ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 14, Rabu 13 Juni 2001
___________________________________________________

cerpen Sendiri
Farah Rachmat

Senja itu hujan rintik-rintik membasahi kotaku yang selalu semrawut. Aku masih berada dalam taksi. Rasanya aku tidak sabar melihat lalu lintas padat menghambat laju taksiku. Sesekali aku melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku. Oh Tuhan, berilah kesabaran Brahim menunggu. Kumohon. Andai saja aku tidak terlambat membeli voucher isi ulang telepon selular, aku bisa mengabari keterlambatanku.

Akhirnya aku sampai juga di Galery & Café Minami. Yap, terlambat 15 menit! Segera kubayar taksi. Kulihat dari jauh, raut wajah putih, dengan lesung pipit dan mata bundar tak sabar menunggu. Kupercepat langkahku menuju pintu. Ia pasti tidak melihat aku datang, karena ia masih termangu menatap hujan di luar sana. Ah, Brahim.

"Sorry, terlambat… macet sekali," kuhempaskan diriku di kursi empuk di depannya. Ia tersentak.
"Well, memang macet dan hari memang tidak mendukung untuk kita segera bertemu, tapi kan kita sudah bertemu, Ya…" ujarnya sambil tersenyum. Aku terbengong-bengong mendapat jawaban manis ini. Alhamdulillah. Aku tersenyum.
"Kau mau pesan apa? Seperti biasa?"
Aku mengangguk. Aku tidak mengerti apa yang membuat ia lebih sabar hari ini. Biasanya ia langsung pergi bila aku datang terlambat dan tidak memberi tahu. Hari ini…
"Ya, kamu pesan Cappucino, seperti biasa, kan?"
"Ya, Bra, terima kasih. Maaf, aku jadi melamun."
"Cape, Ya?" ia menatapku.
Aku mengangguk. "Kamu gimana, sibuk sekali hari ini?"
Kemudian kami larut dalam pembicaraan hangat tentang kegiatan kami sehari itu.

Petang menjelang dan kami membayar pesanan kami, pulang. Brahim masih mengajak berbincang dalam perjalanan pulang dan aku…aku menatapnya dari samping. Aku selalu tidak pernah mengira bahwa kami bisa berjalan bersama, mengisi hari-hari berdua sepanjang 2 tahun terakhir ini. Sesekali aku masih perlu mengatakan pada diriku bahwa ini nyata. Bukan angan-angan lagi! Aku masih saja mengagumi wajah baby face-nya yang selalu penuh senyum. Aku jadi teringat perkenalan kami di Galery HinHan. Aku sungguh tidak berkedip melihatnya di sana. Kami berjumpa dan bersapaan beberapa kali di beberapa pameran yang aku kunjungi. Namun kali ini, aku sungguh-sungguh tiba-tiba tersentak getaran yang amat dahsyat. Apalagi ia masih mengenal namaku kala aku menyapanya. Alangkah.
***

Aku terbangun oleh dering telepon. "Vaya, hallo?"
"Vaya, ini Brahim. Baru bangun?"
Aku tertawa ringan, " Begitulah, sorry, aku telat tidurnya tadi malam, ada beberapa artikel yang harus kusunting segera. Ada apa, Brahim?"
"Aku ingin ke Sawangan, mau ketemu Kahlil. Kamu mau ikut?"
Kahlil. Sawangan. Alangkah nikmatnya bersantai di rumah Kahlil. "Aku…aku mau, tapi, kamu mau bawakan laptopmu agar aku bisa menulis sedikit di sana?"
"Boleh, aku jemput 1 jam lagi, ya?"
"OK, thanks Brahim!"

Rumah Kahlil, kawan seniman itu, sungguh menawan. Aku sungguh tidak pernah bisa puas di sana. Udara cerah hari itu membuat semangatku berlipat ganda. Kubiarkan Brahim dan Kahlil pergi memancing sedang aku dan Bina bertukar percakapan sambil minum es sari buah buatan Bina. Misri, anak mereka berlarian mengejar capung. Ah, anak itu.

