ceritanet                              situs karya tulis,  po box 49 jkppj 10210 
edisi 149
jumat 010208

memoar Independen kami dan Soeharto
(berkuasa 1966-1998, hidup 1921-2008)
Liston P. Siregar

Tahunya 1994, ketika 3 majalah mingguan --Detik, Editor, dan Tempo-- dibredel. Di depan Departemen Penerangan, sekitar 500 meter dari Istana Merdeka --yang di jaman Soeharto steril dari pejalan kaki-- seratusan wartawan berunjuk rasa. Sebagian wartawan Detik dan Tempo --walau cuma satu dua wartawan Editor yang menonton sambil menjaga jarak-- juga ada segelintir wartawan harian dan mingguan lain plus wartawan kantor berita asing, yang meliput sekaligus mendukung. Tahun-tahun di puncak kekuasaan Soeharto itu, unjuk rasa masih langka, dan unjuk rasa di kawasan Lapangan Monas lebih langka lagi.

Achmad Taufk 'Opik' --yang sudah lebih berani mendirikan Forum Wartawan Independen FOWI di Bandung sebagai tandingan Persatuan Wartawan Indonesia PWI-- langsung turun dari Bandung. Tri Agus 'Tass' yang sudah lebih dulu menerbitkan Kabar Dari Pijar tanpa SIUPP ikut bergabung. Juga ada Eko 'Item' Maryadi yang mulai menerbitkan Kompak --juga tanpa SIUPP-- yang dituding Bob Hasan --koruptor yang akrab dengan Soeharto-- sebagai kependekan dari KOMunis PAsti Kembali.

Semangat tinggi, idelisme kokoh, dan fisik masih kuat. Harmoko --yang menandatangani pembredelan ke 3 mingguan sebagai Menteri Penerangan dan sekaligus menjadi orang yang menjijikkan bagi anak-anak muda yang bercita-cita jadi wartawan independen-- jelas cuma lawan remeh temeh. Sama wartawan gadungan yang tak punya otak dan cuma jago jilat-- saja kok takut. Tapi sebenarnya banyak yang membidik Soeharto, dengan sasaran antara Harmoko.

Unjuk rasa 3 hari di Departemen Penerangan dan Kantor PWI berjalan lancar. Intel bersebaran, tapi jaman itu semua orang tahu yang mana intel dan polisi berseragam. Di depan kantor PWI sempat terjadi perdebatan kecil, ketika mobil Jakob Oetama, yang keluar dari kantor PWI ditendang wartawan Radio Hilversum. Satu dua wartawan kelompok Gramedia menganggap tendangan itu tak layak dan tak relevan, tapi sebagian besar tertawa lepas. Tahun itu Jakob Oetama masih jadi anggota Dewan Pers dan menerima keputusan pembredelan serta menginstruksikan hanya satu berita kecil tentang pembredelan di koran miliknya, Kompas. Tendangan ke pantat mobil BMW jelas tak cukup melampiaskan kekesalan, tapi cukuplah melepas ketawa renyah di hari-hari yang panas itu.

Keyakinan makin besar dan berita menyebar ke jaringan pro-demokrasi. Unjuk rasa menentang bredel 3 mingguan menjadi salah satu pijakan bagi seruan demokrasi, menjadi salah satu ujung tombak perlawanan terhadap Soeharto. Namun pada hari ketika unjuk rasa bukan terbatas oleh kalangan wartawan --ada pegiat HAM Hendardi maupun seniman pro-demokrasi Semsar Siahaan-- terlihat puluhan pria rambut cepak berseragam oblong hitam dengan celana loreng. Masalahnya serius karena militer yang dikerahkan walau hanya berbekal pentungan dan tameng plastik. Begitu pengunjuk rasa berkumpul, pasukan anti huru hara mengejar dan memukuli semua orang di depan kantor di sekitar Lapangan Monas. Tak ada ampun selain daerah itu harus bersih kembali dari pengunjuk rasa.
***

