ceritanet                                                      situs karya tulis,  po box 49 jkppj 10210 
edisi 154
jumat 180408

cerpen Indonesia
Andrei Evplanov (diterjemahkan oleh Victor Pogadaev)

Nenek saya dan Manyasha berkenalan sejak tinggal di kota Kirzhach. Manyasha lahir di sana dan bekerja di pabrik tenun sutra. Adapun nenek saya, dia datang ke situ mengikuti suaminya yakni kakek saya yang setelah meninggalkan dinas militer hendak tinggal justru di tempat kelahirannya.

Maklumlah Kirzhach ialah kota yang kecil, semua penduduknya kenal sesama --kalau bukan pada namanya, pada wajahnya pasti-- dan kedatangan seorang luar cepat diperhatikannya tetapi sikapnya terhadap pendatang baru tidak menentu. Dari satu segi penduduk setempat teringin sangat hendak tahu siapa orang baru itu? Mengapa datang ke sini? Melainkan dari segi lain mereka kuatir, orang bagaimana itu? Celaka, kalau seorang penjahat datang. Di Moskow ataupun misalnya di Vladimir yang tak jauh itu di mana penduduknya banyak sekali, orang penjahat itu tidak menyolok mata dan kesannya kurang, sedangkan di kota kecil bahkan pendesus biasa bisa memutarbalikkan segala kehidupan.

Maka maklumlah nenek saya juga disambut agak dingin. Benar juga para perempuan tetangga mula-mula sering singgah dengan dalil minta korek api ataupun bidal dan mengamati keadaan rumah tetapi tidak hendak bergaul dengan nenek saya lebih rapat.

“Selamat pagi”, “Terimakasih”, “Sampai ketemu lagi” dan sekianlah percakapannya. Mereka yang tidak ada dalil untuk singgah ke rumah pendatang baru itu dengan segala kelakuannya menunjukkan rasa keangkuhannya seakan-akan mau merendahkan orang yang datang dari ibu kota. Waktu nenek saya berjalan dengan memakai topi yang dihiasi bulu burung dan jas yang berbahu tinggi karena lapik kapasnya, mereka mengikutinya dengan pandangan yang begitu keras sehingga mustahil jika pandangan itu tidak menimbulkan babak belur di tubuhnya.

Pada umumnya nenek saya merasakan diri di tempat baru itu seperti dipamerkan di etalase toko dengan tanda harga. Adapun kakek saya, dia okelah karena dia toh berasal dari daerah itu dan lagi dia ialah laki-laki: bekerja di pabrik sebagai mekanik dan tidak memerhatikan apa-apa selain daripada mesinnya. Padahal nenek saya selalu berada di rumah sambil menjaga anak-anaknya seperti dalam benteng yang terkepung dan berkeluh-keluh saja.

Pada waktu itu dia adalah masih muda dan sesuai dengan gambar foto yang lama agak cantik dan rupawan, suka hendak mengikuti malam dansa tentu bersama suaminya, dan terus-terang dikatakan tidak berkeberatan jika bisa duduk bersama perempuan lain untuk minum teh dengan jem dan memperkatakan orang lain. Tetapi di sini tidak ada hal semacam itu: hanya desas-desus dan pandangan serong.

Nenek saya kesal karena kelakuan “orang biadab kota itu” dan rindu sangat akan kehidupan waktu lampau. Malam harinya dia sering mendekati suaminya, duduk di lututnya, meletakkan kepala pada bahunya dan membisik pada telinganya:

  1. Mari pergi dari sini, Vasya. Tak seorang pun suka saya di sini.
  2. Bodoh itu, kata kakek saya. Jangan ambil berat.
  3. Marilah pindah ke Ukraina. Orang di sana lebih ramah tamah.
  4. Bodoh itu! kakek mengulagi dan menciumnya pada bibir supaya tidak mendengar lagi omong-omong isterinya.

Beberapa bulan berlalu dan nenek saya hampir hilang semangatnya. Dia bahkan tidak mau berjalan-jalan di kota: keluar ke pekarangan saja, mondar mandir di kebun sayur dan kembali ke rumah. Akhirnya suaminya yang sebelumnya acuh tak acuh mengerti bahwa tiba waktunya untuk campur tangan dan memperkenalkan isterinya kepada seorang perempuan setempat, kepada siapa dia bisa mencurahkan isi jiwanya. Untuk itu dia bahkan terpaksa merendahkan harga dirinya dan minta seorang buruh rumah tangga supaya dia mengundang kakek dan nenek saya mengunjungi rumahnya.