Hari itu benar-benar menyenangkan. Aku produktif menulis, Brahim dan Kahlil puas memancing dan kami makan ikan tangkapan mereka. Ikan mas, tidak besar.
***

Perjalanan hidup tidaklah dapat diduga. Pun bila diduga, ada juga cacat dugaan itu. Hanya Yang Kuasa semata yang mengetahuinya. Jodoh ini juga. Aku selalu berkeyakinan bahwa manusia ini dihidupkan melalui rahim ibunya dan kemudian menjadi seorang manusia. Ya seorang. Pikiran fatalis aku berkeyakinan bahwa manusia akan bertanggung jawab sendiri atas dirinya. Dan ia selalu akan sendiri. Maka…bersahabatlah dengan kesendirian. Kalaupun ia pernah bersama dengan orang lain, maka pada saatnya ia akan sendiri lagi. Aku selalu merasa bahwa memang ada kebersamaan akan aku nikmati seluruhnya dan bila aku sendiri lagi, berarti aku benar kembali ke fitrahku lagi, sendiri.

Brahim selalu tidak pernah percaya itu, ia bilang, "Tidak mungkin kita manusia selalu sendiri, Vaya." begitu dia bilang. Namun, memang demikian adanya. Aku bisa bersama Brahim pada masa-masa kami memang bertemu. Namun setelah itu, tetap masing-masing pulang ke rumah dan sendiri lagi. Sendiri.

Ah, lama sekali Brahim. Mestinya ia sudah ada di sini sepuluh menit lalu. Aku termangu-mangu melihat udara di luar, awan menggulung dan angin membuat pohon-pohon di luar sana bergoyang keras. Hujan akan turun sebentar lagi. Brahim, kemanakah dikau? Musik klasik andalan Kafe ini tetap mengalun, kali ini, Vivaldi, The Four Seasons-nya.

Angin masih memainkan pepohonan dengan kencangnya… ini sudah lebih dari 20 menit aku di sini. Brahim…kemanakah dikau? Tiba-tiba, seorang pelayan mendekati aku dan memberitahukan ada telepon untukku. Aku terhenyak mendengar berita yang baru saja kudengar. Kubayar segera dan aku bergegas mencari taksi. O Tuhan, berilah kekuatan.

Brahim terbaring di atas dipan, sendiri. Aku termangu. Selang-selang melekat. Bunda menangis dalam pelukan Ayah. Aku masih termangu. Tuhan, tolong Brahim! Tolong dia, Yang terkasih! Bilapun Kau ambil dia, tolong dia, kumohon, biarkan ia tidak terlalu sendiri, temani ia Tuhan.
***

Bunda memeluk Ayah tak lepas-lepasnya mengiringi Brahim ke peraduannya terakhir. Kutatap tanah merah menggunung. Dalam hatiku Brahim, engkau masih berada di sini. Brahim, sayangku, engkau kan sendiri, memang benar, kesendirian memang tidak pernah mutlak. Kita akan selalu bersama-Nya, bersama-Nya… berdua. Kekasih kita yang terkasih memang tak pernah membuat kita sendirian. Brahim, dalam kasihmu yang kau bagi selama kita bersama, aku berterima kasih atas segalanya. Kegigihanmu atas keberduaan-mu sungguh membuatku tersadar bahwa, kita memang tidak pernah sendiri. Bunda tetap berada di sisi Ayah, Ayah tak lepas memeluk Bunda. Ia tetap tegar, sedang Bunda, ia tetap menahan tangis. Brahim memang hanya sendiri dilahirkan Bunda, tanpa ada lagi kawan.

Mama dan Papa berdiri di antara mereka dan aku. Kami ditinggalkan para kerabat sudah. Senyap mengiringi dialog kami dengan Brahim. Brahim sendiri.
Selamat jalan, Brahim.
Jakarta, 2 Juni 2001
***

 

ceritanet
©listonpsiregar2000