ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 14, Rabu 13 Juni 2001
___________________________________________________

laporan Tentang Orang Biasa
Liston Siregar

Dua jam lima puluh tiga menit ; tanpa jagoan, tanpa tembakan atau dentingan pedang, juga tanpa adegan cinta. Itulah Yi Yi-nya Edward Yang. Dan Nigel Andrews, penulis budaya di Harian Financial Times memutuskan Yi Yi sebagai film terbaik tahun 2001, walaupun waktu menulisnya baru tanggal 5 April 2001. ''Jangan pedulikan 270 hari yang tersisa, mungkin film terbaik dekade ini dan jangan pedulikan sisa delapan tahun tiga kuartal." Harian The Guardian memuji dengan sopan santun Inggris ; "dalam tahun ini tidak akan banyak yang lebih baik dari film ini." Di Los Angeles, LA Weekly melaporkan orang-orang bertepuk tangan gemuruh di akhir cerita. Sebuah karya besar yang tidak hingar bingar tentang perasaan manusia. ''Mahamulia,'' tulis New York Times.

Yi Yi adalah film kedelapan Edward Yang, tapi disebut-sebut sebagai yang pertama menembus pengakuan internasional. Bisa jadi ada bau orientalis yang makin menyebar di Eropa dan Amerika dengan Crouching Tiger Hidden Dragon buatan Ang Lee, yang jauh sebelumnya memang sudah punya tiket internasional. Tapi Crouching Tiger, mungkin, tentang pendekar wanita di masyarakat Asia yang diskriminatif terhadap perempuan, dan ramuan itu relatif lebih gampang diterima oleh panggung internasional. Sedangkan Yi Yi seperti tak punya ramuan khusus selain bercerita tentang kehidupan sebuah keluarga kelas menengah di Taipei. Dibuka dengan perkawinan, ditutup dengan penguburan, dan diselingi kelahiran. Semua orang menjalaninya.

Atau jadikanlah Crouching Tiger seperti Bill Clinton atau Tony Blair yang ganteng, tersenyum, heroik, berkuasa, dan menjadi berita di halaman depan surat kabar, tapi mereka sebenarnya hanyalah memodifikasi sesuatu yang sudah mapan tercipta ratusan tahun. Yi Yi hanyalah orang kebanyakan di salah satu sudut kota dimanapun. Cuma orang kebanyakan itu ternyata bisa memberi kesempatan pada orang lain untuk mengambil jarak sebentar --dua jam lima puluh tiga menit-- dan melihat kehidupan sehari-harinya. Atau Yi Yi, orang kebanyakan itu, cuma hidup yang membosankan. Sayangnya, begitulah salah satu atau beberapa bab kehidupan, yang nyata.

Perancislah yang pertama kali membukakan pintu bagi Yi Yi, lewat Festival Film Cannes 2000. Sejak itu banyak orang yang menanti-nanti, dan sebagian besar yang kemudian menyaksikannya sepakat Yi Yi memang sebuah karya besar tentang kemanusiaan. Kata-kata yang digunakan sebagian besar orang itu saja yang berbeda, dan bukan tidak mungkin kata-kata justru meredusir Yi Yi.


Banyak Orang
NJ Jian seorang manajer di sebuah perusahaan teknologi informasi di Taipei. Istrinya, Min Min, bekerja. Anaknya dua ; putri remaja Ting Ting, dan putra delapan tahun Yang Yang. Ibu Min Min tinggal bersama mereka, di salah satu apartemen bertingkat di Taipei. Film dibuka dengan gambar ibu tua yang apik dan putri remaja dengan latar berlakang lapangan hijau tempat foto keluarga seusai upacara perkawinan. Beberapa detik sepi tanpa suara --yang bisa ditafsirkan sebagai pengantar untuk penonton bahwa Yi Yi tidak akan membawa pesan atau slogan apapun.

Malamnya ada resepsi perkawinan A-Di, adik Min Min. Tapi NJ dan Ting Ting harus pulang membereskan rumah, dan Ting Ting lupa membuang kantung sampah karena celingak-celinguk melihat teman tetangganya sedang pacaran. Di ruang resepsi, bekas pacar A-Di muncul dan sempat bikin heboh. Nenek tak suka dan minta diantar pulang. Selagi pesta berjalan di sebuah hotel, Nenek, di rumah, sepertinya berusaha membuang kantung sampah dan jatuh tidak sadar. Saran dokter cobalah berbicara sebanyak mungkin di hadapannya, kali-kali bisa membantu pulihnya kesadaran. Jadi, NJ, Min Min, Ting Ting --yang merasa berdosa karena lupa membuang kantung sampah-- dan A-Di --yang baru kawin dan menghutang sama NJ untuk pesta resepsi-- bergiliran duduk di kursi di hadapan dipan Nenek dan bercerita apa saja. Hanya Yang Yang yang tidak mau, walau dipaksa Ibunya.

