ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 14, Rabu 13 Juni 2001

 

novel Dokter Zhivago 14
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960, dengan penulisan ejaan baru

Pasha Antipov yang ayahnya ditangkap sebagai salah seorang pemimpin pemogokan, mulai tinggal di rumah keluarga Tiverzin. Ia anak yang bersih, rapi ; raut-mukanya patut dan rambutnya merah terpisah di tengah-tengah ; ia selalu melicinkan rambut ini dengan sikat serta menyingsatkan kemeja atau gesper sekolahnya di ikat pinggang. Ia suka sekali berkelakar dan bakatnya meneliti sesuatu adalah luar biasa; tiap orang serta dirinya sendiri dibuatnya ketawa, karena pandainya meniru-niru segala hal yag didengar atau dilihatnya.

Segera sesudah Manifes diumumkan pada tanggal 17 Oktober, diadakan demonstrasi besar, mulai dari Gapura Tver dan dimaksudkan bergerak ke Gapura Galuga di ujung lain kota Moskow. Tapi benar-beanr dapat dikatakan bahwa terlalu banyak campur tangan menyebabkan kerincuan! Berbagai badan revolusioner merencanakan bersama, tapi bertengkar, lalu bersikap masa bodoh; kemudian pada hari yang ditentukan, ketika mereka dengar bahwa rakyat keluar juga, mereka buru-buru mengirim wakil-wakil untuk memimpin.

Walaupun Tiverzin membujuk ibunya supaya jangan ikut, namun ia menggabungkan diri pada para demonstran dan Pasha yang gembira dan ramah seperti biasanya itupun ikut serta.
Waktu itu hari kering dengan salju beku dalam Bulan November; langit sepi kelabu dan butir-butir salju jatuh sedikit satu demi satu, berpusing pelan-pelan dan ragu-ragu, sebelum hinggap di jalanan laksana debu abu-abu yang halus.

Rakyat tercurah kelebuh seperti banjir --wajah, wajah, wajah-- jas panas bertilam dan topi kulit domba, mahasiswa seragam, buruh dari depo trem dan kantor telepon dengan sepatu binkap dan jaket kulit, gadis dan anak sekolah.

Beberapa jurus mereka menyanyi lagu-lagu "Maseillaise," "Warsawa" dan "Korban-korban jatuh." Orang yang selama itu berjalan mundur di pucuk pawai sambil menyanyi dan memimpin dengan picinya yang dipergunakan sebagai bilah, kemudian berpaling, menaruh picinya di kepala dan mendengarkan apa yang dikatakan para pemimpin lainnya di sekelilingnya. Nyanyian putus dengan kacau. Sekarang terdengar derap-derap kaki tak tebilang di atas jalan beku.

Pemimpin-pemimpin menerima kabar dari para simpatisan bahwa kaum Kosak* sedang menyediakan perangkap untuk pawai itu lebih jauh di jalanan. Kabar itu dikirim dengan telepon kepada seorang apoteker, dekat dari situ.

"Tak mengapa," kata para pemimpin. "Kita harsu tetap tenang dan tidak hilang akal, itu yang terpenting. Kita duduki saja gedung umum pertama yang kita jumpai, kasih tahu pada rakyat, lalu berpencaran."

Mulailah perdebatan tentang gedung mana sebaiknya akan akan didatangi. Ada yang mengusulkan gedung Himpunan Pekerja Toko, lainnya menyebut sekolah tehnik, lainnya lagi Sekolah Korespondensi Dagang.

Selagi berbantah-bantahan itu tibalah mereka ke pojok gedung sekolah yang tinggi dan tiap bagiannya merupakan perlindungan sama baiknya dengan yang disebut-sebut tadi.

Tatkala mereka sampai ke pintu, para pemimpin membelok ke samping, naik tangga ke serambi-depan yang separuh lingkaran itu, lalu memberi isyarat pada barisan terdepan supaya berhenti, tapi orang salah mengerti gerak-gerik mereka. Pintu yang berlipat ganda itu dibuka dan rakyatpun --dengan jas dan pici yang sentuh menyentuh --bergerak ke bangsal depan, lantas naik tangga.
"Kamar-kuliah, kamar kuliah," seru beberapa suara dari belakang, tapi lain-lainnya terus mendesak ke depan, menyebarkan diri lewat gang-gang serta menyasar ke kelas-kelas. Para pemimpin akhirnya berhasil menggiring mereka ke ruang kuliah, lalu berkali-kali mencoba mengingatkan mereka pada perangkap, tapi tak seorangpun mendengar. Bahwa pawai tadi dihentikan dan dimasukkan dalam gedung itu diartikan sebagai undangan untuk buruh-buruh mengadakan rapat dan memanglah rapat ini segera dimulai.

Sehabis berjalan dan menyanyi-nyanyi itu, senanglah orang, duduk sebentar serta membiarkan orang lain bersusah payah untuk mereka dengan berseru-seru sampai serak. Para pembicara yang sepaham mengenai banyak hal, nampak mengatakan soal-soal yang sama ; kalaupun ada perbedaan antara mereka perbedaan itu dilupakan oleh giliran duduk mengaso. Kesudahannya tukang pidato yang paling buruk antara orang banyak itu mendapat sambutan paling bergairah. Orang tak berusaha mengikuti pembicarannya, hanya memekik setuju dengan tiap kata dan tak ada yang mengacuhkan segala interupsi ; tapi mereka menerima apa saja yang diucapkannya itu, karena tak sabar saja. Ada yang berteriak : "Bikin malu!" lantas disusunlah telegram protes; kemudian khalayak yang bosan dengan suara mendengung itu bangkit serempak, lupa segala hal tentangannya, lalu meluap keluar bagai sebentuk perwujudan yang tunggal --dengan jas dan pici yang sentuh menyentuh-- turun tangga, terus ke lebuh. Pawaipun berlangusng.