Nenek saya begitu asyik, seperti Natasha Rostova diundang untuk malam berdansa di istana tsar. Dia menjahit kancing baru pada gaun sutra yang paling disukainya, menggilap sepatu lakernya dengan susu, mengeriting rambut dengan penyepit panas dan bahkan membakar pai: dia tidak mau pergi bertamu dengan tangan kosong.

Maka datanglah mereka ke rumah seorang buruh itu, duduk pada meja, bersantapan, memuji nyonya dan tuan rumah, bersantapan lagi. Sesudah itu para lelaki keluar ke anjung membicarakan masalah politik, sedangkan perempuan menolong nyonya rumah tangga membersihkan meja dan menyediakan teh.

Nenek saya dengan begitu saja mau menolong juga tetapi dia sebagai tamu kehormatan tidak kebagian kerja apa pun dan tetap duduk di ujung bangku menunggu suaminya. Begitulah dia duduk sendirian berpakaian cantik tetapi asing kepada para hadirin lain seperti pohon palem di kebun sayur. Tak seorang pun memerhatikannya. Perempuan lain mempercakapkan si Serafima yang menanam ketimun tapi tanamannya tidak tumbuh dan untuk nenek saya tidak ada peluang masuk percakapan itu.

Bersamaan dengan itu nyonya rumah tetap menambah teh sambil berkata: "Minumlah, jangan malu. Air selalu dapat liang untuk mengalir." Dan suaminya masih tetap di luar. Nenek saya merasa begitu bosan sehingga nyaris mau melarikan diri. Toh tiba-tiba tak tentu dari mana datanglah keponakan nyonya rumah, yakni gadis berbadan tinggi dan berwajah penuh tahi lalat yang mengambil tangan nenek saya dan membawanya ke kamar lain. Gadis itulah Manyasha.

Dia bercakap banyak dan cepat dan nenek saya menarik kesimpulan bahwa dia itu jarang menemui teman pembicaraan yang dengan sabar bisa mendengarnya. Mula-mula Manyasha menceritakan mengenai si Sevostikova yang pergi ke Arkhangelsk, kawin di sana dengan seorang kapten, melahirkan anak, bercerai dan pulang kampung halaman supaya berkawin lagi dengan seorang pemuda yang lama diidamkannya. Tetapi pemuda itu bukan orang bodoh dan menolak mengawininya.

Kemudian Manyasha menceritakan tentang seorang lelaki yang tiba-tiba memerlukan uang dan terpaksa meminta uang itu pada isterinya. Dan karena mereka sudah lama tidak hidup bersama --meskipun belum bercerai-- isterinya menuntut paspornya sebagai cagaran. Lelaki itu memberi paspornya, mengambil uang dan sangat senang. Tetapi dia mampu mengembalikan utangnya hanya satu tahun kemudian dan bila mendapat balik paspornya menemui di dalamnya catatan mengenai kelahiran anak lelakinya.

Nenek saya terbahak-bahak sampai air matanya mengalir tetapi Manyasha entah mengapa merasa tersinggung.

  1. Apa lucunya? Perbuatan macam itu mesti dihukum dengan penjara.
  2. Penjara? Itu terlalu!
  3. Mengapa tidak? Karena perempuan petualang macam itu, kaum lelaki kiranya akan takut wanita seperti api.
  4. Wah, hal itu tidak mungkin, nenek saya menjawab dengan bersenda-gurau.

Tetapi Manyasha kiranya bersikap serius dan tidak mau menerima senda gurauan itu.

