ceritanet                              situs karya tulis,  po box 49 jkppj 10210 
edisi 149
jumat 010208

memoar Gumaman terhadap Soeharto
(berkuasa 1966-1998, hidup 1921-2008)

R. Yando Zakaria

Akhirnya jemu juga saya menonton dan mendengarkan reportase berbagai televisi swasta dan pemerintah seputar kematian mantan RI 1 itu. Padahal baru berlangsung sekitar 2–3 jam saja. Ketidakberimbang berita menjadi pangkalnya. Saya tidak tahu persis mengapa bisa seperti itu.

Padahal, siapapun tahu bahwa pernyataan berhenti menjadi presiden di tengah jalan, pada kurun waktu yang tak terlalu lama setelah secara aklamasi dipilih menjadi presiden untuk ke-7 kalinya adalah sesuatu yang ganjil. Lebih dari itu, peristiwa itu diikuti pula oleh keluarnya perangkat hukum setingkat TAP MPR, yang pada intinya memerintahkan negara untuk mengusut kesalahan-kesalahan Soeharto dan kroni-kroninya. Dalam hal ini adalah yang berkaitan dengan kasus-kasus KKN, suatu pendefenisian kesalahan yang relatif ringan ketimbang apa yang diinginkan –tepatnya tuntutan-- kelompok-kelompok oposisi utama. Mereka, misalnya, korban konflik politik pada tahun 1965.

Dan kita pun semuanya tahu bagaimana perkembangan proses hukum tersebut hari ini. Betapapun, ada sesuatu yang tidak dapat dianggap ringan, yang mengganjal keberjasaannya (jika memang berjasa). Apalagi kepahlawanannya (kalaupun memang pahlawan). Ada titian bernama hukum yang perlu dilewati, yang beralaskan keadilan, kejujuran, dan keterbukaan proses. Dan titian itu dapat mengantar pelintasnya pada 2 muara yang ekstrim berbeda. Politik, memang, bisa membuat kepahlawanan dan pengkhianatan itu terpisah selaput yang begitu tipis.

Bukankah terlalu pagi --kecuali karena alasan tak terpuji tertentu-- untuk memilih salah satu di antaranya saat ini? Memilihnya di tengah tipu muslihat teknis hukum yang makin menjengkelkan saja dari hari ke hari.

Dilema antara memenuhi keingintahuan lebih jauh dan kejengkelan yang disulut berita tak berimbang di pihak lain itu, akhirnya terpecahkan oleh keharusan memenuhi sebuah janji. Saya dan keluarga pun keluar rumah. Sampai di tujuan, di sebuah pertokoan, pengunjung --umumnya-- seolah tidak peduli dengan apa yang berlangsung di acara televisi. Hanya penjaga toko yang berkerumun. Ini berbeda jika ada siaran langsung Liga Inggris, misalnya. Bahkan Liga Indonesia yang terus ricuh. Setidaknya, mereka umumnya melihat televisi jika memang terlihat dari tempatnya berada. Tidak ada upaya khusus untuk mendekati layar kaca. “Tetapi, boleh jadi ini gejala awal saja. Kejadiannya kan memang baru saja berlangsung... Mereka belum ngeh saja apa yang terjadi. Tapi, televisi-televisi itu?”

Pada saat tengah membatin itulah masuk SMS dari seorang kolega. Begini tulisannya: “Yang  baru meninggal ini adalah penjahat kemanusiaan, di mana lebih dari sejuta orang dibunuh, di penjara dan dibuang tanpa pengadilan, dan sebagian besar masih menderita sampai sekarang. Di Jerman yang modern dan demokratis pun, menunjukkan respect pada Hitler adalah sebuah aib bahkans ebuah kejahatan. Karena bagi penjahat kemanusiaan, di dunia ini tidak ada ampunan. Kakek-kakek pikun eks Nazi sekalipun akan terus diburu ke seluruh dunia hingga sekarang. Dan dunia yang beradab bisa memahami itu.”

Ya, teman saya itu benar!

