ceritanet                              situs karya tulis,  po box 49 jkppj 10210 
edisi 147
kamis 030108

komentar Wong Sumsel dan Ikan
T. Wijaya bin M Bachtiar

Kehadiran Sungai Musi di Sumatra Selatan belum diketahui secara pasti sejak kapan, tapi kemungkinan besar sekian ribuan tahun sebelum masehi. Bahkan diperkirakan Sungai Musi lebih dahulu dibandingkan manusia yang menetap di Sumatra Selatan. Namun nama Musi pada sungai yang kini panjangnya sekitar 460 kilometer —dari Barat ke Timur— tidak diketahui sejak kapan digunakan, dan begitu pun artinya atau maknanya. Ada yang memperkirakan nama Musi berasal dari India, sebab ada nama Musi di pusat peradaban Hindu tersebut. Terakhir, ada yang menyebutkan nama Musi berasal dari bahasa Melayu yangberarti ikut atau aliran, seperti yang masih digunakan masyarakat Kayuagung.

Sungai Musi memiliki ratusan anak. Dari sekian ratus anaknya, terdapat delapan yang disebut sebagai sungai besar; Sungai Komering, Sungai Ogan, Sungai Lematang, Sungai Kelingi, Sungai Lakitan, Sungai Semangus Rawas, dan Sungai Batang Hari Leko. Keberadaan Sungai Musi bersama delapan anaknya itu, pada suatu masa membuat Sumatra Selatan disebut sebagai negeri Batanghari Sembilan.

Keberadaan Sungai Musi ini, yang menyebabkan daerah Sumatra Selatan sejak ratusan abad lalu menjadi daerah yang hidup. Dia menjadi sumber kehidupan hewan, tumbuhan, hingga manusia. Jadi, tidaklah heran, di sekitar gunung Dempo, tepatnya di sekitar anak-anak Sungai Musi, pernah hidup manusia dengan peradaban yang cukup maju di jamannya, yang kini terlihat melalui artefak berupa patung-patung prasejarah. Lainnya, di Sumatra Selatan banyak ditemukan sumber daya alam berupa minyak bumi, batubara, dan gas bumi, yang membuktikan di daerah ini pernah hidup tumbuhan dan hewan sejak jutaan tahun lalu.

Selain sebagai sumber kehidupan, saya percaya Sungai Musi digunakan manusia sebagai sumber ilmu pengetahuan. Mereka mengadopsi karakter atau perilaku Sungai Musi, termasuk perilaku makhluk yang lebih dahulu hidup. Buktinya, rupa hewan banyak diadopsi sebagai simbolisasi karakter atau fungsi manusia seperti ditemukan pada patung-patung prasejarah. Bukti lainnya, identitas diri manusia melalui ilmu kebatinan atau bela diri melalui hewan-hewan yang dinilai perkasa, seperti harimau atau gajah.

Dan, kata saya, transformasi karakter hewan atau binatang kepada manusia, sampai sekarang masih berlangsung, terutama makhluk hidup di sekitar Sungai Musi, seperti ikan. Dan karakter manusia di Sumatra Selatan mungkin bisa ditarik dari karakter ikan, terutama terkait cara memakan.

Cara Makan Ikan
Ikan Semah (Tor Douronensis) yang hidup di Sungai Musi bagian Ulu, tepatnya di sekitar gunung Dempo, merupakan ikan dengan tubuh indah. Warna sisik yang putih atau merah keemasan sangat enak dipandang. Mereka cenderung bertubuh besar, suka berkelompok dalam jumlah yang tidak besar dan memakan apa saja.

Lalu, agak ke hilir, ada ikan purba nan buas seperti Ikan Gabus (Channa Striata) dan Ikan Toman (Channa Micropeltes). Ikan yang hidup di sungai, rawa, danau, sawah, hingga di parit-parit ini, juga memakan makhluk hidup apa saja, seperti serangga, ikan kecil, kodok, atau berudu. Jadi, tak heran, Gabus dan Toman menjadi hama bagi komunitas ikan air tawar lainnya. Bahkan Gabus atau Toman yang berukuran besar --dapat mencapai panjang sekitar 1 meter-- juga berbahaya bagi manusia. Dalam sejumlah kasus ditemukan sejumlah tangan atau kaki manusia pernah digigit Toman atau Gabus.

Hebatnya, mereka mampu hidup beberapa menit di darat, tanpa membutuhkan air. Mereka memiliki organ labirin yang mampu mengambil udara secara langsung. Pada musim kemarau, mereka mampu hidup berbulan-bulan atau bahkan bertahun dengan cara berendam di dalam lumpur.

