ceritanet                              situs karya tulis,  po box 49 jkppj 10210 
edisi 150
jumat 150208

laporan Bukit Serelo Kami
SMAN Merapi Timur

1. Mimpi Bukit Serelo
Rinto Sepriadi

Pagi itu, sang surya seakan-akan turut serta dalam perjalanan kami menuju Bukit Serelo di kawasan Desa Perangai Kecamatan Perangai, Kabupaten Lahat. Kami semua, yang tengah berkemas-kemas memasuki tas-tas ke dalam mobil taksi, tampak bahagia.

Saat menelusuri jalan aspal yang berliku, nyanyian-nyanyian perjalanan meramaikan suasana kegembiraan, kebersamaan dan keterikatan hati. Mobil terus melaju membawa kami, 24 orang anggota tim teater.

Mobil berhenti di tepi hutan, pertanda pendakian akan berawal. Kami semua memanjatkan do’a untuk keselamatan di perjalanan. Sang surya yang tadinya setia menemani perjalanan, kini tak lagi bersahabat. Hawa panas yang membakar membuat keringat kami semakin mengguyur.

Jalanan aspal sudah berganti jalan becek, berliku, dan berbatu. Semakin jauh kami mendaki terasa semakin jauh pula Bukit Serelo yang akan kami tuju. Keringat membahasahi seluruh tubuh yang lelah mendaki. Keluhan dan rintihan mulai terucap dari bibir kami yang lelah.

Namun, semuanya terobati saat istirahat di atas batu besar dan sedikit terhibur jepretan foto. Bunyi cekrikan tombol kamera seperti tabuhan gendang kecil yang memompa semangat kami. Rasa haus dan lapar mulai menggerogoti, walau perjalanan masih belum sampai separoh. Bukit Serelo tampak justru semakin menjauh, seperti menantang kejaran kami yang lemah dan letih.

Masih ada lereng-lereng bukit yang harus kami telusuri, masih banyak bukit-bukit kecil yang harus kami taklukan. Kami ambil tantangan itu, meresap pepatah; "berakit-rakit kita ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakitlah dahulu, bersenang-senang kemudian."         

Satu tebing yang tersisa tak membuat perjalanan menjadi lebih mudah. Tapi tebing licin yang membuat kami terpleset tak membunuh perjalanan kami.

Di puncak Bukit Serelo, kami lepas dahaga dan lapar. Lalu kami semua mulai menikmati puncak Bukit Serelo, masing-masing dengan pengalaman kejiwaannya. Bagiku ini adalah perjalanan pertama dan mungkin yang terakhir. Bukit Serelo yang sering dipanggil Bukit Telunjuk atau Bukit Jempol.

Kupandang pemandangan di sekeliling bukit. Kulihat rumah-rumah penduduk di bawah seperti sampah-sampah yang berserakan. Sementara penghuni bumi tak terlihat sama sekali. Ternyata manusia sangat kecil di alam semessta. Tak ada aalsan untuk sombong karena masih ada alam yang lebih luas, masih ada gunung yang lebih tinggi, masih ada langit yang berlapis-lapis dan masih ada Allah SWT yang menguasai jagat raya.

Bukit Serelo mungkin hanya sebuah dongeng dalam hidupku. Sejak kedcil aku sering mendengarnya cerita-cerita orang yang pernah mendakinya. Tetapi sekarang semuanya menjadi nyata. Kulepas pandangank dan kuhirup udara. Bukit Serelo memang nyata.

Tak ada angka yang cukup besar untuk menilai keagungan ini, tak ada ucapan yang lebih indah untuk aku lukiskan, tapi kuucapkan 'Subhanallah.' Sungguh besar kekuasaan dan keagungan Tuhan.

Kupandangi tebing batu yang dihias oleh burung layang-layang yang beterbangan menyambut kedatangan kami. Atau mungkin terganggu dengan kehadiran kami. Aku memandangi dengan teliti semua sudut dari puncak Bukit Serelo, tanpa melewatkan satu rincianpun.

Bukit Serelo adalah salah satu bukit keagungan Tuhan. Ia dengan keajaiban bisa berdiri kokoh mencakar langit. Bukit Serelo dan alam yang ada di sekitarnya wajib kita jaga dan di lestarikan karena yang menanggung dampak dan akibatnya adalah kita semua.

Tidak terasa hari tengah menjelang petang. Ucapan syukur dan permohonan atas cita-cita yang belum tercapai kami panjatkan di puncak bukit. Mungkin saja dari puncak bukit yang tinggi semua do’a akan lebih mudah didengar oleh Allah SWT.

Perjalanan menuruni lembah demi lembah di Bukit Serelo kembali aku nikmati. Pohon-pohon besar yang mungkin sudah berumur puluhan bahkan ratusan tahun masih berdiri kokoh di hutan yang masih asli. Rasa panas hilang oleh kesejukan air mancur belahan bambu.

Ini adalah perjalanan yang tak mungkin terlupakan dalam hidupku. Ada lelah, letih, keluhan, tawa, canda, bahagia serta kebersamaan. Tak kan terlupakan.
             
2. Ke Puncak Bukit
Poniman

Akhir Januari 2008, kelompok teater siswa SMA Negeri 1 Merapi Timur mengadakan perjalanan ke puncak Bukit Serelo. Kami semua ada 24, dengan seorang guru pembina.

Dari sekolah, kami menggunakan taksi ke tepi hutan sekitar 30 menit. Dari tepi hutan itu kami pun harus berjalan lagi sekitar lima kilometer. Sepanjang perjalanan banyak perasaan yang bercampur baur; suka, duka, canda, dan tawa. Juga berbagai lahan kami lewati. Ada kebun karet, kebun kopi, kebun sawit, sawah tadah hujan, kebun jagung, kebun durian, kebun rambutan, dan hutan. Sungai yang mengalir jernih,dengan suara gemericik, maupun kicau burung-burung, atau sekawanan monyet yang bergelantungan juga suara serangga hutan saling bersahutan.

Kami berjalan pada kemiringgan 45° hingga 70° untuk mencapai puncak, diantara bebatuan terjal dan tanah licin. Menjelang tengah hari. kami pun tiba di puncak Bukti Serelo. Di puncak itu kami lampiaskan kegembiraan karena tujuan telah tercapai. Badan yang tadinya pegal-pegal hilang sudah. Di sana pula dapat melihat keindahan alam yang begitu indah.

Bukit-bukit menjulang tinggi seperti ombak di lautan. Di puncak bukit kami belajar berkonsentrasi, namun konsentrasiku hilang karena salah satu teman perempuan ingin buang air besar tapi di puncak bukit tidak ada air. Akhirnya dia buang air besar di sekitar bukit di antara bebatuan.

Insiden teman perempuan itu tak merusak kegembiraan di puncak bukit.

Kami bernyanyi sambil meninikmati pemandangan, menulis puisi dan menulis cerita perjalanan. Enggan rasanya untuk turun dari Bukit Serelo. Cuaca di atas bukit memang panas tetapi angin sejuk berhembus seperti membawa siraman es.

Tapi tak ada yang bisa menahan saat pulang. Kegembiraan selama di puncak membuat kami berjalan turun dengan berseri-seri.
***

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

cerpen Jejak Duka
Han Gagas

memoar Keep It Simple Stupid Kiss
Presiden Hayat

ceritanet©listonpsiregar2000