Tidak saja substansinya, tapi juga tindakannya. Masyarakat harus punya alternatif sumber informasi yang lain. “Saya harus melakukan sesuatu,” teriak saya dalam hati. Dengan fasilitas edit yang ada, SMS awal tadi saya tambahkan dengan kalimat: “Masih ada proses hukum yang harus diselesaikannya. Tolak pengibaran perintah pengibaran bendera setengah tiang. Cukup mengucapkan Innalillahi Wainna Illaihi Rojiun.”

Tidak kurang dari sekitar 200 nomor handphone yang saya kirimi. Secara geografis, tersebar ke seluruh negeri Indonesia, meski tidak dalam frekuensi merata. Tentu, utamanya adalah kenalan/teman segenerasi, atau sedikit lebih muda atau lebih tua. Bahkan ada yang masih terhitung remaja. Beberapa adalah juga anggota keluarga sendiri.

Meski saya tak mengharapkan respons balik atas SMS massal saya, beberapa diantaranya tetap saja memberikan respons. Dan saya catat, tak ada yang saya abaikan.

Sekedar pemberi nuansa, beberapa diantaranya saya berikan indikasi identitas. Yang tidak disebut, dapatlah dikategorikan pihak segolongan dengan pribadi saya. Artinya beraktivitas dalam dunia yang relatif sama. Umumnya adalah teman-teman yang berada di jaringan organisasi non-pemerintah (Ornop), atau sekedar teman sepermaian belaka. Beberapa di antaranya adalah dari pihak keluarga dan tetangga. Meski, harus segera dicatat, tak mesti disimpulkan kami memiliki kesamaan visi dan misi. Apalagi ideologi.

Seperti niatan semula, mungkin hal ini baik juga sekedar pembanding bagi sumber-sumber informasi utama yang ada. Tentu, bukan maksud untuk menyimpulkan sesuatu yang amat kompleks ini. Apalagi kesimpulan yang menggeneralisasi. Setidaknya, saya berbagai tentang apa yang yang saya miliki, yang pasti sangat subjektif.

Selamat membaca. Boleh juga menyebarkannya. Salam.
***

Dunia ini adalah panggung sandiwara...Apalagi kita-kita yang hidup di Indonesia. Kita hidup dalam satu lingkaran bola api alias lingkaran setan. Jadi susah kita mengatakan mana yang benar, mana yang salah, karena 'kebenaran’ hanya milik Allah SWT. Keadilan hanya Allah SWT yang punya. Sementara kebenaran dan keadilan yang kita gaungkan hanya bersifat temporer karena dasar pijaknya yang tidak jelas. (Mantan teman SMA yang sudah tidak pernah bertemu lebih dari 25 tahun, kecuali SMS dalam 3 buan terakhir.

Hee...hee...Sori...Anda tidak sendiri. Sebelum anda kirim SMS, aku udah laksanakan. Anda tidak sendiri kawan. Ada gelombang & getaran yang sama. Ya, reaksi kita sama. Thx. (Peneliti senior di sebuah lembaga penelitian di Universitas terkemuka)

Kami setuju. Dia harus bertanggungjawab atas kekerasan yang terjadi.

Tidak suka tidak usah mencela. Sekarang urus diri anda sendir,i anda belum tentu. (Seorang supir taksi di Jakarta)

Sip. Setuju SMS lu. Sebaiknya kita kukuhkan saja versi kita: Soeharto sumber kehancuran.

Se7 x 77 x Soeharto memang penjahat kemanusiaan. Terbitkan aja buku R. Sari Dewi & M. Sophian dan lain-lain agar fakta sejarah yang disunat nyambung lagi. Kalau bendera aku memang tak punya. Hee...hee....

Meskipun beliau telah berpulang, namun kejahatan yang dilakukan masih belum dipertanggungjawabkan. Ada banyak hak rakyat yang terampas pada masanya. Kita harus tuntut keadilan demi rakyat dan negeri ini. (Anak korban konflik politik 1965, aktivis sebuah partai)

Amat setuju sangat! (Penulis lepas, penyanyi musik alternatif’)

Mungkin SBY salah redaksional soal instruksi setengah tiang itu. Saya yakin yang beliau masksud adalah: untuk membuat Soeharto wafat, cukup digantung setengah tiang bendera. Sepertinya begitu. Selamat malam dan salam hangat buat keluarga. (Salah seorang anaknya D.N. Aidit)

Tentang hal itu kami kurang sependapat. Jelas manusia biasa ada kurang dan lebihnya.Jadi ada dosa dan khilaf. Perlu kita ambil pelajaran yang baik, yang buruk ditinggalkan. (Seorang Kepala Desa di Bantul, Yogyakarta)

Sepakat!!!

