ceritanet                                                      situs karya tulis,  po box 49 jkppj 10210 
edisi 152
senin 170308

komentar 13 Abad dan Sriwijaya Bangkit Lagi
T. Wijaya bin M. Bachtiar

13 buat sebagian orang adalah angka sial atau tidak beruntung. Tapi, bagi masyarakat Sumatra Selatan angka itu sangat beruntung.

Pada tahun ke-3 kelahiran Sriwijaya FC, klub ini menjadi juara Piala Copa Dji Sam Soe ke-3, lalu menjadi juara Liga Indonesia ke-13, dan dipimpin oleh Gubernur Sumatra Selatan ke-13 --Syahrial Oesman-- yang berumur 53 tahun. Apakah ini pertanda kebangkitan kembali kejayaan Sriwijaya?

13 abad lalu, lahir sebuah kerajaan maritim di Palembang . Kerajaan yang dibangun sejumlah suku bangsa di Asia, seperti Tionghoa, India, dan Melayu, itu kemudian berjaya di nusantara. Kini, Sriwijaya kembali lahir. Bedanya, dulu berjuang memanggul senjata, sekarang dengan sepakbola.

Percaya atau tidak --seperti kerajaan Sriwijaya-- kebangkitan Sriwijaya FC juga diawali dengan menancapkan kukunya di bumi Siliwangi. Bedanya, dulu para laskar Sriwijaya menaklukan kerajaan Tarumanegara, kini mereka menghempaskan pasukan Medan di Stadion Si Jalak Harupat --yang untuk kali pertama dipakai dalam pertandingan sepakbola berskala nasional. Hasil akhir 3-1 untuk Sriwajaya FC .

Mungkin menyamakan Sriwijaya FC dengan kerajaan Sriwijaya terlalu berlebihan, tapi melihat reaksi atau popularitasnya, dapat disejajarkan. Apalagi setelah kejatuhan kerajaan Sriwijaya abad ke-13, masyarakat Sumatra Selatan—khususnya Palembang —tidak mendapatkan ikon yang dapat dibanggakan di nusantara.

Popularitas Sriwijaya FC kini benar-benar menonjol. Setelah mampu meraih Piala Copa 2007, dan berpeluang menyandingkannya dengan piala Liga Indonesia 2007, pasukan Rahmad Darmawan benar-benar menjadi buah bibir para pencinta sepakbola di Indonesia, dan mungkin di Asia.

Laskar Sriwijaya ini juga cukup unik. Berbeda dengan klub lain, para pemain Sriwijaya FC seperti miniatur Indonesia. Di klub ini bercokol pemain asing, juga yang berasal dari berbagai daerah nusantara, seperti Papua, Sulawesi, Jawa, Sunda, Bengkulu, Medan, dan Palembang. Bahkan, mungkin Sriwijaya FC satu-satunya klub yang memainkan pemain berdarah India , yakni Vijay.

“Dulu, laskar Sriwijaya diperkirakan juga berasal dari berbagai suku bangsa di dunia, seperti Tionghoa , India , Melayu, dan negroit,” kata budayawan Palembang , Djohan Hanafiah.

Bila Sriwijaya FC mampu menyandangkan 2 gelar sepakbola bergengsi di Indonesia, yakni Piala Copa dan Liga Indonesia , maka Sriwijaya FC menjadikan klub pertama yang lahir dan merebut dua gelar dalam sejarah persepakbolaan di Indonesia.

Selain itu, Sriwijaya FC menjadi simbol kebangkitan sepakbola di Pulau Sumatra, yang tidak lagi didominasi oleh klub atau tim dari Medan , Sumatra Utara.

Dampak lain dari prestasi Sriwijaya FC ini yakni terdongkraknya popularitas Syahrial Oesman sebagai Gubernur Sumatra Selatan. Prestasi Sriwijaya FC membuat Syahrial Oesman menjadi kandidat kuat Galon gubernur Sumatra Selatan periode 2008-2013. Benar atau tidak, prestasi Sriwijaya FC membuat lawan politik Syahrial Oesman menjadi iri. Beredarlah SMS yang isinya soal rencana lawan politik Syahrial Oesman untuk menyogok wasit dalam pertandingan Sriwijaya FC versus Persija.

“Saya membangun dan membina Sriwijaya FC merupakan keinginan rakyat Sumsel. Jadi, prestasi Sriwijaya FC merupakan milik rakyat Sumsel,” kata Syahrial Oesman.

Terlepas soal itu, keberhasilan Sriwijaya FC meraih dua gelar piala antarklub di Indonesia itu, merupakan prestasi yang luar biasa. Bahkan, dapat dikatakan seperti mimpi di siang bolong.

Sayang, bila Sriwijaya FC mampu menyadangkan dua gelar itu, mereka tidak mampu membuktikan kekuatannya di Asia, lantaran Indonesia diberi sanksi AFC.

Tapi, bila mereka kembali berjaya di tahun 2008 ini, kesempatan terbuka bagi mereka untuk mengulang kerajaan Sriwijaya, yang pada masanya berjaya di nusantara dan Asia.
***

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

kafilah
Herry Sudiyono

Krupuk dan Pemerintah
Presidem Hayat

ceritanet©listonpsiregar2000