Min Min kemudian depresi dan ikut terapi Budha, jauh dari kehidupan kota dan keluarga. NJ bertemu dengan bekas pacarnya jaman mahasiswa, Sherry, yang menikah dan tinggal di Amerika. Dulu Sherry ditinggal karena Sherry menekan dia supaya jadi insinyur, padahal dia maunya jadi musisi, dan tragisnya NJ justru tetap jadi insinyur. Ting Ting sempat pacaran dengan pacar tetangganya, sedang Yang Yang keranjingan memotret orang dari belakang. ''Karena kau tidak bisa melihat bagian belakang dirimu, jadi aku membantumu,'' ketika memberi foto bagian belakang kepala Paman A-Di.

Akhirnya Min Min kembali dari terapi. Menurutnya di rumah dan di kuil sama saja, sama-sama ngomong terus ; "Bedanya di rumah aku bicara dan ibu tidak mendengar, di sana mereka bicara tapi aku tidak mendengar.'' NJ sendiri sudah lebih dulu memutuskan kembali pulang ke keluarga di Taipei walau ketika bersama-sama di Jepang, Sherry mengajak untuk kembali memulai hidup baru. NJ tak berani mengambil kesempatan untuk mengulang dan memulai hidup baru, kalaupun kesempatan itu ada di depan mata. NJ hanyalah orang biasa yang hidupnya tak kurang apapun, selain kebetulan sedang ada masalah yang melintas.

Lantas Ting Ting bermimpi Nenek sadar, mengelus sayang kepalanya, tapi ia bangun dan Nenek meninggal. Adapun Yang Yang akhirnya membaca ceritanya di upacara penguburan Nenek. "Dulu bukan aku tidak mau cerita Nek, tapi aku tidak punya cerita.''

Hari-hari
Tak ada tokoh sentral di Yi Yi. Kamera dan naskah berputar ke semua orang. Kadang film berpusat pada NJ, lantas pindah ke Ting Ting yang berkencan naik sepeda dengan pacar teman tetangganya, bergerak ke Yang Yang waktu dihukum di sekolahnya dan terpukau melihat bayang-bayang dari kakak kelas wanitanya di layar film meteorologi sekolah. Juga menyorot A-Di yang belum juga membayar hutang ke kakak iparnya tapi punya rumah bagus, atau menyeberang ke Jepang untuk melongok Ota, calon rekan bisnis perusahaan tempat NJ bekerja dan jadi sahabat NJ.

Masuk pula tetangga NJ yang dikisahkan pacaran dengan guru Bahasa Inggris anaknya, dan belakangan guru itu, katanya, pacaran dengan muridnya sendiri dan membuat pacar muridnya menikam mati guru itu. Begitulah kata polisi dan berita TV. Tak ada keharusan kalau di Abad 21 semua orang harus tahu apa yang sebenarnya terjadi pada tetangga di sebelah rumah.

Jadi tak ada yang utama, selayaknya hidup orang biasa sehari-hari, dan juga tidak ada masalah yang lebih serius dari masalah lainnya. Masing-masing orang di Yi Yi --yang artinya satu-satu atau sendiri-sendiri, walau Edward Yang memilih terjemahan Inggris A One and A Two-- punya masalah masing-masing dan kemudian mengatasinya, atau teratasi begitu saja, secara masing-masing pula. Ketika sudah keluar dari masalah masing-masing, semua orang tak bepretensi telah melakukan pekerjaan besar. NJ duduk bersama Ting Ting di belakang, mendengarkan cerita Yang Yang kepada jenasah Nenek, sedang Min Min berdiri terharu menyaksikan anaknya ternyata punya cerita untuk neneknya. Hilang sudah Sherry, pendeta Budha, pacar tetangga, atau guru galak di belakang sana. Satu bab hidup lewat.

Yi Yi sepenuhnya berangkat dari keseharian sampai menyamarkan apakah para aktor sedang memainkan peran tertentu atau cuma menjadi dirinya sendiri. Ting Ting atau Kelly Lee, dan Yang Yang atau Jonathan Chang, baru pertama kali main film dan mungkin justru karena itulah sempurna memainkan peran anak kelas menengah. Kelly Lee bersekolah di Taipei American School dan sebelumnya cuma muncul di iklan bisnis bapaknya, sedangkan Jonathan Chang lahir di Amerika, dan pernah bersekolah di Amerika sebelum pindah ke Taipei. Tidak sulit rasanya bagi mereka berdua untuk menutup lobang-lobang skenario --seandainya memang ada-- tentang kehidupan sehari-hari kaum kelas menengah Taiwan. Yang sulit adalah menemukan mereka berdua, dan hanya Edward Yang yang bisa melakukannya, khusus untuk Yi Yi.