Benar Bung. Tetapi secara kongkrit kita juga musti menyampaikan ini secara terbuka. Moment 7 hari meninggalnya perlu diisi untuk mengingatkan publik. Dari Yogya kita ingatkan Indonesia.

Gue se7. Enak aja dia, 250 ribu orang mati diterjang Tsunami kita. Cuma berkabung 3 hari. Ini kok. Amit-amit. Gak ada deh gue masang-masang bendera. (Wartawan sebuah media Internasional)

Setuju Bang Yando. Kito di Padang lai indak menaikan bendera ½ tiang. Orang acara kematian keluarga kok harus ditanggung uang rakyat? (Dosen Fakultas Hukum)

Hee...hee...Lucu ya? Menurut media (running text) tertulis: “Soeharto meninggal karena multi-orgasme”. Aneh? Di negeri kita masih banyak soeharto-soharto lain dan kita juga menunggu untuk mengucapkan innaillaihi wa inna rojiun lagi... (PNS senior)

Keluargaku adalah salah satu korbannya. Ayah 'hanya’ dipenjara 6 tahun, tak jelas salahnya sebagai orang Bung Karno, tanpa diadili, dan telah merusak hidup keluarga.
Innalillahi Wainnaillaihi Rojiun...(Dosen Senior Ilmu Ekonomi)

Gua bendera aja nggak punya. Gimane kalo gue kibarin kancut butut setiang penuh? (Mantan Sekjen sebuah Partai pada masa pra-reformasi)

Amin...

Gak tepat orang yang kembali ke sisi iblis diberi ucapan innalillahi. (Pengrajin keramik)

Gak salah kirimSMS nih? Apakabar? Sehat-sehat aja kan? (Ibu Rumah Tangga, bekerja di sebuah Yayasan Sosial)

Sepakat Bung!

Terima kasih simpatinya. Alhamdullillah, bendera pun saya belum punya.

Terima kasih mengingatkan. Maksudnya Soeharto kan? Bukan Jusuf Ronodipuro.

Ya. Memang. Kirim ke Amin Rais. (seorang Ibu Rumah Tangga)

Permohonan Ibu Siti Hardianti Rukmana (Mbak Tutut). Atas nama semua anak dan cucu mantan Presiden Soeharto, mohon pengampunan beliau pada masa-masa yang lalu. Sebarkan ke sepuluh teman dan pulsa anda bertambah 500.000 secara otomatis. Sudah terbukti!! Cepat, hanya berlaku hari ini, sampai dengan pukul 23. (Bukan menanggapi SMS saya, dari 081392800406; 28/01/2008- 22: 57)

Memang bangsa yang beradab harusnya tahu mana penjahat dan mana yang bukan. Tapi, sayangnya, negeri ini dikuasai penjahat. Mampusnya seorang penjahat dihormati sebagai pahlawan besar.

Simphony pemaafan ditayangkan TV-TV untuk melupakan rakyat atas tirani Soeharto. Ini siasat kroni Soeharto.

Kita beritakan kepada seluruh rakyat dan teman-teman yang masih peduli terhadap demokrasi (via sms, email, dll.) untuk bersama-sama MENOLAK PENGIBARAN BENDERA SETENGAH TIANG sebagai protes sipil atas belum terbayarnya hutang dosa-dosa politik Soeharto selama 32 tahun. Karena semua TV saat ini mengabarkan kebohongan! Please forward..! (Wardah Hafidz)

Ya. Wong yang diwajibkan setengah tiang kantor pemerintah kok. Rumahku dan Cindelaras bukan kantor pemerintah, kantor rakyat. Bodho nek melu-melu. Trims.

Jangan pernah padam, perjuangan terus berjalan.

Begitukah Bang. SMSnya sudah disebarkan ke beberapa teman. Di mana posisi saat ini?

