ceritanet                                                      situs karya tulis,  po box 49 jkppj 10210 
edisi 154
jumat 180408

novel Ibu Presiden
Tirzah

Keesokan hari bermula seperti hari-hari lainnya bagi Lia. Pagi-pagi pukul 8 dia antar Mayka ke nursery naik bus Nomor 9. Biasanya bus itu cepat datangnya tapi pagi itu agak telat yang menyebabkan Mayka juga telat. Sebenarnya bukan salah bus, tapi salah Lia, yang merupakan jenis orang yang last minute, yang selalu mengerjakan sesuatu ketika deadline sudah dekat sekali. Seharusnya kalau diperhitungkan waktu perjalanan ditambah waktu untuk hal-hal tak terduga, Lia mesti berangkat pukul 7.45. Tapi detik itu dia masih bernyanyi-nyanyi di kamar mandi.

Setelah mengantarkan Mayka, Lia kembali ke rumah. Dia sudah berencana mau membuat pancake keju ala Lia. Ada keju Kraft tersisa di rumah, sudah berada di kulkas selama 2 minggu. "Time to make something useful out of it," pikir Lia. Itu rencananya --tapi seperti kata para orang tua kalau manusia hanya bisa berencana-- pancake Lia banyak yang gosong; hitam dan pahit. Api pemasaknya terlalu besar dan Lia tidak melihatnya karena dia terlalu sibuk mengecek email sambil memasak. "Bah, ibu rumah tangga macam apa aku ini, memasak pancake saja tidak bisa," Lia berkata di dalam hati dengan sebal.

Ketika dia hendak membuang pancake hitamnya ke tong sampah, telepon berdering.
"Halo," Lia menjawab.
"Kak, kau masuk tivi," suara Mamanya di ujung telepon dari Medan terdengar begitu jelas, "I love technology," pikir Lia di dalam hati tapi di telepon dia berkata; "Hah, apa maksud mama? Tivi apa?"
"Semua tivi. RCTI, SCTV, Metro...," lanjut Mamanya.

Tapi Lia memotong, "RCTI?? Hah? Bagaimana caranya aku bisa masuk tivi Indonesia, Ma, aku kan di Singapura." Lia cemas juga. Apa yang terjadi dengan Mamanya? Kenapa bicara ngelantur? Apa sakit? Anxiety? Personality disorder? Di keluarga kami nggak ada sejarah penyakit jiwa, pikirnya lagi.
"Iya, tivi Indonesia menyiarkan gambar kakak berdebat dengan Menteri Kesejahteraan Rakyat di Singapura kemarin," Mamanya menjelaskan.
"Astaghfirullah!" kata Lia, "Jadi acara kemarin diliput stasiun tivi? Aku tidak tau, Ma."
"Iya. Hebat juga kakak bicara begitu dengan menteri" Sebagai anak sulung, Lia memang dipanggil Kakak di rumahnya.
"Masa begitu aja hebat Ma? Kan banyak orang yang bicara lebih kasar lagi tentang pemerintah."
"Iya, tapi tidak ada orang yang begitu selesai bicara langsung meninggalkan ruangan dan membuat menteri terbengong-bengong."
"Eh, apa yang diberitakan tivi, Ma? Apa kata mereka?'
"Mereka bilang kakak adalah contoh generasi muda Indonesia yang idealis, berani dan cerdas. Kata mereka kakak adalah contoh generasi muda yang diharapkan memimpin Indonesia kelak, kalau bisa malah ikut serta dalam pemerintahan Indonesia setelah pemilu 6 bulan lagi."

Lia tertawa terbahak-bahak. "Apa maksud mereka aku jadi presiden?" Dia tertawa lagi.
"Tapi mereka bingung karena tidak tahu identitas kakak."
"Tak sempat memperkenalkan diri dengan sopan kemarin, Ma."

Setelah Mamanya menutup telepon, Lia menghidupkan tivi dan membuka saluran TVRI. Di Singapura dia cuma bisa menangkap siaran TVRI. Kata teman-temannya sesama asal Indonesia, kalau memasang antena ekstra maka saluran RCTI dan SCTV bisa didapat. Tapi tidak satupun temannya yang bisa memastikan antena mana yang harus dia beli. Ada yang bilang harus beli antena yang dijual di Geylang --Kampung Melayunya Singapura-- ada yang bilang antena yang dijual di Batam lebih superior. "Until they all come to one conclusion, i think i will stick to the most reliable," pikir Lia.

