ceritanet                              situs karya tulis,  po box 49 jkppj 10210 
edisi 150
jumat 150208

cerpen Jejak Duka
Han Gagas

Memang, hidup begitu nelangsa. Apalagi saat itu, saat revolusi menjadi panglima. Revolusi yang tiba-tiba merebut suamimu atas nama perang melawan antek neokolim, Malaysia. Revolusi yang tidak hanya memisahkan kalian tapi juga mengabarkan hal paling buruk sepanjang hidupmu. Batinmu yang belum pulih benar melepas kepergiannya tak sampai sebulan, harus ditikam lagi oleh kabar duka dari lurah. Ia tertembak musuh, terseret arus, dan lenyap ditelan sungai.

Suamimu gugur.

Hidup menjadi begitu sembilu saat kau sendirian di rumah gebyok sunyi, mencari daun singkong, menanak thiwul dan menjolok petai --biasanya suamimu yang melakukan itu-- lalu memasaknya untuk kau makan sendiri. Kadang kau berpikir lebih baik pergi meninggalkan desa, pergi jauh mencari suamimu untuk menegaskan keberadaan dirinya, tetapi ketika keinginan itu muncul, nenek selalu mendatangi lewat mimpi untuk membunuh keinginanmu. Dan, seperti yang selalu kau lakukan, engkau tak bisa menolak permintaan nenek, sekalipun diutarakan lewat mimpi.

Memang semua orang, tetangga, kerabat, selalu membesarkan hatimu. Semua orang selalu berusaha membuat hatimu riang agar bebanmu berkurang. Semua orang selalu meluangkan waktu untuk mengunjungimu, sambil terkadang membawa berbagai macam keperluan dapur. Mereka peduli padamu, tidak hanya ingin meringankan beban hati tetapi juga keperluan hidupmu. Mereka juga sering mengajakmu ke pasar malam atau wayangan jika ada tetangga yang hajatan. Engkaupun ikut tetapi selalu saja kau bersedih hati lagi manakala mereka pamit untuk pulang ke rumah masing-masing.

Dan kau sendirian lagi.

Saat menelisik hatimu, kadang kau merasa suamimu masih hidup, entah berada di mana. Seperti warga lain, engkau pun sangat mempercayai lurah. Semua orang sudah tahu, lurah kita, Pak Benowo, sangat baik hatinya, luhur budi pekertinya, dan jujur ucapannya. Kitapun tahu bahwa semenjak dipimpinnya, kita selalu aman dan bisa makan sehari-hari. Desa tetangga --yang hanya terpisahkan hutan jati-- sering saling bentrok karena pandangan berseberangan. Desa kita selalu guyub, dan kalau desa lain paceklik, kita masih berkecukupan. Gaplek masih tersedia untuk mengganjal perut kita.

Tetapi engkau tetap meragukan berita dari Pak Benowo, tentang suamimu. Ya, aku mengerti. Betapa tak relanya kau kehilangan suami, toh engkaupun belum melihat sendiri jasad suamimu. Dan selalu saja kau menunggu kedatangan suamimu di kursi sebalik pintu. Engkau khawatir jika menunggu di lincak beranda rumah, kau akan kelihatan tak percaya omongan Pak Benowo. Kau tak ingin jadi tak enak hati.
***

Malam menggunting siang dan orang pun mulai berangkat tidur, engkau masih tetap menunggu. Kau selalu berharap, seperti berita gugurnya suamimu yang datang tiba-tiba, kedatangan suamimu juga akan datang tiba-tiba. Engkau selalu membayangkan, suamimu tiba-tiba muncul dari kelokan pertigaan jalan menuju pelataran rumahmu. Terkantuk-kantuk di kursi, engkau tetap tak beranjak hingga akhirnya jatuh tertidur di kursi kayu keras itu.

Hari menembus minggu, engkau lalu merasa mulas dan mual. Engkau bergembira tapi sekaligus sedih karena di saat rahimmu berbenih, suamimu tak akan pernah tahu kabar yang selalu ia nantikan. Kadang suamimu datang terbawa mimpi, engkaupun dengan suka cita menyambutnya, mengabarkan kehamilanmu, mengobrol semalaman sambil memolesi minyak tawon ke perutnya yang kadang-kadang nyeri, atau menanyakan perihal hobinya berburu tupai. Tapi kemudian kau tersadar itu cuma mimpi, dan akhirnya bayangan itu pergi meninggalkan sisa kenangan malam bersamanya.

Di setiap detik kenangan, engkau selalu merasa hidupmu sangat bergantung pada suamimu, mungkin itulah tresna. Engkau sangat mencintai suamimu seperti halnya mencintai nenek. Aku tahu, di sepanjang hidupmu cuma mereka berdua yang hidup bersamamu. Sebelum menikah, nenekmulah yang mengasuh karena orang tuamu dibunuh tentara Jepang, dan kakek sudah lama meninggal diserang wabah pes.

Lalu Kang Pur, tetangga dukuh kita, meminang saat usiamu enam belas, tepat di hari wetonmu, Jumat Wage. Nenek amat girang karena Kang Pur dikenal sebagai orang alim, dan seorang serdadu. Karena nenekmu setuju kaupun menerima lamarannya. Aku tahu, engkau selalu tak bisa menolak kemauan nenek, juga karena rasa iba pada nenek yang selalu kesepian, hidup hanya berdua denganmu.

Lalu kalian menikah dalam bulan sapar.

Aku tak lupa, akulah yang merias wajahmu agar tampak cantik seperi putri-putri keraton. Kebahagiaanmu tak lama, Kang Pur mendapat tugas dalam revolusi Ganyang Malaysia. Ia ikut menerobos perbatasan.

