ceritanet situs karya tulis, po
box 49 jkppj 10210 |
edisi 147 kamis 030108 |
“You pasti disenangi cewek-cewek karena humoris“ tebakku merespon ceritanya, cerita lucu-lucu seputar istri-istrinya. Pastilah dia sedang bergurau. “You mau bilang you keturunan ke delapan?“ tanyaku menggoda. Kali ini kami tertawa bersama. Kemudian, dia melanjutkan cerita tentang istri-istrinya. Dan malangnya, kali ini tidak lucu lagi. “Ada yang mendominasi dan curiga berlebihan,“ keluhnya. Ringkasnya, ada yang damn good di ranbeeb*, tapi nggak mau masak, ada yang tidak memperhatikan penampilan lagi setelah menikah, ada yang malas menjaga berat badan proporsionalnya. Ada yang takut kehilangan karir dan menyerahkan pengasuhan anaknya ke nanny atau pembantu. “Kalau lebih sering berinteraksi dengan pembantu, tentu anakku akan lebih dekat dengan pembantu“ keluh kesahnya semakin panjang, sepanjang jalan Anyer-Panarukan. Aku mendengarkan dengan seksama. Dengan serius. Hanya mendengarkan dan menyingkirkan sifat sok tahuku. Temanku yang lain menginformasikan dia baru saja melahirkan anak kedua. Seminggu lalu temanku yang lain lagi juga mengabarkan hal yang sama. Ketika kemarin pagi aku menelpon temanku yang sudah lama nggak ketemu, dia juga lagi hamil. Mengandung anak keduanya pula. “Rajin banget sih, mbrojol melulu “ Menikah dan punya anak berapa, memang menjadi FAQ (Frequently Asked Question) ketika berjumpa dengan seseorang kalau usiamu sudah lebih dari 30 tahun.
Kami janjian untuk bertemu di dekat pertigaan antara Joo Chiat Road dan Ceylon Lane. Aku memilih tempat itu karena dekat, ada bangunan yang mudah dikenali dan jalannya searah sehingga akan lebih cepat kutemukan. “Wah, kereta baru nih,“ sapaku setelah duduk dan menjabat tangannya. Sampai di café, tinggal satu meja tersisa, tapi alhamdulillah, meja disebelahnya 2 cewek cantik dan bening banget. Jadi pengen cepat-cepat menikah juga. Kuisap rokok selang itu dan kulirik salah satu cewek yang lebih bening; dia sedang mengebulkan asap ke atas mencoba membentuk bulatan tapi tak berhasil. Rasa jeruk kusedot dari selangku dan kubayangkang cewek yang lebih bening itu sedang menghisap tembakau rasa apel. Matanya meredup melepas ekor-ekor asap rokoknya. Tapi rasa apel atau ganja, atau hashish. Ya kalau apel, aku jadi pingin kawin tapi kalau ganja? Kawin tapi menghabiskan detik-detik sisa usiaku di cafe ini sambil menatap langit-langit kosong melepas asap ganja? Aku tak mau ambil resiko. Kusedot tembakau di potku, kuat terasa asam-asam manis jeruk. *** |
sampul |
ceritanet©listonpsiregar2000 |