ceritanet                                                                            situs karya tulis,  po box 49 jkppj 10210 
edisi 151
senin 030308

esei Meratapi Permainan Tradisional
Gendhotwukir

Banyak orang tua yang sering mengeluh karena anaknya kecanduan game-game modern. Anak-anak mereka tidak lagi akrab dan bahkan kurang mengenal permainan tradisional, seperti gobak sodor, petak umpet, cublak-cublak suweng, tergantikan dengan keasyikan main  PS 2, bercengkrama dengan game komputer, dan suka nongkrong di game center berjam-jam lamanya. Mereka kecanduan game-game modern dan tak jarang pula orang tua menjadi berang.

Counter Strike, Ragnarok On-line, Medal of Honor, Winning Eleven dan jenis game lain tentu tidak asing lagi bagi anak-anak dan kaum muda dewasa ini. Game-game tersebut dengan mudah dapat ditemukan di game center atau tempat bermain playstation. Kemunculan game-game modern secara historis mulai marak di awal 1990-an, mulai dari Nintendo, Sega, Playstation dan, yang hingga hari ini, mendapat ruang dalam game center. Bahkan game-game modern semakin merambat sampai ke pelosok-pelosok desa.

Kemajuan tehnologi membawa banyak kemudahan bagi manusia. Permainan-permainan baru dalam bentuk game komputer diciptakan. Permainan modern manjadi semakin kaya sensasi, mengasyikkan dan penuh fantasi. Bayarannya permainan tradisional kini mulai ditinggalkan. Permainan tradisional yang kaya nilai digantikan dengan permainan modern produk tehnologi. Game-game modern menjadi lebih praktis karena tak memerlukan tanah lapang dan banyak teman. Cukup sendirian di depan layar pun seseorang bisa terjun dalam permainan yang mengasyikan.

Kehadiran game-game modern tidak perlu ditentang, hanya saja dihadapkan pada situasi maraknya kehadiran playstation dan game center yang terus merambah ke desa-desa, gejalanya bisa dilihat secara obyektif.

Runtuhnya Kepekaan Sosial
Di balik kemudahan yang didapat dari game-game modern, ternyata ada aspek eksistensial seseorang yang makin tersamar. Game-game modern cenderung mengarahkan dan membentuk seseorang menjadi seseorang yang individualis. Dengan bermain game-game modern seseorang cenderung membuat dunianya sendiri dan menikmatinya. Padahal semakin ia berjarak dari dunia nyata, semakin ia teralienasi (terasing) dari dunia sekitarnya.

Manusia modern membangun dunianya sendiri dalam mesin yang menakjubkan dan lambat laun mesin itu menguasainya. Jadi manusia tidak lagi merasakan diri sebagai pembawa aktif dari kekuatan dan kekayaannya, tetapi sebagai benda yang dimiskinkan, yang tergantung kepada kekuatan di luar dirinya.

Dalam game-game modern anak diajak bertamasya ke dunia bentukannya sendiri dan berkuasa atasnya. Tetapi sebenarnya, ia tidak mencipta fantasi maupun ilusi. Ia hanya memakai saja sarana yang sudah ada dan terformat sedemikian rupa. Ia masuk ke sebuah dunia mikrokosmos tanpa pengembaraan, tanpa keriangan dan rasa takjub. Ia hanya takjub pada citraan simulasi.

Dalam game modern, anak bukanlah pencipta, ia hanya pemakai. Ia digiring pada dunia mikrokosmos yang telah diprogram. Lawan yang ada bukanlah manusia, tetapi ikon-ikon dalam dunia maya yang telah diprogram. Maka, yang dihasilkan adalah kemabukan pada ikon-ikon maya, sekadar kenikmatan (ekstasi) kecepatan pengoperasian keyboard.

Satu hal yang sering tidak disadari bahwa ketika mesin-mesin yang diciptakan itu mulai menguasai manusia, nilai-nilai manusiawi pelan-pelan ditiadakan. Hal ini juga berlaku juga pada fakta pergeseran permainan tradisional ke game modern. Yang terjadi di sini yaitu pemiskinan makna bersosialisasi yang mengarah pada hilangnya kepekaan sosial. Manusia semakin teralienasi dari lingkungan dan dunia realnya.

Kehadiran game-game modern membawa manusia semakin terasing dari dunia real. Seseorang tidak perlu berinteraksi dengan orang lain untuk bermain game-game tersebut. Sendirian pun dapat bermain dan menciptakan dunianya sendiri. Dunia yang lebih hebat, lebih megah, walau sama sekali lain dengan dunia real. Seseorang bisa saja menjadi lupa tentang keberadaan alam sekitar dan sesamanya. Kodrat manusia sebagai mahluk sosial terancam. Manusia menjadi lebih individual. Sendirian, tanpa orang lain, tanpa alam, manusia dapat menikmati dunia yang disediakan oleh bermacam game modern.
 
Interaksi Permainan Tradisional
Permainan tradisional, bahkan dalam bentuk permainan paling sederhana pun, membutuhkan orang lain untuk memainkannya. Jika dilakukan sendirian, permainan menjadi tidak asyik dan unsur suspense dalam permainan menjadi berkurang. Petak umpet tidak dapat dilakukan sendirian, cublak-cublak suweng tidak akan ada tanpa teman, gobak sodor tidak akan terjadi tanpa sekumpulan kawan. Secara pasti dapat dikatakan bahwa permainan-permainan tradisional dimainkan bersama orang lain. Dengan demikian, muncullah interaksi antar manusia.

Prmainan tradisional juga mengajarkan sportivitas dan aturan main yang disepakati bersama. Memang benar bahwa sudah ada aturan umum dalam sebuah permainan tradisional. Namun demikian, untuk memulai suatu permainan pada suatu waktu, mau tidak mau, anak-anak akan berunding terlebih dahulu dan membuat kesepakatan bersama. Interaksi yang terbangun tidak hanya dalam taraf kebersamaan fisik (sosio fisik) tetapi juga afektif (sosio afektif) dan psikis (sosio psikis).

Juga ada lebutuhan untuk interaksi manusia dengan alam sekitar. Jika diperhatikan, kebanyakan permainan tradisional tidak membutuhkan banyak alat. Alam telah menyediakan berbagai sarana untuk permainan tradisional. Petak umpet tidak perlu alat selain halaman dengan berbagai pohon dan bangunan sekitar, cublak-cublak suweng cukup beralatkan sebuah batu kecil, sementara gobak sodor dapat dimainkan berbekal halaman luas dan sebuah dahan kering untuk membuat garis. Alam sudah menyediakan alat dan sarana untuk bermain. Lebih dari itu, karena keakraban dengan alam, manusia kerap kali diajari alam (kearifan lokal) yang kadang-kadang tak bisa dipecahkan oleh nalar.

Ekpresi dan apresiasi permainan diwujudkan dengan interaksi langsung dengan sesama manusia. Dengan demikian, berkembanglah sebuah komunitas antar manusia. Di sini mereka belajar nilai-nilai kemanusiaan. Mereka saling bercengkrama, mengalahkan, mengejek dan sekaligus menerima kekalahan. Aspek afektif tersentuh dalam permainan tradisional, bukan hanya sekadar aspek psikomotorik.

Quo Vadis permainan tradisional?
***

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

cerpen Memilih-milih Lapar
Anton Bae bin Yazid Amri bin Abdul Kohar

sajak Pemimpin Perang Memimpin Negara
M. Arpan Rahman

ceritanet©listonpsiregar2000