Dan di Serawak peristiwa itu terjadi.

Di pagi yang masih pekat, pasukan yang hendak menyeberang lewat jembatan kayu diberondong musuh dari atas bukit. Sang komandan berteriak mundur tapi langkahnya terhenti. Dalam lintasan kabut, sebutir peluru menyongsong, tubuhnya meluncur, dan Sungai Rajang dengan ganas melenyapkannya. Di suatu siang yang terik, Pak Benowo mengayuh sepeda pancalnya menemuimu, menceritakan kabar itu. Engkaupun menangis tersedu-sedu.

Sejak itu, kesenyapan hati melingkupimu.
***

Waktu telah lama bergerak namun lara masih menyisa. Engkau terus menjalani kesendirian, antara menanti yang pergi dan ingin melupakannya. Anakmu telah lama lahir dan baru saja kau sapih. Para tetangga dan kerabat sesekali mengusulkan untuk kawin lagi. Mereka tahu tentang kesepianmu di rumah yang jembar itu, hanya berdua dengan anakmu. Lagipula mereka juga kasihan jika wajah ayu dan kulit halusmu itu harus nandur dan memburuh tebu untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kita semua tahu, wajah ayu dan kulit halusmu turun dari darah keraton karena nenekmu menjadi gundik bendara.

Engkau hanya tersenyum kecil. Namun banyak yang mengartikan senyum itu sebagai jawaban iya atau boleh saja dan para tetangga atau sedulur-sedulur kita sesekali mengajak lelaki ke rumahmu. Aku yakin, paras ayu dan usia mudamu menarik banyak laki-laki untuk melamarmu. Tapi engkau selalu menolak dengan lembut.

Lalu, tak tahu dengan alasan apa, aku juga datang ke rumahmu mengajak kakakku. Dia, mantri desa kita, belum kawin.

Dan tak kusangka engkau menerima kakakku.

Apa karena dia teman baik suamimu dan juga kangmasku satu-satunya? Aku tak menyoalkannya. Yang terpokok kuharap engkau bisa melupakan suamimu dan bebas dari kesepian. Lalu pernikahan terjadi, kau kawin dengan kakakku. Saat itu kondisi memang masih mencekam, namun kita patut bersyukur karena peristiwa pembunuhan besar-besaran terhadap oramg-orang yang dianggap komunis di desa tetangga, tak sampai mengganggu acara pernikahanmu yang sederhana.

Lewat sepekan setelah pernikahan itu aku merantau ke Surabaya. Lama tak pulang dan tak tahu kabar apapun, sampai berita mengagetkan datang. Telegram dari kakakku yang isinya  Kang Pur datang tiba-tiba! Telah lebih tiga tahun kepergiannya.

Aku bingung dan kuputuskan langsung pulang ke desa.
***

Menemuimu., seketika hatiku luruh saat menatap mata yang kuyu. Engkau tersenyum tetapi aku tahu sedang berusaha menutupi beban hati yang berat. Persahabatan kita sejak kecil membuatku mengerti yang sebenarnya kau rasakan. Lalu, untunglah saat itu Pak Benowo datang memecah kebekuana. Dia mengucapkan beribu rasa sesal dan maaf atas kekeliruan berita yang dahulu.

Engkaupun terdiam, tapi kita pun tahu Pak Benowo tak bermaksud buruk padamu. Berita itu resmi dari pemerintah melalui utusan Komando Siaga. Jadi yang salah pemerintah, bukan? Aku tahu engkau kemudian bersedih. Ternyata Kang Pur masih menginginkanmu. D

Dilema berat itu melingkupimu.

Lalu engkau menarik diri dari pergaulan masyarakat. Kau bahkan meninggalkan kakakku dengan kembali ke rumah mendiang nenekmu, menyendiri, menghindari kakakku dan Kang Pur. Bahkan engkau pun tak menerima obrolanku dengan isyarat senyum beku. Akupun merasa bersalah karena akulah yang mendekatkan kakakku.

Lewat seminggu kau berdiam, lalu di senja yang muram kau bertamu ke rumah Pak Benowo untuk menyampaikan unek-unek. Pas maghrib, Pak Benowo mengundang malam bakda Isya. Di malam mendung itu berkumpulah Pak Benowo, aku, kau, kakakku, Kang Pur, Pak Modin, dan Pak Carik. Mendung yang terasa turun ke bumi membuat pertemuan semakin beku.

Kemudian Pak Benowo mulai berbicara tentang hal yang sudah kuduga. Dengan lembut dan berwibawa, beliau menyampaikan keputusanmu. Aku tak percaya, sekaligus tak setuju tapi bukankah kau selalu bisa melewati kesunyian hidupmu? Saat itu, keputusanmu benar-benar membuat kita bisu. Pak Benowo pun diam, mungkin agar kita benar-benar memahami keputusanmu.

Semua beku. Mendung merintik, senyap mendekap semuanya.

Aku kembali ke Surabaya. Lama tak pulang dan lama tak berkabar dengan kampung kita sampai kudengar berita Kang Pur bunuh diri dengan menembak kepalanya. Aku bingung tapi kuputuskan untuk tidak pulang. Ttak lama setelah itu aku terhenyak dan menerebos pekatnya malam untuk segera pulang mendengar kabar kangmasku yang bunuh diri minum racun arsenik.

Hidup kita, memang begitu nelangsa.

***
Rumahsastra-Solo, Mei 2006

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

memoar Keep It Simple Stupid Kiss
Presiden Hayat

laporan Bukit Serelo Kami SMAN Merapi Timur

ceritanet©listonpsiregar2000