ceritanet                              situs karya tulis,  po box 49 jkppj 10210 
edisi 148
kamis 170108

cerpen Negeri Makian
Martha Andival

“Pembunuh!!”
“Pembunuh!!”
Aku terdiam. Suara-suara itu begitu memekakkan telinga. Andaikan dapat menjerit tentu aku akan menjerit. Tetapi suaraku tersekat di tenggorokan.  Mungkin sehari lagi, seminggu atau bahkan setahun lagi aku akan mampu berteriak dan menjerit.

“Pembunuh!!”
“Pembunuh!!”
 “Bukan….., aku bukan pembunuh……!!!”
“Dorr…..! dorr……! dorr….!!”
“Dorr…! Dorr….!!”
Manusia-manusia ini telah menumpahkan darah kami. Membasahi negeri kami yang termaki,  termaki oleh orang-orang yang merasa dirugikan.

**Ah…"
Andaikan ayahku ada di sini, tentu aku akan dapat melihat rona wajahnya. Apakah ia akan terkejut dengan kata-kata itu, atau hanya diam seribu bahasa. Aku ingin tahu.

Guratan-guratan wajahnya kian mengiris hatiku. Begitu lama ia meninggalkan kami. Membiarkan kami hidup dalam negeri yang penuh gejolak. Andaikan ia mengetahui betapa kami merindukannya, betapa kami ingin melihat senyum dan tawanya, betapa kami merindukan dekapan hangatnya. Aku tidak tahu apakah ia merasakan seperti apa yang aku rasakan saat ini.

Aku lelah, tidak sanggup lagi melangkah dan berkata. Ayah, tahukah ia, bahwa aku tidak sanggup lagi mendengar dan menenangkan gejolak-gejolak jiwa dan celoteh-celoteh rindu dendam adikku.

“Bang, Ayah kemana? Kenapa tidak puyang-puyang!! Bang kita pelgi cali Ayah yuk. Adam linduuu cekali cama ayah.”

Aku lelah, tidak sanggup menenangkan tangis dan jeritan hati Emak. Aku tidak sanggup menenangkan bathin  mereka berdua. Ayah, pulanglah...

“Pembunuh!!”
“Pembunuh!!”

Aku terdiam. Suara-suara itu semakin keras menghunjam jiwaku yang semakin kering dan gersang.  Ingin rasanya aku berteriak, tetapi suaraku kembali tersekat oleh sebuah beban yang sangat berat, hanya hatiku yang berbisik. “Pembunuh!!”

Aku sadar, aku tidak akan mampu bertahan lama. Aku tidak sanggup hidup dalam negeri yang penuh dengan darah dan jeritan ini.

Ayah...jemputlah kami, jangan engkau biarkan kami terpasung dalam barisan manusia-manusia yang haus darah itu. Jangan biarkan air mata kami menjadi darah. Aku lelah, ayah. Sudah begitu lama kami menunggumu.

Ayah...apakah engkau tidak merindukan kami. Emak, apakah engkau telah melupakan belaian kasihnya dikala engkau lelah. Ayah, air mata Emak sudah mengering hanya untuk selalu mengingatmu, mencintaimu. Lidahnya kelu untuk dapat selalu berucap tentangmu, berucap tentang cintanya padamu, Emak pun tidak sanggup lagi, sama seperti diriku. Perasaan kami hancur, bukan karena marah, tetapi karena menahan rindu, memendam cinta kepadamu.

Ayah, apakah engkau juga tidak merindukanku. Emak kata, aku mirip sekali denganmu dan apakah engkau juga tidak ingin melihat anak bungsumu, Adam. Ia kerap menanyakan keberadaanmu.  Ia selalu bernyanyi untukmu dalam puisi-puisi hatinya.

Kami semua menyayangimu, walau manusia-manusia itu membenci dan memakimu, engkau tetaplah ayah kami. Bahtera tempat kami berteduh dan berlabuh. Ayah, auramu begitu kuat kami rasakan.

“Pembunuh!!”
“Pembunuh!!”

Aku tersentak. Suara-suara itu semakin kuat memukul jiwaku yang sudah lama terkoyak. Ingin menjerit, aku tidak sanggup. Hanya air mataku yang mulai berjatuhan. Kelopak mataku tidak mampu lagi menahan desakan-desakan halus dari dalam tubuhku.

Ayah, pulanglah untuk kami. Hapuslah air mata kami. Hanya engkaulah satu-satunya harapan kami, karena kini orang-orang pun telah ikut membenci kita karena manusia-manusia itu. Mereka menghina kita, mencacimaki kita!!. Ayah, jangan biarkan hati kami menjerit karena takut yang kami rasakan. Mata-mata itu terus menerus mengawasi dan menyakiti kami. Kami semakin takut, dunia seperti menyempit bagi kami. Mengapa manusia-manusia itu membenci kita dan mengapa orang-orang itu juga membenci kita. Apa salah kita. Bukankah tanah ini tanah kita, negeri kita. Ayah, jangan biarkan airmataku terus mengalir.