  1. Bagi Nyonya soal itu tidak penting. Nyonya sudah berumahtangga. Vasili Petrovich, suami Nyonya seperti berlian: tampan, dapat gaji besar dan tidak suka bergaduh. Bagi saya sebarang lelaki paslah. Tapi tidak ada juga…
  2. Kamu masih muda. Untuk apa memikul beban kehidupan berumahtangga terlalu awal? kata nenek saya yang mau menghiburkan hati Manyasha, memegang sikunya dan menambah dengan penuh misteri: Apa yang belum diselami gadis perawan ialah kelebihannya.
  3. Bagi Nyonya soal itu tidak penting. Nyonya adalah cantik, mendengus Manyasha. Melainkan saya tidak bisa memikat hati lelaki. Karena kurus tinggi dan wajah penuh tahi lalat seperti telur burung Ku-ku. Padahal ada yang suka gadis semacam itu… Kalau saya bisa memperkecilkan badan saya! Pernah saya berkenalan dengan seorang lelaki dari pabrik kami. Pendek badannya. Dan namanya juga sesuai: Mizin. Jadi kami memberi kepadanya julukan: mizinets yakni jari kelingking. Dia selalu membuat pertemuan dengan saya di perkuburan. Wah, alangkah takut saya datang ke sana. Dan apabila saya menanyakan mengapa dia tidak hendak membuat pertemuan di tempat yang lebih sesuai untuk pertemuan dua sejoli: di tepi sungai atau di klub maka dia menjawab bahwa tidak mau supaya orang menertawakan kami.
  4. Apakah di sini tidak ada lelaki berbadan tinggi? tanya nenek saya.
  5. Lelaki berbadan tinggi suka perempuan yang kecil, Manyasha menjawab sambil mengeluh.
  6. Benar juga, setuju nenek saya. Telapak kakinya gampang termuat di telapak tangan suaminya. Anjing kecil sampai masa tua tetap seperti anak anjing. Tetapi pasti ada lelaki pandai yang tidak memerhatikan soal ukuran kaki.
  7. Yang pandai tidak kawin langsung, Manyasha mengeluh. Dan kalau kawin maka mencari keuntungan. Padahal apa keuntungannya berkawin dengan saya…
  8. Biarlah seandainya begini, setuju nenek saya. Tetapi kiranya kamu terlalu cepat putus asa. Dalam kehidupan manusia segala-galanya mungkin terjadi. Dan tak seorang pun bisa tahu nasibnya kecuali ada azimat khusus.

Maka berceritalah nenek saya kepada Manyasha kisah bagaimana dia mengetahui nama suaminya sebelum berjumpa dengannya. Kisah itu memang luar biasa dan saya pernah mendengarnya bukan satu dua kali. Nenek saya suka menceritakannya setiap kali kalau ada peluang. Dan kali itu kisah itu tepat waktu; dia perlu mendukung Manyasha yang sial itu, memberi harapan kepadanya.

Ternyata ada cara mudah untuk mengetahui nama bakal suaminya. Yang perlu ialah pada Hari Pembaptisan keluar rumah, memetik tunas dari pokok dan meletakkannya dalam mulut di belakang pipi dan kalau bertemu dengan seorang lelaki maka perlu mengunyah dan menelan tunas itu. Mau tidak mau nama bakal suami sama dengan nama lelaki yang dijumpai tadi. Tetapi kalau kamu meludah tunas itu, celakalah!, seumur hidup akan menjadi dara tua.

Begitulah. Jadi nenek saya berjalan di jalan raya dan mimpinya berjumpa seorang bernama Konstantin, begitu nama seorang lelaki tampan tetangganya. Tetapi yang dijumpainya ialah tukang sapu Habibullah yang pincang dan bular matanya. Maka nenek saya ragu-ragu kuat: apakah perlu dia menelan tunas pokok. Dan mestilah, tukang sapu itu jelek wajahnya dan tambahan pula namanya aneh sekali.

Tetapi apa bisa buat? Dia terpaksa menelan tunas itu supaya tidak ditimpa kecelakaan: masak bisa menantang nasib? Akhirnya tunas itu ditelannya dan nenek saya menjadi begitu sedih sehingga kehidupan tidak nyaman baginya. Di mana-mana pun dia melihat wajah Habibullah yang hodoh dan tua itu. Dia tidak bisa memusatkan perhatian pada pekerjaan dan segala-galanya jatuh dari tangannya. Dan keadaan itu berlangsung sampai ibu nenek saya mengetahui segala seluk beluknya. Nenek saya mencurahkan isi hatinya kepada dia dan ibunya ketawa saja:

  1. Bodoh kamu! Benar-benar bodoh! Habibullah itu nama Tartar, tetapi dalam bahasa Rusia nama itu berarti Vasiliy. Dia selalu menyahut bila dipanggil dengan nama Vasiliy.
  2. Jadi begitu nasib baik Nyonya, kata Manyasha yang menjadi lebih kecewa daripada sebelumnya. Tetapi dalam kehidupan saya segala-galanya ganjil sekali. Dan azimat yang ada begitu memalukan.