Sama seperti Gabus dan ikan Toman adalah Ikan Betok (Anabas Testudineus). Bedanya, Betok memiliki ukuran lebih kecil, maksimal panjangnya 25 sentimeter. Lalu mereka pun hidup di pinggiran Sungai Musi atau anaknya, seperti di rawa-rawa, kolam atau parit. Betok juga mampu bertahan hidup di darat untuk sekian lama. Bahkan, kecepatan berjalan di darat lebih cepat dari Gabus atau Ttoman. Insangnya digerakan dengan dimekarkan seperti menjadi kaki depan Betok saat bergerak.

Kian hilir, tepatnya pada sungai Musi yang melintasi kota Palembang, kita akan menemukan gerombolan Ikan Juaro (Pengasius). Meskipun ditemukan juga di sejumlah daerah agak ke hulu Sungai Musi. ikan yang masuk ordo Osthariophysi ini termasuk yang paling rakus. Selain memakan ikan kecil, serangga, ikan ini juga memakan kotoran manusia dan buntang. Jadi, Juaro selalu hadir di sekitar manusia.

Selain ikan-ikan di atas, masih ada Seluang Bada (Rasbora Daniconius) dan Sepat (Trichogaster Pectoralis) Keduanya suka bergerombol dan juga memakan apa saja, meskipun tidak sebuas atau serakus Gabus, Toman, Semah, Juaro, atau Betok.

Cara makan ikan-ikan air tawar di Sungai Musi --dan perairan yang dialiri sungai Musi-- bisa ditranformasi kepada karakter manusia. Ada manusia seperti Semah, Ggabus, Ttoman, Betok, Seluang Bada, atau Ssepat. Karakter yang ditekankan pada cara mencari makan atau profesi dalam kehidupan kekinian.

Manusia ikan
Manusia yang berpenampilan menarik, anggun, mempesona banyak orang, dan suka pamer, tapi memakan apa saja --sehingga membuat kejutan karena kontradiksi penampilan dan cara makannya-- dapat dibaratkan Semah. Kelemahan manusia ini, sama seperti Semah, mereka gampang ditaklukan, lantaran tidak jagoan, atau hanya mengandalkan daya tarik fisik.

Lalu, yang suka menunjukkan dirinya jagoan dan memakan apa saja. Kian besar kian rakus dan kian jagoan, serta tidak peduli dengan penampilan maupun lingkungan. Inilah manusia Gabus atau Toman. Manusia ini tidak membutuhkan komunitas, tapi pengakuan bahwa mereka harus ditakuti. Manusia seperti ini sulit ditaklukan; mereka dapat hidup meskipun lingkungan yang didiaminya dalam kondisi sulit.

Manusia yang rakus, jagoan, dan hidup dalam kondisi apa pun, tapi tidak mau menunjukkan dirinya kepada banyak orang, dapat diibaratkan seperti Betok. Manusia jenis ini pun tidak peduli dengan penampilan diri maupun lingkungan tempat hidupnya.

Kemudian, manusia yang senang bergerombol, tambeng, makan bersama, dan sekaligus makan apa saja, termasuk jenis Juaro. Manusia jenis sulit sekali dimusnahkan, sebab meskipun tidak jagoan, mampu mereproduksi dirinya. Mereka tahan terhadap segala jenis arus, suara, dan limbah atau racun perkotaan.

Sementara komunitas yang jauh lebih lemah dari Juaro, adalah Seluang Bada. Apapun jenis makanan yang diberikan akan diburu komunitas ini, meskipun hanya segumpal air ludah. Tapi komunitas ini tidak mau atau berani tampil di muka umum dan hanya main di pinggiran. Mereka ini mungkin bisa masuk jenis Sepat.

Jadi, karakter manusia bisa sebangun dengan cara makan ikan yang hidup dari air Sungai Musi, dan secara moral tidak dapat dibanggakan. Selain memalukan, juga menjadi parasit, mengancam keberadaan manusia lain.

Tapi apakah manusia yang hidup di Sumatra Selatan semuanya meniru cara makan ikan di sekitar dunianya, atau ikan-ikan yang meniru cara makan manusia?

Entahlah, namun ada fenomena manusia transisi di Sumatra Selatan memiliki kesamaan dengan karakter ikan Sungai Musi, setidaknya dalam cara makannya. Karakter yang paling menonjol yakni tidak atau malas berbagi dengan orang lain. Kecenderungan menikmati yang didapat secara individu, meskipun makanan didapat secara bersama-sama seperti halnya Juaro, Seluang, atau Sepat. Bahkan, tidak akan berhenti sebelum makanan habis dilahap.

Dari yang berpenampilan yang menarik maupun berpenampilan buruk, dari yang jagoan maupun yang penakut, semuanya memburu makanan dan demi kepentingan pribadi. Tidak peduli makanan halal maupun tidak halal. Tidak jarang mereka pun memakan kawan atau anaknya, seperti Gabus dan Ttoman.