Ayah...andaikan Allah memberiku sepasang sayap seperti burung-burung, maka aku akan terbang  jauh ke angkasa untuk mencarimu. Mengabarkan berita pilu ini kepadamu. Dan seandainya Allah memberikanku kemampuan untuk dapat berbicara kepada angin, tentu aku pun akan meminta padanya agar dapat menerbangkan tubuh ini jauh ke angkasa sehingga dapat mengabarkan berita ini kepadamu. Agar engkau dapat melihat dan merasakan seperti yang kami rasakan.

Tetapi semuanya membisu, kaku. Angin hanya mampu berhembus dan melihat. Begitupun manusia-manusia, semuanya ikut membisu, takut akan kejamnya dunia yang siap mengancam. Hanya kerajaan langitlah yang tahu. Semuanya akan diperhitungkan kelak.

“Pembunuh!!”
“Pembunuh!!”

Ayah, dengarlah jeritan kami ini. Benarkah apa yang mereka katakan, bahwa engkau pembunuh. Ayah, mengapa manusia-manusia itu menuduhmu sebagai pembunuh, sebagai musuh. Aku tak percaya!

Ayah, walau seluruh manusia-manusia yang ada dimuka bumi ini menuduhmu sebagai pembunuh, walau mereka memaki dan menghinamu, percayalah, hati dan cinta kami masih seperti dulu. Tetap untukmu.

Ayah, berjalan dan teruslah berjuang. Tetesan darah dan keringatmu akan menjadi saksi bahwa engkau bukan pembunuh. Engkaulah ksatria, engkaulah pahlawan. Lihatlah, gunung-gunung, sungai-sungai, pohon-pohon, burung-burung, semua akan menjadi saksi dan bersaksi bahwa engkaulah pahlawan yang sesungguhnya. Langit dan bumi akan menjadi saksimu, ayah.

Ayah, teruslah berjalan, merekalah pembunuh. Pembunuh dalam negeri makian ini. Pembunuh dalam negeri jeritan ini.

Ayah pulanglah, jemputlah kami. Bawalah kami bersama cinta dan impianmu. Kami akan setia menemanimu berjuang. Walau berjuta rintangan dan halangan akan menghalangi kita, walau nyawa sebagai taruhannya, kami akan tetap bertahan, tenang bagaikan samudra, tegak teguh seperti gunung.

** Ah..."
Andaikan  Ayah  ada disini, tentu aku akan dapat melihat rona wajahnya. Apakah ia akan terkejut, atau ia hanya diam seribu bahasa. Aku ingin tahu.

Ayah, andaikan engkau ada disini, tentu engkau akan dapat melihat dan menyaksikan tubuh-tubuh kami yang terbaring kaku. Kaku dalam ketakutan dan jeritan hati. Tentu engkau akan melihat darah-darah kami yang membasahi negeri makian ini. Engkau akan melihat dengan mata dan hatimu, bahwa kami telah mengorbankan nyawa untuk negeri makian ini.

“Pembunuh!!”
“Pembunuh!!”
“Pembunuh!!”
“Bukan….., aku bukan pembunuh……!!!”
“Dorr…..! dorr……!dorr….!!”
“Dorr…! Dorr….!!”

Manusia-manusia itu telah menumpahkan darah kami. Membasahi negeri makian yang semakin menjerit.

Andaikan Ayah ada disini, tentu aku akan dapat melihat rona wajahnya. Apakah ia akan terkejut atau hanya diam seribu bahasa. Aku ingin tahu.

“Bang, adam lindu Ayah. Bang...bang...Adam mau pelgi jemput ayah,” airmataku terjatuh. Pandanganku begitu nanar. Hatiku menjerit. “Adam   adikku...pergilah...jemputlah ayahmu. Abang akan menyusul.”

 Kulihat wajah ibuku yang telah terbebas, terbebas dari negeri ini. Semoga ia berbahagia. “Mak, pergi dan bawalah lara hatimu, bersama cinta yang telah lama engkau pendam. Aku akan menyusulmu.”

Ayah, kami pergi medahuluimu. Cinta kami, hati kami, airmata kami, kerinduan kami tetap untukmu. Kami tetap merindukan pelukan hangatmu, Ayah.

Ya Allah Engkau menjadi saksi, aku bukan pembunuh, ayahku bukan pembunuh. Kami bukan pembunuh!!

Ayah, dimanakah engkau kini. Aku tidak dapat meraba selaksa wajahmu lagi. Semuanya gelap.

Ayah...Ayah...

Lailahaillallah...
***
Memories 1991

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

memoar Dia
Ani Mulyani

sajak
Habis Cerita
Moyank

ceritanet©listonpsiregar2000