Begitu juga NJ alias Wu Nienjen. "Ketika aku mulai menulis naskah tahun 1998, Wu Nienjen lah satu-satunya pilihan di benakku untuk memerankan NJ. Kalau tidak ada dia, aku tidak akan mulai menulis naskah," kata Edward Yang. Wu Nienjen adalah seorang penulis naskah yang memulai dari penulisan cerita pendek di surat kabar dan punya beberapa karya novel. Sebelumnya dia sudah pernah bekerja sama dengan Edward Yang, namun baru untuk Yi Yi dia berperan sebagai aktor layar lebar. Ketika pendeta Budha dan sekretarisnya pura-pura datang melapor keadaan Min Min di kuil, NJ bertanya dengan amat biasa. "Bisa pakai cek?" Dia tulis cek di meja kerjanya, dan dia serahkan kepada pendeta Budha, sama seperti menyerahkan uang saat membeli tiket kereta api. Tidak ada niat NJ atau Edward Yang untuk menjadi sinis, karena di dunia ini religiusitas sudah lama dikaburkan oleh kelembagaan agama. Nyata, bukan normatif.

Orang-orang pasti sering bertemu NJ di kereta api, di bis, di jalanan waktu makan siang, di pesta pernikahan teman, atau ketika berbelanja. Namanya bisa Smith, Bambang, Halomoan, Ming, Heribert, Francis, Goran, Tyarno. Atau sekedar bercermin? Orang-orang yang yakin kalau hidup sehar-hari bukan bahan disikusi, tapi dijalani seadanya.

Mungkin hanya Min Min --Elaine Jin-- yang tergolong artis kawakan di Hong Kong dan Taiwan, dan entah sengaja atau tidak tapi Min Min dilemparkan cukup lama ke kuil Budha, entah dimana. Sedang Ke Suyun alias Sherry adalah artis Taiwan yang tinggal di Kanada, dan dipanggil pulang untuk Yi Yi. Paslah sudah jika masing-masing pemain berakting dengan membawa kesadaran kelas dan pengalaman sendiri. "Penulisan tidak berhenti pada naskah; itulah dasarnya. Tetap saja ada ruang bagi aktor untuk mengakomodasi kekuatan mereka dan menghindari kelemahan mereka," kata Edward Yang.

Melihat Kemanusiaan
Kisah Yi Yi lahir dari saudara teman Edward Yang yang sedang sekarat, sekitar lima belas tahun lalu. Tapi waktu itu Edward Yang, pada usia 30-an, merasa masih terlalu muda untuk membuat film. Cerita dasarnya terus dia pelihara di benaknya, sambil membiarkan mosaik-mosaik detail masuk satu persatu, sampai ia kemudian merasa detail sudah lengkap dan diapun sudah cukup matang untuk berurusan dengan karakter NJ. Lantas strukturnya, pengakuan Edward Yang dalam sebuah wawancara di Hong Kong April tahun lalu, adalah yang memungkinkan masalah rumit dihadirkan dengan bersahaja.

Taruhlah seandainya pendekatan lain digunakan untuk Yi Yi, mungkin jadinya adalah seorang suami yang berhasil mengunci kontrak bisnis di kantor, mencegah istrinya mengikuti terapi ke kuil Budha dan berhasil membangkitkan kembali semangat istrinya, menjadi rekan curahan hati putrinya saat diputus pacarnya, mengajari putranya memotret dari depan dengan pencahayaan yang cukup dan fokus yang tajam sampai putranya meraih juara satu lomba foto di sekolah, dan mungkin bercinta sebentar dengan bekas pacarnya sebelum pulang ke Taipei. Film ditutup saat ia bercerita sepenuh hati --lengkap dengan satu tetes air mata-- di depan mertuanya dan, sim salabim ; sang mertua sadar kembali. Semua keluarga berpelukan penuh sukacita. The End.

Bisa saja seluruh tema dan pertanyaan Yi Yi diwujudkan lewat kehidupan satu orang, mulai dari lahir sampai mati. "Tapi aku putuskan akan lebih efisien untuk menggunakan keluarga, dan dalam keluarga itu semua usia terwakili" kata Edward Yang. Yi Yi memang sudah berada dalam kandungan selama hampir lima belas tahun. Begitu lahir tidak perlu mencari-cari bentuk lagi. Jadinya tak hanya efisien, juga bersahaja, jujur. Yi Yi adalah cermin banyak orang.

Terlepas Yi Yi baik atau buruk, menarik atau membosankan --karena bisa diperdebatkan tanpa ujung-- tak banyak film seperti Yi Yi. Sebuah film yang tidak berniat membawa pesan atau slogan, selain mencoba membantu penonton menjaga jarak sebentar dengan kehidupan sehari-hari supaya sekedar bisa melihat seperti apa kehidupan sehari-hari itu. Sama seperti foto bagian belakang bikinan Yang Yang ; "sekarang kamu bisa melihat bagian belakangmu." Hanya untuk melihat, karena selebihnya tentu sudah urusan masing-masing. Ada yang mungkin malu melihat pitak di belakang kepala dan segera membeli topi, ada yang kemudian mencoba mengenang kenapa sampai ada pitak di belakang kepala, yang lain tidak peduli karena, menurutnya, siapa pula yang peduli dengan kepala belakang. Yi Yi, sendiri-sendiri.

Jika Yi Yi berkunjung ke kota anda, sempatkanlah melihatnya. Melihat kemanusiaan, melihat kehidupan, dan cuma dua jam lima puluh tiga menit.
***

 

ceritanet©listonpsiregar2000