ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 14, Rabu 13 Juni 2001
__________________________________________________
sajak Zeedijk
Sitok Srengenge
Semacam peringatan: sepotong tangan meremas payudara,
     mungkin milik para pendosa, tercampak di luar gereja
              Di zeedijk, bendungan laut,                                                   
segala yang molek bagai bertaut maut

    Kota yang cantik,
pelacur yang cerdik,
     membuka diri
tapi menutup hati
                        
Di jantungnya sebuah danau beku,
di palungnya ingin kujangkau kau, tenung masa lalu

Aku memanggilmu dengan sajak-sajak cinta,
tapi salju tak membiarkannya menjadi gema

Cuaca berkesiur dengan selaksa sangkur
dan angin mengendap-endap di pokok-pokok pohon poplar
  Mengintai para imigran yang nganggur
               dan menyergapnya dengan tikaman-tikaman lapar
 
Orang ramai dalam pawai, menyambut Sinterklas,
nama dan lambang cinta, kado berpita merah hati
Tapi di tepi sungai, di mana tertancap tanda batas,
 seorang perempuan Afro memunguti remah roti

Aku menyapamu dengan sajak-sajak duka,
    tapi kata-kataku menggumpal di udara

selengkapnya
 

 

laporan Tentang Orang Biasa
Liston Siregar
Dua jam lima puluh tiga menit ; tanpa jagoan, tanpa tembakan atau dentingan pedang, juga tanpa adegan cinta. Itulah Yi Yi-nya Edward Yang. Dan Nigel Andrews, penulis budaya di Harian Financial Times memutuskan Yi Yi sebagai film terbaik tahun 2001, walaupun waktu menulisnya baru tanggal 5 April 2001. ''Jangan pedulikan 270 hari yang tersisa, mungkin film terbaik dekade ini dan jangan pedulikan sisa delapan tahun tiga kuartal." Harian The Guardian memuji dengan sopan santun Inggris ; "dalam tahun ini tidak akan banyak yang lebih baik dari film ini." Di Los Angeles, LA Weekly melaporkan orang-orang bertepuk tangan gemuruh di akhir cerita. Sebuah karya besar yang tidak hingar bingar tentang perasaan manusia. ''Mahamulia,'' tulis New York Times.
selengkapnya
cerpen Sendiri
Farah Rachmat
Senja itu hujan rintik-rintik membasahi kotaku yang
selalu semrawut. Aku masih berada dalam taksi.
Rasanya aku tidak sabar melihat lalu lintas padat
menghambat laju taksiku. Sesekali aku melihat
jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku.
Oh Tuhan, berilah kesabaran Brahim menunggu.
Kumohon. Andai saja aku tidak terlambat membeli
voucher isi ulang telepon selular, aku bisa mengabari
keterlambatanku. Akhirnya aku sampai juga di
Galery & Café Minami. Yap, terlambat 15 menit!
Segera kubayar taksi. Kulihat dari jauh, raut wajah putih,
dengan lesung pipit dan mata bundar tak sabar menunggu.
Kupercepat langkahku menuju pintu. Ia pasti tidak melihat
aku datang, karena ia masih termangu menatap
hujan di luar sana. Ah, Brahim.
Selengkapnya

laporan Sketsa Anak Jalanan Dili
Julito da Assuncao
Siang itu udara panas menyengat. Alberto seperti tak kenal lelah menawarkan koran dagangannya ke semua orang yang melintas di Kantor pemerintahan sementara PBB, Untaet. Dari satu koran yang terjual, anak kelas lima sekolah dasar itu mendapat keuntungan seribu rupiah. "Saya diajak kawan-kawan yang sudah duluan di sini," katanya, "awalnya orangtua saya marah, tetapi sekarang tidak lagi." Soalnya, biarpun jualan koran, Alberto tetap berangkat sekolah, setiap jam dua belas siang. Alberto tinggal di Becora, Dili. Ayahnya punya kios. Uang perolehannya ia gunakan untuk dia sendiri, tapi kadang ia bagi sedikit ke ayah dan ibunya ; "untuk membeli beras."
selengkapnya

 

novel Dokter Zhivago 14
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960, dengan penulisan ejaan baru
Pasha Antipov yang ayahnya ditangkap sebagai salah seorang pemimpin pemogokan, mulai tinggal di rumah keluarga Tiverzin. Ia anak yang bersih, rapi ; raut-mukanya patut dan rambutnya merah terpisah di tengah-tengah ; ia selalu melicinkan rambut ini dengan sikat serta menyingsatkan kemeja atau gesper sekolahnya di ikat pinggang. Ia suka sekali berkelakar dan bakatnya meneliti sesuatu adalah luar biasa; tiap orang serta dirinya sendiri dibuatnya ketawa, karena pandainya meniru-niru segala hal yag didengar atau dilihatnya.Segera sesudah Manifes diumumkan pada tanggal 17 Oktober, diadakan demonstrasi besar, mulai dari Gapura Tver dan dimaksudkan bergerak ke Gapura Galuga di ujung lain kota Moskow. Tapi benar-beanr dapat dikatakan bahwa terlalu banyak campur tangan menyebabkan kerincuan! Berbagai badan revolusioner merencanakan bersama, tapi bertengkar, lalu bersikap masa bodoh; kemudian pada hari yang ditentukan, ketika mereka dengar bahwa rakyat keluar juga, mereka buru-buru mengirim wakil-wakil untuk memimpin.
selengkapnya

penulis edisi 14
ceritanet©listonpsiregar2000