Tapi untuk berita ternyata TVRI tidak reliable. Sewaktu dia buka, TVRI sedang memutar lagu-lagu dangdut. Lia menunggu dan setengah jam kemudian berita diputar, tetapi cerita petualangannya di KBRI kemarin tetap tidak ada sampai berita berakhir.

Sementara itu Lia mendapat banyak SMS ucapan selamat dari keluarga dan teman-temannya. Adiknya di Jakarta menulis; "Hebat kali kau, coy!" Salah satu temannya di Medan berkata, "Generasi muda yang peduli nih yee." Lia berpikir beginilah caranya kalau mau jadi terkenal, masuk tivi. Latar belakang dan alasan kenapa masuk tivi tidak penting, yang penting masuk saja.

Pukul 10.50, Lia berangkat menjemput Mayka dari sekolah. Sampai di rumah, dia telepon suaminya di kantor. Jam segini biasanya meeting sudah berkurang.
"Honey, im on TV!" Lia berkata dengan bangganya.
"Congratulations!" jawab suaminya, "Why are you on TV?"'

Lia menceritakan semuanya. Suaminya adalah orang yang paling rasional yang pernah dia temui, sekaligus juga orang yang paling sibuk yang pernah dia temui. Setiap hari meeting non stop. Suaminya bekerja sebagai regional manager di salah satu perusahaan di Singapura.
"Enjoy your 5 minutes of fame, honey," kata suaminya sebelum menutup telepon.

Pagi berikutnya dalam perjalanan pulang dari sekolah Mayka, Lia mendapat panggilan di handphone. Nomornya tidak dia kenal.
"Hello, can i speak to Amalia, please," suara lelaki di telepon.
"Speaking.".
"Bu Amalia, selamat pagi. Bisa kita berbahasa Indonesia? Bahasa Inggris saya tidak terlalu bagus. Saya Teguh Rahmadi dari koran Warta Indonesia. Bisa mengambil waktu ibu sebentar untuk wawancara?"
"Warta Indonesia? Wawancara," Lia sangat kaget. Tapi sedetik kemudian dia sadar pertanyaan apa yang seharusnya dia tanyakan,
"Bagaimana bapak bisa dapat nomor handphone saya?" Gawat ini.

Nomor handphone adalah sesuatu yang private. Apa di Indonesia juga sudah berlaku patriot act?  Sekejap terlintas di benak Lia gambaran bergaya kartun Jepang alias manga; dia terduduk dengan kedua tangan terangkat ke langit yang gelap, petir menyambar, langit berkilat, dia berteriak, Apa yang terjadi dengan dunia iniiiiiiii!!! Dan gema terdengar di kejauhan...ini...ini...ini...

Di telepon, pria itu melanjutkan; "'Oh maaf bu saya belum cerita. Kami mendapatkan nomor ini dari adik Ibu, Mas Hamonangan."

Dalam hati Lia berkata awas kau nanti Monang, tapi di telepon; "Maaf ya, saya tidak ada waktu sekarang. Dan kalau pun nanti saya ada waktu, saya perlu diskusi dengan suami saya dulu mengenai wawancara ini. Tau kan, banyak wawancara yang disalah gunakan orang sekarang ini. Jadi maaf sekali lagi ya." Cepat-cepat dia tutup telepon genggamnya.

Sepanjang hari nomor-nomor telepon yang tidak dikenal terus bermunculan di handphone Lia.  Dia sudah tidak mau menjawab telepon lagi kecuali nomor yang ada di daftar kontak nya. Mungkin para ahli harus mentes lagi teori yang mengatakan bahwa light travels the fastest, karena berita ini rasanya travel even faster.. Monang, adiknya tidak bisa dihubungi, bersembunyi, takut dimarahi kakaknya.
***
bersambung

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

sajak Aurora Kemarahan
Gendhotwukir

cerpen Indonesia
Andrei Evplanov (diterjemahkan oleh Victor Pogadaev)

ceritanet©listonpsiregar2000