ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 14, Rabu 13 Juni 2001
___________________________________________________


sajak Zeedijk
Sitok Srengenge

Semacam peringatan: sepotong tangan meremas payudara,
     mungkin milik para pendosa, tercampak di luar gereja
              Di zeedijk, bendungan laut,
segala yang molek bagai bertaut maut

    Kota yang cantik,
pelacur yang cerdik,
     membuka diri
tapi menutup hati
                        Di jantungnya sebuah danau beku,
di palungnya ingin kujangkau kau, tenung masa lalu

Aku memanggilmu dengan sajak-sajak cinta,
tapi salju tak membiarkannya menjadi gema

Cuaca berkesiur dengan selaksa sangkur
dan angin mengendap-endap di pokok-pokok pohon poplar
  Mengintai para imigran yang nganggur
               dan menyergapnya dengan tikaman-tikaman lapar

 Orang ramai dalam pawai, menyambut Sinterklas,
nama dan lambang cinta, kado berpita merah hati
Tapi di tepi sungai, di mana tertancap tanda batas,
 seorang perempuan Afro memunguti remah roti

Aku menyapamu dengan sajak-sajak duka,
    tapi kata-kataku menggumpal di udara

1996


Frankrijk
  
                                          Seperti kelelawar,
pengelana malam yang kaukenal lewat gambar,
                   atau pangeran hantu
dari ruang gelap istana Nosferatu
                         yang merenggut perawan
ke dalam kabut dan lolong anjing siluman,
        aku temu rawa gambut
dalam kesepianmu yang akut
 Kulihat gairah ngendon dalam urat darah di lehermu
ibarat buah pohon yang tumbuh lebih dulu dari waktu
 Maka kubur niatan
mencatur keabadian,
sebentar lagi lonceng berdentang
 dari puncak menara Anne Frank,
erang sirine mengiris malam hari:
 seseorang habis membunuh diri

                  Anjing bersetubuh dengan hawa dingin,
kau dan aku saling luruh seluruh ruh ke dalam ingin
 Hingga seseorang
berambut panjang,
yang pernah bertandang ke mimpimu,
                       membuka jendela itu
Api di pediangan telah padam, arang remuk
                                        menjadi serbuk,
kau dan aku
kembali abu
Diterjang angin musim dingin aku terlontar ke samudera
                               menjelma pulau-pulau khatulistiwa,
kau tertinggal di tempatmu, ditimbuni salju
                       menggumpal jadi masa lalu
Kelak jika salju mencair dan terjadi gerak pada kincir,
                                                      kau terbawa air,
           sekali waktu
akan sampai padaku
Barangkali sempat berdekapan, lalu berlepasan
                                   entah sampai kapan
Barangkali seperti mimpi
                Seperti mimpi

1996

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ceritanet
©listonpsiregar2000