Yang harus dibaca: perangkat hegemoni mereka masih kuat. Respons massa atas peristiwa ini adalah ukuran mereka untuk came back di 2009. Tidak harus dengan profil lama, bisa dengan muka baru. Amati saja bagaimana peralihan nama kepemilikan modal, seperti kepemilikan modal di industri media. Bagimanapun politik adalah representatif kelas yang berkuasa. Sayangnya, kita hanya mengamati secara ‘kasuistik’ saja dan konsolidasipun hanya ditingkat ‘isu’. Ya, begitulah... (Dosen salah satu universitas di Yogyakarta)

Sepakat... Setidaknya mati bukan jadi alasan untuk menjadi bersih. Tapi sudahlah, biarkan Allah yang akan menghukumnya kelak. Salam...

Yup! Setuju 1.000.000%

Orang Indonesia baik hati dan berhati mulia memaafkan kesalahan dan satun mengingat kebaikan. Luar biasa....

Saya setuju Mas Yando. Uang rakyat kembalikan + biar Tuhan mengadili almarhum di akhirat. Keluarga besar jangan sampai merasa bangga dengan jasa-jasanya, tetapi harusnya malu (Seorang sekretaris, Ibu Rumah Tangga)

Hee...hee... Almarhum Bokap gue sampai usia 65 baru dapat KTP seumur hidup tanpa cap ex TAPOL. Sampai akhir hayat, kasus lama itu tak jelas. Posisi gue jelas kan: korban  HAM juga (Seorang konsultan)

Semoga pengadilan sesungguhnya dilakukan di atas sana. Semoga staf Tuhan tidak korup .
Soeharto adalah diktator kriminal, bukan pahlawan bangsa. Tolak pengibaran bendera setengah tiang! Terus usut dan adili para kroninya! Please forward...

Korban 65 kemaren Munas. Setelah pro-kontra selama 24 hari, baru sepakat bisa masuk hari ini. Jakarta macet banget. Rombongan arwah Tanjung Priuk, Semanggi dan Jln. Diponegoro lagi buat pagar betis.

Yang berpulang, biarlah berpulang. Urusan begikutnya adalah rahasia Allah semata. Yang masih bernyawa, hiduplah dengan damai, lesapkan dendam. Rasa kebangsaan dan kemanusiaan tak perlu berwujud hujatan. Masih sangat banyak hal lain yang perlu dilakukan. Pahala buat kita, manfaat buat bangsa.

Tetap harus bertanggungjawab terhadap kemanusiaan... (Ilmuwan politik)

Jadi, numunsewu, gak ada bendera ½ tiang di rumah kami Pak.

Tolak...!

Selamat ulang tahun Bos! Kasus Soeharto memang ujian yang tidak pernah berhasil kita lewati dengan baik. Apakah tidak sebaiknya instruksi menaikkan bendera ½ tiang kita ganti dengan menaikan bendera putih?

Pak Yando, saya juga heran lihat betapa publik sangat cepat memaafkan. Media berperan besar untuk ini (Praktisi media massa/inhouse magazine)

Benar! Penting untuk kita menjawab tegas, agar anak-anak kita nggak jadi generasi bingung!

Ngapain susah-susah pasang bendera setengah tiang. Hak kepahlawanannya sudah hilang, malah defisit (Dosen sebuah universitas swasta)

Tipuan propaganda media massa bukan hanya dilakukan pada saat awal Soeharto & Orba mulai berkuasa tahun 1965. Namun hingga kematiannya melalui berita di TV. Para kroni dan keluarga Soeharto melakukan tipuan terhadap rakyat, seakan-akan penjahat kemanusiaan & koruptor Soeharto menjadi pahlawan yang berjasa bagi negara dan rakyat (Mantan anggota DPR RI, periode 1999 – 2004, dari salah satu partai).

Trims, Bang. Di rumah saya pun tidak pasang bendera setengah tiang!

Setuju Pisan Aing Mah.
***

Yogyakarta, 30 Januari 2008, 13.50.

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

memoar Soeharto dan Independen kami
Liston P. Siregar

ceritanet©listonpsiregar2000