Makanan Kapitalis
Tapi semua jenis ikan Sungai Musi enak disantap. Bahkan, Juaro --yang suka makan kotoran manusia atau buntang-- dipercaya paling enak dibanding ikan-ikan lain. Yang harus diperhatikan adalah cara menangkap atau menyiangnya, yang jelas berbeda dengan cara menangkap Ikan Mas atau Ikan Mujair.

Maka, seganas dan serakus apa pun manusia di Sumatra Selatan, sejak dahulu gampang ditaklukan para pendatang, yang mengerti karakter mereka. Umumnya dengan cara diracuni, ditipu, atau lewat kelembutan. Jarang sekali manusia Sumatra Selatan ditaklukan dengan cara-cara kekerasan. Ini terbukti dengan kuatnya pengaruh ajaran Budha dan Islam di Sumatra Selatan. Mereka masuk dengan cara lembut, menyejukkan, sehingga manusia di Sumatra Selatan menerima dua ajaran tersebut. Berbeda dengan kekuatan Hindu yang cenderung datang dengan kekerasan, dan tidak mampu bertahan lama di Sumatra Selatan.

Cara ini pula yang dilakukan VOC dan kolonialis Belanda. Setelah letih dengan cara-cara kekerasan, mereka pun menawarkan konsep damai atau bahkan menampilkan karakter orang baik buat menguasai manusia di Sumatra Selatan. Hanya dengan cara memberi gaji, pangkat, atau gaya hidup ala Eropa, manusia di Sumatra Selatan rela membubarkan simbol kekuasaan mereka sebelumnya.

Saya percaya manusia di Sumatra Selatan hanya dapat ditaklukan oleh kekuatan kapitalis, dibandingkan kelompok fundamentalis. Mengapa? Sebab hanya kekuatan kapitalis yang memiliki kemampuan bermain lembut, dan menipu. Dengan cara mengusung isu demokrasi, kemanusiaan, kekuatan kapitalis lebih dapat diterima. Apalagi, kaum kapitalis paling pintar menjanjikan makanan enak atau gaya hidup enak. Sementara kelompok fundamentalis yang berkarakter keras lebih sulit menaklukan manusia di Sumatra Selatan. Juga mereka tidak mampu menjanjikan makanan enak atau gaya hidup enak. Janji yang diberikan kaum fundamentalis umumnya bersifat jauh ke depan, seperti surga atau kondisi enak di masa mendatang.

Teror Antu Banyu
Tetapi, ada makhluk di Sungai Musi yang tidak dapat ditaklukan siapa pun. Bahkan, beratus-ratus tahun menjadi teror bagi kehidupan di sepanjang sungai Musi. Namanya Antu Banyu yang artinya Hantu Air. Kekerasan maupun kelembutan terbukti tidak mampu menaklukan atau menghancurkan Antu Banyu. Mereka terus mengincar manusia, tidak peduli anak-anak, orang dewasa, perempuan, laki-laki, kaya atau miskin, pribumi atau bule, penjahat atau ulama. Semuanya disantap dengan cara mengisap darahnya melalui umbun-umbun di kepala.

Jadi, kalau Antu Banyu diibaratkan manusia, dia merupakan sosok yang dikenal misterius, sadis, kejam, dan sulit ditaklukan atau ditangkap. Mereka juga tidak suka menonjolkan diri. Tertutup. Selalu muncul sendirian. Tidak bergerombol atau berkelompok seperti ikan-ikan di sungai Musi.

Apakah Antu Banyu merupakan makhluk yang menjaga keberadaan Sungai Musi, atau sama seperti ikan-ikan, hanyalah makhluk yang secara moral tidak pantas ditiru? Kaum agamis menyatakan Antu Banyu merupakan sosok jin yang jahat atau syetan, sementara kelompok positivis menyebut sebagai binatang purba. Sayangnya sampai sekarang sosok Antu Banyu tidak dapat dimusnahkan atau ditangkap, atau dikurung untuk dipelajari lebih rinci. Antu Banyu memang tertutup dan jagoan.

Jadi, mungkinkah Sumatra Selatan memiliki manusia seperti Antu Banyu? Jika ada, merekalah yang abadi menjadi teroris bagi masyarakat Sumatra Selatan, yang tidak tergantung siapa atau kelompok penguasa. Untungnya mereka hanya senang menjadi teroris, dan tidak punya ambisi menjadi penguasa.

Dengan cara makan makhluk hidup di Sungai Musi, bisakah dibayangkan masa depan Sumatra Selatan? Masa depan yang bergantung pada makanan, yang ditempatkan Abraham Maslow di puncak hirarki.

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

memoar Kawin Tidak Kawin Presiden Hayat

cerpen Innerbeauty of The Night
Ronny P. Sasmita

ceritanet©listonpsiregar2000