Di sebuah rumah kos di kawasan Palmerah, Jakarta Selatan, belasan wartawan berdesakan menggelar rapat. Unjuk rasa sudah tidak mungkin, tapi semangat masih tinggi dan dibentuklah Aliansi Jurnalis Independen, yang baru dideklarasikan beberapa bulan kemudian; 7 Agustus 1994. Malam itu diputuskan mencari kantor. Esoknya saya dan Santoso langsung membeli beberapa koran, menelusuri iklan kecil kontrakan, berkeliling Jakarta Pusat dan sekitarnya. Kantor harus di tengah kota supaya dekat dari kantor para wartawan dan harus punya telepon.

Kami menemukam sebuah flat di rumah susun Tanah Abang. milik sepasang karyawan Departemen Penerangan. Sampai sekarang masih terkenang wajah riang keduanya di ruang tamu mereka. Kami --begitulah penjelasan saya dan Santoso-- adalah para wartawan muda yang akan menggunakan flatnya untuk diskusi bulanan. Bagaimanapun tampaknya yang membuat kedua karyawan Departemen Penerangan itu senang adalah bayaran sewa 6 bulan di depan. Mereka tidak tahu --atau memang tidak perduli-- kalau flat dengan satu ruang tamu, satu kamar, satu dapur, dan satu kamar mandi itu menjadi landas pacu untuk melancarkan serangan total terhadap bosnya.

Di kantor Tanah Abang itulah Majalah Independen diterbitkan --setelah beberapa nomor awal terbit dari Bandung-- juga perencanaan deklarasi Independen disiapkan, lengkap dengan urusan perlawanan lain. Termasuk diantaranya penjualan buku terlarang --walau tak terlalu jelas sebenarnya kenapa buku Sejarah Pers Indonesia saja bisa sampai dilarang-- maupun pengerahan massa untuk pengadilan gugatan Tempo di PTUN. Jantungnya adalah penerbitan Independen, bukan sekedar tanpa SIUPP juga dengan isi lugas tanpa sensor --dari dalam maupun luar redaksi-- plus sedikit kandungan kemarahan walau tetap berpegang pada prinsip jurnalistik utama; cek dan recek.

Tahun itu sebagian besar anggota AJI masih bekerja sebagai wartawan di media masing-masing dengan reportase, wawancara, atau mencegat pejabat pemerintah. Bedanya ada pertanyaan atau angle khusus untuk Independen, yang tak akan mungkin diterbitkan redaktur masing-masing. Metode gerilya inilah yang membuat kualitas jurnalistik Independen tak kalah dengan media berSIUPP, atau bahkan bagi beberapa orang lebih baik karena memilih berita dengan logika jurnalistik, bukan dengan kepatuhan pada Pers Pancasila, kepatuhan pada Soeharto.

Masih ada lagi sumbangan rancang sampul yang memukau dari seniman Tisna Sanjaya, Agus Suwage, Herry Dim dan Pri S, serta pilihan foto berita dari Idon, yang masih punya akses ke dokumentasi foto Detik. Independen memang tidak pernah berniat sebagai buletin perjuangan yang terbatas untuk kalangan pro-demokrasi, tapi sebuah media massa dengan jangkauan khakayak umum walau memang bersemangat perlawanan.

Dan responnya menggembungkan semangat. Pada satu hari saya dan Danang --staf AJI yang belakangan diganjar 2,5 tahun penjara karena membantu Independen-- berkeliling naik motor Honda Tiger cicilan Santoso di Majalah Forum-- untuk menyebar Independen, termasuk ke salah satu kantor di Gedung Metropolitan dan Gedung BCA di Jalan Jenderal Sudirman, juga ke salah satu rumah di kawasan Kemang maupun di salah satu pojok Permata Hijau. Kami tak berniat mengembangkan profil mereka, yang membalas faksimil langganan yang disebar ke berbagai nomor telepon. Di Independen juga jelas ada alamat redaksi, telepon, dan nomor rekening