Selama orang berapat di dalam, salju telah turun. Lebuh memutih. Salju makin tebal.

Ketika kavaleri menyerang, para pesserta di belakang mula-mula tak mengetahui apa-apa. Gemuruh yang mengeras terlampias ke arah mereka seperti seruan khalayak ramai : "Hore!" sedangkan jeritan seeorang seperti "Tolong!" dan "Pembunuhan" tenggelam dalam keriuhan. Hampir seketika dan seolah terdukung oleh gelombang suara di sepanjang gang sempit yang tergubah karena khalayak terbelah, muncullah kepala kuda-kuda serta pada penunggang; surai dan pedang terayun melayang kencang tak berbuni di atas khalayak.

Separuh peleton lari menyeruduk, balik dan tersusun kembali, lalu memecah belah ekor pawai. Pembunuhan dimulai.

Beberapa menit kemudian lebuh boleh dikatakan kosong. Orang perpencaran ke jalan-jalan cabang. Salju lebih enteng. Senja kering dan seperti sketsa arang. Matahari yang nyaris terbenam di belakang rumah-rumah, menjulurkan jarinya di balik tikungan dan menyentuh apa saja yang merah di jalanan --ujung merah pici tentara, bendera merah yang teseret di tanah serta banyak celekeh merah dan garis darah di salju.


Seorang lelaki yang mengerang dengan kepala terbelah merangkak-rangkak menuruti tepi trotoar. Beberapa prajurit yang memburu sampai ke ujung jalan yang terjauh, kini balik berjejer pelan-pelan. Tiverzina dengan kain leher tersembat ke kuduknya, lari kian kemari, nyaris ketabrak kaki kuda, sambil berseru liar : "Pasha! Pasha!"

Sepanjang perjalanan tadi Pasha ikut dengannya dan membuatnya ketawa dengan meniru-niru pembicara terakhir di dalam rapat, tapi tiba-tiba ia menghilang di tengah kekacauan, waktu tentara menyerang.

Punggungnya ditempa lecutan cambuk** mereka; walaupun ia hampir tak merasanya, berkat mantelnya yang tebal dilapisi kapas, namun ia memaki-maki dan mengepalkan tangannya terhadap para penunggang kuda yang mundur itu, marah sebab mereka berani memukul perempuan setua itu, lagipula di depan umum.

Dengan gelisah ia mencari ke sana ke sini dan akhirnya beruntunglah ia menemukan anak itu di seberang jalan. Ia berdiri dalam relung antara sebuah toko dan serambi rumah batu; di situlah tadi sekelompok orang yang kebetulan lewat dijepit oleh seorang tentara yang naik ke trotoar. Prajurit yang senang melihat ketakuan mereka, membuat pameran haute-ecole; ia undurkan kudanya kepada orang banyak itu, lalu menyuruhnya menari dan mencakar-cakar udara dengan pelan-pelan, seperti dalam acara sirkus. Tiba-tiba dilihatnya kawan-kawannya pulang; iapun berpaling cepat dan dengan beberapa loncatan tibalah ia dalam barisan.

Khalayak memencar dan Pasha yang saking takutnya tak dapat menerbitkan suara, lari ke perempuan tua itu.

Tiverzina menggerutu sepanjang jalan ke rumahnya. "Pembunuh-pembunuh keji! Rakyat bahagia sebab Tsar memberinya kemerdekaan, tapi kaum pembantai yang terkutuk ini tak rela. Yang mereka inginkan ialah merusak segala-galanya, memutar balik tiap kata."


Ia geram sekali pada tentara berkuda itu, marah pada seluruh dunia dan saat itu juga pada anaknya sendiri. Kalau selaranya lagi datang, baginya semua kesulitan belakangan ini akibat kesalahan "anak buah Kuprinka yang tolol dan tak becus itu" menurut istilahnya.


"Orang-orang setengah sinting ini mau apa? Mereka tak kenal diri sendiri, asal bikin celaka saja, racun dunia! Macam tukang pidato itu. --O, Pasha kasi lihat lagi bagaimana caranya, kasi lihat sayang-- O, lucu! Kena betul.


Di rumah ia marahi anaknya. Belum cukup tuakah ia untuk dicambuk di punggung oleh si konyol berambut keriting di atas kuda.

"Ibu sangka saya ini siapa? Ibu pikir aku Kapten Kosak atau kepala polisi?"
***

*. Pasukan-pasukan yang tersangkut dalam gerakan ini adalah pasukan-pasukan kavaleri, bukan Kosak, tapi orang-orang tak berpendidikan menamakan semua pasukan berkuda itu Kosak.
**. Dalam buku otobiografinya "Pemimpin Yang Aman," pengarang melukiskan insiden dalam tahun 1905, ketika ia ikut berdemonstrasi di jalanan dan kena cambuk.


ceritanet
©listonpsiregar2000