Dan dia mengisahkan cerita yang nenek saya tidak bisa teringat kemudian tanpa ketawa. Gadis-gadis di kota itu ternyata juga suka mencari azimat untuk meramalkan nasib. Pada tengah malam mereka, seorang demi seseorang, mendekati gubuk mandi dan mengangkat tepi gaunnya di depan pintu terbuka. Mereka percaya bahwa bila roh gubuk mandi itu membelai belakang telanjang mereka dengan tangannya maka gadis itu akan kawin tak lama lagi. Dan kalau tidak, mesti menunggu satu tahun lagi. Tambahan pula roh gubuk mandi itu bisa memberitahu kesejahteraan bakal jodoh. Jika dia membelai dengan tangan berbulu maka bakal jodoh itu ialah orang kaya dan jikalau membelai dengan tangan halus bakal jodoh ialah orang miskin.

Pada suatu ketika bertemulah beberapa gadis bersama dan pergi ke rumah Manyasha untuk menilik nasibnya. Malam itu gelap gulita dan mereka begitu takut sehingga seakan-akan terdengar suara dari gubuk mandi. Lama mereka tak berani mendekati gubuk itu. Akhirnya seorang yang paling berani dari mereka pergi ke sana sedangkan yang lain menunggu di anjung rumah. Tiba-tiba terdengarlah pekikan nyaring dan gadis yang berani itu muncul tercungah-cungah.

  1. Roh membelai saya tiga kali, katanya dengan bernafas kerap. Satu kali dengan tangan berbulu dan dua kali dengan tangan halus.

Para gadis mula membicarakan apa artinya dan mengambil kesimpulan bahwa gadis itu akan kawin tiga kali: mula-mula dengan seorang kaya dan kemudian dengan dua orang miskin.
Gadis-gadis lain juga tidak kekurangan belaian roh gubuk mandi dan aneh sekali ternyata setiap gadis ditakdirkan kawin dua tiga kali.

Tibalah giliran Manyasha. Dia mengangkat tepi gaunnya dan menunggu. Tiba-tiba terasa pukulan keras dari belakang sehingga dia hampir jatuh. Gadis lain menanyainya, habis bagaimana? Dia tentu menjawab bahwa dia dibelai dengan tangan berbulu tetapi menunduk kepala tidak berani memandang lurus ke wajah mereka.

  1. Astaga! kata nenek saya sambil coba menahan ketawanya. Masakan begitu? Kiranya itu perbuatan seorang nakal.
  2. Tidak mungkin, Manyasha menggelengkan kepala. Tidak mungkin orang lain mendengar percakapan kami. Benar juga adik lelaki saya bisa mendengar tetapi dia itu masih kecil, berumur empat tahun. Kiranya saya ditakdirkan hidup sial.
  3. Jangan putus asa, kata nenek saya. Tak usah mengambil berat hal-hal yang bodoh. Saya yakin segala-galanya berakhir baik. Kamu pasti akan berkawin kalau benar-banar mau. Saya sendiri akan mengajar kamu bagaimana memikat lelaki. Saya tahu caranya… dan cara itu pasti akan berhasil karena kamu ialah orang yang baik hati, bukan seperti perempuan lain di sini. Katakanlah saja, kamu tidak takut berkawin?
  4. Takut apa? heran Manyasha.
  5. Kamu sekarang bebas seperti angin, kata nenek saya dengan terus-terang. Sedangkan kehidupan berumahtangga meski yang paling berbahagia sama seperti penjara. Dan mungkin semakin berbahagia kehidupan itu semakin ketat penjara itu. Bisa jadi tidak perlu berkawin langsung. Saya sendiri walaupun hidup berbahagia dengan suami, toh kadang-kadang juga memikirkan tentang waktu bujang. Ada keinginan misalnya naik perahu atau pergi ke klub untuk ikut serta dalam kegiatan paduan suara, tetapi tidak mungkin jadi: ada pakaian kotor untuk dicuci, ada kubis untuk diiris supaya membuat acar.
  6. Biarlah saya akan membuat acar juga, Manyasha berkeberatan.Bukan untuk orang asing… Nyonya cakap: kebebasan. Melainkan saya tidak tahu apa yang saya buat dengan kebebasan itu. Menurut saya perempuan yang bebas sama seperti perempuan yang tidak diperlukan oleh siapa pun. Anjing berkeliaran juga bebas, bisa lari ke mana suka. Tetapi orang mabuk bisa melemparkan batu kepadanya dan tak seorang pun akan campur tangan. Jadi “penjara” yang dimaksudkan nyonya itu bagi saya lebih baik daripada keadaan sekarang. Sekurang-kurangnya penjara itu ialah rumah juga.

