu ada di sini,nak. Padi, burung-burung, matahari, dan orang-orangan sawah itu adalah surga kita."
"Bukan! Itu bukan surga."
***

Embun itu menetes dari sebuah pohon bakau yang tinggi dan jatuh menetes kaki si bocah. Dia kedinginan. Api yang menyala-nyala di sampingnya hanya bisa menepis serangga, namun tidak untuk dingin. Bocah itu melipat-lipat tubuhnya dalam tidur yang tak nyenyak.

"Kau belum tidur?" tanya si lelaki yang berbaring di sampingnya.
"Belum, tuan. Aku tak bisa tidur, aku teringat keluargaku."

Lelaki itu terbangun. Dia mengangkat tubuhnya duduk di atas pelepah pisang. Pemandangannya tampak begitu kosong. Sementara langit tampak gelap.

"Disinilah yang membedakan aku dan dirimu. Disaat perjuangan, kau masih mengingat keluarga. Sementara aku? Aku sanggup melupakannya. Perjuangan menuju surga, adalah perjuangan menuju kebahagian umat. Kita harus fokus. Karena jika mendapatkannya, semua orang akan terselamatkan. Kita bisa memberitahu kepada mereka; 'inilah jalan yang pernah kami tempuh! Dan ikutlah jalan ini!' Seperti itulah harapanku, setelah aku bosan melihat Lembah Hijau itu. Kau harus ingat, keluarga harus ditepiskan dalam sebuah perjuangan."
"Tuan mungkin saja benar. Tetapi, perasaanku terkadang begitu lemah."
"Setelah sampai, mungkin kau akan mengerti semuanya."

Keesokkan harinya mereka kembali meneruskan perjalanan. Air di dalam bambu milik si bocah sudah habis. Bibirnya mulai terlihat terpecah-pecah, dan suaranya terdengar serak. Namun, lelaki itu tidak mempedulikannya. Dan bocah itu tetap bertahan, karena dia tidak menginginkan perjalanannya itu sia-sia.

Keinginan, harapan, waktu, terus-menerus memburu mereka. Namun, kegelisahan tetap saja ada, dan si bocah sudah menggunakan tongkat dalam perjalanan itu. Sesekali dia terbayang dengan padi, burung-burung, matahari, dan orang-orang sawah. Namun, hanya beberapa detik dari itu, pikirannya tiba-tiba hilang. Dia menoleh.

"Tuan, apakah perjalanan kita masih jauh?"

Lelaki itu lagi-lagi terkejut; "Sudah kukatakan padamu, jangan pernah kau mengeluh."

32 tahun lebih perjalanan mereka sudah lewat. Namun, sesuatu yang mereka cari belum juga tercapai. Sementara dahaga, kini perlahan-lahan menguntit dari bagian tulang punggung mereka. Dan akhirnya suatu hari mereka terduduk, ketika mereka sadar bahwa tubuh mereka kini tiba-tiba terasa ringan. Mereka telah melewati puncak tanpa mereka sadari.

Bocah itu kesal. Tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia sulit memaafkan lelaki itu. Dia dibohongi. Tidak ada surga itu.

Sayangnya, maut berpikir lain. Bocah itu dihadapi dengan situasi saat nyawa si lelaki sedang berada di ujung tanduk.

"Apakah aku harus marah dengan lelaki ini, atau aku harus rela memaafkannya?" bocah itu merenung dalam suasana yang dingin.

Waktu membisu sambil terus bergulir, dan keesokkan harinya lelaki itu telah menghembuskan nafas terakhir.

Dan saat itu,  bocah itu belum menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri.
***

ceritanet©listonpsiregar2000