ceritanet                                                      situs karya tulis,  po box 49 jkppj 10210 
edisi 152
senin 170308

memoar Krupuk dan Pemerintah
Presidem Hayat

Most people are about as happy as they make their minds to be - Abraham Lincoln

Belum terlalu sore, tapi hujan sudah mengurung kampung kami. Lampu-lampu tempel tak kuasa mengusir dingin. TV hitam putih menggeriap, tak berdaya di kotak kayunya kehabisan aki. Di sudut-sudut dinding cicak menggigil mengintai mangsa.

Hujan selalu membiakkan lapar dan lapar membuat badan lemas. Meja makan kosong. Secuil tempe pun tak ada. Warung soto dan penjual makanan di pasar juga belum buka. Perut perih merintih. Yang paling dibutuhkan saat ini hanyalah makanan, lain tidak.

Di dekat rumahku ada penjual krupuk dadu. Bukan sekedar menjual, tapi juga meracik dan menggoreng sendiri. Aku boleh membeli kapan saja. Kulirik uang di saku masih ada lima puluh perak. Cukup buat membeli satu plastik beasr kerupuk dadu –di kampungku  orang menyebutnya krecek.  

Kalau tidak sedang hujan dan sesekali ada gonggongan petir, mungkin tidak ada masalah. Tetapi berjalan di bawah payung yang ujungnya besi, bagiku seperti menggantikan diri jadi penangkal petir. Seperti ikan yang siap dipanggang untuk pesta barbeque. Atau seperti stuntman untuk kambing guling. 

Aku memang sedikit gentar pada petir, tapi kebencianku pada kelaparan bisa menjinakkan ketakutan. Cintaku terhadap hujan juga ikut memompa nyali. 

Kusimpan uang logam di saku celana pendek dan kucopot bajuku. Berdiri dulu beberapa saat di bawah talang --ini saluran air yang terbuat dari seng pada cucuran atap-- untuk beradaptasi. Tanpa alas kaki, aku berlari berkecipakan menginjaki genangan air. Sesekali melompat-lompat keasyikan. Lupa ancaman petir. Yang penting harus kudapatkan krupuk.

Rasa krupuk yang gurih-menagih bisa menenangkan perutku. Menendang lapar. Ibu dan kakak perempuanku juga terlihat gembira. Nasi goreng yang sedang dibuatnya akan jadi lebih komplit dengan adanya krupuk. Kembali ada senyum meskipun awan gelap masih membekap langit. Aku berbahagia. Rasanya seperti pahlawan pulang dari medan perang.
***

Mesin uap sudah lebih dari 2 abad ditemukan James Watt. Dan Thomas Alva Edison juga sudah menemukan lampu pijar kurang lebih 100 tahun. Tapi apes, listrik belum juga sampai di kampung kami saat itu. Pejabat daerah kelihatannya lebih suka mengurus istri muda daripada membangun infra struktur. Pembangunan seperti jalan ditempat.   

Tapi selalu ada blessing in disguise. Dimana-mana. Benih kebahagiaan seketika menjadi ranum, di tempat-tempat orang yang susah atau sedang kesusahan. Uang lima puluh perak dan krupuk bisa membuatku bahagia. Bahkan, melebihi rasa senangku bisa tidur di hotel bintang lima karena di kasih gratisan dari kantor atau dapat reward karena banyak memasukkan tamu.   

Meskipun aku sangat sedih mendengar berita ada ibu yang mengajak anaknya mati untuk membakar kesulitan hidup.

Meskipun aku geram terhadap pemerintah yang lagi-lagi lalai mengurus orang-orang miskin.

Mungkin seharusnya hal itu tidak perlu terjadi. Karena hidup harus selalu bersyukur, karena kebahagiaan ditentukan oleh bagaimana kita me-manage pikiran kita. Karena berbahagia itu adalah kewajiban setiap orang.

Tapi apa orang lapar bisa me-manage pikiran, apakah orang lapar wajib berbahagia.

Geramku pada pemerintah semakin bertambah.
***

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

kafilah
Herry Sudiyono

13 Abad dan Sriwijaya Bangkit Lagi
T. Wijaya bin M. Bachtiar

ceritanet©listonpsiregar2000