Begitulah nenek saya berkenalan dengan Manyasha. Bisa dikatakan bahwa mereka bersahabat meskipun persahabatan itu berlangsung satu malam saja. Selepas pertemuan itu terjadi peristiwa yang memisahkan mereka untuk tempo waktu yang lama. Kakek saya dengan tiba-tiba dipanggil kembali berdinas di tentara dan dipindahkan ke kota lain. Nenek saya mengikutinya. Di sana seorang anak lagi dilahirkan pada mereka, yakni ibu saya. Setelah itu perang mulai.

Vasiliy Petrovich selalu di medan perang sedangkan nenek saya bekerja di rumah sakit dan mengasuh anak-anak. Akhirnya perang selesai dan kakek memberitahu nenek saya bahwa dia ingin menetap lagi di Kirjach.

Dan mereka pulang ke kota kecil itu di mana mereka tidak ditunggu oleh siapa pun. Nenek saya coba mencari Manyasha tetapi dia diberitahu bahwa Manyasha pergi dari kota itu sebelum perang. Waktu ini nenek saya tak pernah bosan, karena masa lain tiba; dia harus selalu memikirkan bagaimana membuat keluarganya selalu kenyang dan mempunyai pakaian bersih dan rapi. Lagi pula umurnya tidak muda lagi. Pada masa itu dia sudah menjadi perempuan tua; pendek badannya dengan sanggul rambut putih di bagian belakang kepalanya –begitulah saya ingat dia seumur hidup.

Kakek saya juga berubah, menjadi botak, gemuk dan yang paling penting,perangainya semakin buruk. Terutama sesudah anaknya menjadi dewasa dan meninggalkan kampung halaman. Kakek selalu sukar beranjak dari pendiriannya dan sangat berbangga karena hal itu. Kemauannya keras seperti batu tetapi kiranya dia mau menjadikannya keras seperi intan dan dalam kemauannya itu dia kadang-kadang lupa daratan dan melampaui segala batas. Sampai pada masa tua dia begitu sehingga tidak bercakap dengan isterinya berbulan-bulan lamanya hanya karena istrinya, menurutnya, tidak mengerti apa-apa dalam keadaan internasional atau langsung menolak minum teh hanya karena harga teh naik beberapa sen saja.

Nenek saya mengasihi suaminya dalam keadaan yang begitu menyedihkan. Dia sangat pilu melihat bagaimana orang yang paling dekat baginya menjadi tua renta yang tak tertolong lagi. Begitu ngeri keadaannya sehingga nenek saya beberapa kali hampir melarikan diri dari rumahnya.

Kadang-kadang dia membereskan barangnya pada waktu malam, pergi ke stasiun kereta api, duduk di sana dua tiga jam dengan barang-barang di lutut dan akhirnya pulang sehingga kakek atau orang lain tidak tahu-menahu kejadian itu. Apa pikirannya waktu dia duduk di antara orang lain yang makan dan tidur di sana, di bangku tua, atau bahkan di lantai penuh dengan sisa-sisa kuaci? Tentang banyak hal dan mungkin tentang percakapan ganjil dengan gadis Manyasha yang aneh itu yang tiba-tiba muncul entah dari mana dan hilang entah ke mana juga.

Vasiliy Petrovich meninggal dengan cara luar biasa juga. Dia mengunci diri di kamar tidur dan tidak membiarkan seseorang  pun masuk sampai mati. Entah dia mau membuktikan apa dengan itu tetapi sebelum meninggal dia menjadi murah hati dan bahkan memaafkan kejahilian isterinya dalam bidang politik.

Nenek saya membalas kemurahan hatinya dengan meletakkan di kuburnya batu nisan yang begitu mahal sehingga menghabiskan hampir segala wang yang dia dapat sesudah menjual rumahnya. Selepas itu dia naik kereta api dan empat jam kemudian sudah berada bersama kami di Moskow.
***
bersambung

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

sajak Aurora Kemarahan
Gendhotwukir

novel
Ibu Presiden
Tirzah

ceritanet©listonpsiregar2000