Salah satu yang masih kuingat adalah di salah satu koridor di dekat lift, entah di Gedung BCA atau Metropolitan, seorang karyawan muda berkaca-mata menerima Independen edisi terbaru, memberi amplop dan memintaku menunggu. Tak lama dia keluar bersama dua kawan, yang mendaftar jadi pelanggan baru. Gerak-gerik mereka dan kami yang bersuasana rahasia membuat semangat kami makin menggelembung. Ternyata, bukan hanya kami yang punya semangat melawan cengkraman rejim Soeharto.

Hari yang lain, Item dan Danang yang bertugas mutar. Dan ada juga hari Santoso bersama Danang yang berkeliling walau sempat masuk got, persis setelah Santoso, menurut Danang, melepas nasehat supaya berhati-hati naik sepeda motor. Itu adalah salah satu dari berbagai cerita yang membuat pergerakan menjadi manusiawi, bukan sesuatu yang heroik tapi kaku.

Pesatnya penyebaran Independen membuat liputan meluas ke demokratisasi politik. Walau sebagian anggota AJI masih tetap yakin perjuangan sebatas pada kebebasan pers, semangat dan mimpi sudah melompat lebih jauh ke depan. Laporan utama Independen bukan sekedar kebebasan pers, juga laporan tahunan tentang kondisi HAM Indonesia, tentang Soehato yang tak suka sama Wismoyo, atau tentang Habibie dan Timor Timur. Waku itu Harmoko waktu itu sudah tumbang KO, sedang Soeharto --yang sepertinya menjadi musuh personal dari masing-masing orang AJI-- masih segar bugar. Tapi jelas Soeharto tak membungkam mimpi kami.

Sudah diduga bahwa tinggal soal waktu saja. Jatuhnya pada tanggal 16 Maret 1995; polisi mengepung acara halal bil halal AJI di Hotel Wisata. Tiga orang ditangkap bersama Sri Bintang Pamungkas. Satu lagi, Item, ditangkap saat penggrebekan kantor AJI di Tanah Abang. Tengah malam, Opik, saya, dan Sri Bintang Pamungkas pamit dari petugas piket Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia. "Besok datang lagi Pak," ujar kami kepada petugas piket dan melengganglah kami keluar. Kami bertiga bubar pulang, tapi subuh itu juga Opik ditangkap lagi.
***

Minggu 28 januari 2008, giliran hari liburku --setelah putaran rota kerja beberapa pekan. Kunikmati kemalasan beberapa saat di tempat tidur sebelum ikut sarapan dengan istri dan kedua anak. Istriku membaca SMS; Soeharto mati. Aku telepon bos dan tak perlu masuk kantor, jadi kami teruskan dengan obrolan ngalor ngidul tentang Soeharto. Kedua anakku jadi pingin tahu. "Bekas presiden Indonesia meninggal," jawabku menghaluskan kata mati untuk mereka berdua, walau yang sulung --berusia 12 tahun-- sudah tahu kalau Soeharto adalah koruptor.

Tapi putriku yang berusia 9 tahun bertanya; "Kau sedih?"
"Ah nggak."

Sebenarnya ada rasa sedih, sedih menerima urusan peninggalan Soeharto yang akan dilupakan, sedih melihat pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan Soeharto sebagai pahlawan total, dan sedih menyaksikan media sudah melupakan kekejaman Soeharto dengan liputan tanpa konteks sejak dia masuk rumah sakit.

Tiga puluh dua tahun berkuasa dan digulingkan, jelas membuat seseorang tidak mungkin berwajah satu. Soeharto bisa pahlawan dan sama bisanya penjahat kemanusiaan. Saya memilih yang terakhir, persisnya penjahat yang bebas dari hukum.
***

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

memoar Gumaman terhadap Soeharto
R. Yando Zakaria

ceritanet©listonpsiregar2000