ceritanet                                                      situs karya tulis,  po box 49 jkppj 10210 
edisi 154
jumat 180408

sajak Aurora Kemarahan
Gendhotwukir

Masuklah, ridna! Di luar orang-orang mulai mengigau dan tak pedulikan genangan air matamu yang telah membibir itu. Selama angin masih membelaimu. Kenangkanlah bahwa kita hanya seonggok sampah yang tak akan pernah mengerti makna perjalanan ini. Biarlah orang-orang menebar badai lalu menguncinya di daun pintu. Amarah yang kau pendam tak akan menebarkan segerombolan penari dari selatan. Deburnya akan tetap mendarat di kening dan pada kata-kata yang bercabang seperti lidah ular.

Selayak musim yang terus berganti, kata-kata akan berubah seiring baju yang berganti dalam hitungan waktu dan hari. Mengertilah bahwa setiap kali ada titik hitam pada lembaran kain kafan yang putih itu. Kenangkanlah perjalanan ke depan. Setiap jejak selalu tertinggal di belakang punggung. Harapan selalu datang dan terpenuhi, atau kadang pergi juga bersama kawanan bangau menuju matahari terbenam.

Seusai keinginan yang tergapai, ada langkah ke depan. Setiap jejak yang tertinggal tak jarang meninggalkan amarah dan dendam. Tapi, masuklah segera ke dalam! Di luar hanya ada gempuran amarah. Duduklah di tungku ini dan bakarlah dendam dan amarah itu di baranya. Setiap kebusukan telah mendapatkan tempatnya dalam genangan angkara murka, entah kapan datangnya. Setiap kebohongan yang terungkap akan didatangi seribu pedang yang akan menghujamnya dan membawanya sampai ke kematian. Terkutuk sampai keturunanya.  Duduklah segera di sisiku, kenangkan timangan ibumu yang tak akan pernah kau gadaikan itu.
2007 

Waktu Purba
*Siska dan Ridna Kekasihku

Setiap waktu engkau terdiam lalu tersenyum. Semburat sudut matamu mengabadikan gelombang rasa dari waktu purba. Luka yang tertahan. Kepedihan yang tersembunyi jauh di dasar lubuk hati yang tak seorang pun mampu menyelaminya. Di situ gerhana terus menjelma. Kata-kata dan senyum itu riuh mengalir selayak hujan salju dan telah menjelma kedok. Seperti angin yang tak bertepi, terus berpendar berusaha melupakan jejak, begitulah sayat yang terurai.

Setiap sudut menara tak mampu menampung geliat selaksa puisi malam dan entah sampai kapan engkau akan menipu diri dalam urai panas bergelora. Meracaki maut dan aroma badai. Melumatkan bau kebencian di jalan-jalan, di sudut temaram lampu-lampu jalan dan di bias tirai malam pertama saat menamatkan masa lajangmu.

Duduklah di sudut bias embun pagi. Bersikaplah jujur dan terbuka. Mengapa sepertinya engkau harus lari dari waktu purba dan membiarkan bayang-bayang itu terus memburumu. Melukisi harianmu dengan rasa suram tertahan adalah membiarkan setiap gegas keindahan lewat begitu saja dari hadapanmu. Setiap orang punya masa lalu. Setiap jejak yang tertinggal telah menemukan jalannya sendiri. Lembaran waktu purba adalah titik-titik hitam dan putih; gelap dan terang. Tak ada jalan yang menuju rumahmu tanpa kelokan karena setiap sembunyi telah memiliki jawaban.
2007

Ke Barat Kepada Bunga

Pak, mari kita pergi ke barat yang adalah timur juga. Ke barat mengejar matahari terbenam. Tetapi, janganlah sampai ke ujung barat karena di perempatan kita harus ke kiri memetik setangkai bunga. Setangkai Bunga Ridna. Bunga yang kata orang-orang seperti datang dari korea. Sayang,  bunga korea itu mulai layu karena ulah orang dungu sepertiku.

Pak sebelum sungguh-sungguh layu, biarkan aku membawakan sepoi dan derai gerimis karena bunga itu suka titik-titik gerimis. Ia pun suka membangun gerimis di keresahannya yang terbenam seiring riuh kata-kata yang memburat dari ujung  bibirnya. Sudah semestinya kita berlomba dengan badai yang akan memporak-porandakan. Tapi, badai itu hanya rajutan keresahan yang dibangun dari orang-orang dungu sepertiku. Dungu tahun baru yang menolak setuju berjejalan di sepanjang jembatan  code dan menolak menerawang liuk-liuk kereta api yang berkejaran dengan pesta kembang api.

Entah mengapa harus secepat ini kita buru-buru ke barat. Mungkin karena orang-orang dungu telah menjadi kelu pada seribu tombak yang siap menerkam dengan ujung jari-jarinya. Juga kilau berkelebatan di dalam gelap dan mimpi menjelang pagi seiring galau yang kian memanjang.
Komunitas Merapi di Ujung Sore, 030107

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

cerpen Indonesia
Andrei Evplanov (diterjemahkan oleh Victor Pogadaev)

novel
Ibu Presiden
Tirzah

ceritanet©listonpsiregar2000